Beasiswa perintis - sekelumit ambisi.

Tepat di awal bulan mei 2016, aku menjadi bagian dari salah satu event terbesar diprovinsi Banten di mana hanya 52 manusia pilihan yang bisa turut andil setelah beberapa tahap mengikuti seleksi, puncak acaranya di adakan selama beberapa pekan di pelosok provinsi banten yang jauh dari peradaban, hehe.. aku tak pernah takut untuk bersama mereka meski pada realitanya aku jelas tertinggal jauh. Numerik itu bukan duniaku, dan kehidupan disana selalu bergelut akan hal itu. Angka dan cinta, hmm bukan. angka dan rumusnya. selama event itu berlangsung aku tak bisa pulang kerumah dan menjadikan tempat itu sebagai rumah sementara hingga acara selesai, menikmati proses yang ada. Belajar bahwa realitanya hidup jauh dari orang tua itu sulit.   

Saat itu, seluruh calon mahasiswa yang baru lulus SMA selayaknya diriku sedang semangat-semangatnya mengejar perguruan tinggi favoritnya. Dan event ini adalah bagian dari rumitnya jalan sampai pada perguruan tinggi, pasalnya selama disana tugasku dan 51 peserta lainnya hanya belajar, belajar, belajar dan lainnya. Hehe.. nah, lainnya ini mencakup banyak hal, ditempat ini ibadah itu sangat dinomor satukan. Setiap harinya mulai dari tahajud, dhuha, rawatib, dan segala macam sholat sunah kami kerjakan sebab semangat dan motivasi dari seluruh panitia bahwa usaha tanpa ikhtiar itu sama dengan percuma. Hingga puasa senin kamis pun diwajibkan selama kami stay ditempat itu. Tutor-tutor yang dihadirkan juga keren-keren, gak hanya pintar tapi juga tampan. HEHE

Di tempat inilah aku memulai segala ambisiku tentang makna dari sebuah impian, tentang bagaimana caranya menyusun strategi dengan baik untuk sebuah pencapaian, tentang  pertemanan antara 52 orang yang berasal dari berbagai SMA di provinsi banten dan juga tentang hati. Aku juga menemukan diriku, kecintaanku akan menulis pada sebuah acara kecil bagian dari acara ini, mendapat kesempatan menjadikan coretanku yang terbaik, tidak yang terbaik sebenarnya hanya saja aku saat ini memang berniat untuk memulai. Aku tau jelas bahkan ada yang mencintai menulis melebihiku. Cerpen berjudul coretan tentang hati yang menyadarkan diriku bahwa aku memiliki hobi coret-coret tak jelas. Hehe

Bicara tentang ambisi sebenernya ada ambisiku yang gak tercapai, yaps.. yaitu lolos dijurusan Bimbingan dan Konseling Upi Bandung. Hehe syedih tapi aku bersyukur sebab Allah masih mengijinkanku menjejaki pilihan yang telahku buat meski di kampus lain, kampus hijau UIN RADEN INTAN LAMPUNG yang saat ini menjadi almamater kebanggaanku, aku percaya adalah yang terbaik. Lelah menyusun rencana ABCD yang terealisasi malah E. Hehe, yaa skenario Allah memang lebih keren ya dari skenario hambanya. Saat ini, ketika aku menulis.. aku sudah melalui 2 semester dikampus hijau dengan jurusan semakin membuat aku jatuh hati.

Dan satu hal yang sangat aku yakini bahwa setiap anak itu dilahirkan dengan kemampuannya masing-masing. Yaa.. aku memang bukan ahli dibidang numerik seperti ayahku yang tiap harinya berkutik dengan hal yang membosanku itu, jelas menurutku. Tapi setidaknya aku tau bahwa aku memiliki kemampuan lain yang perlu diprioritaskan.

Meski waktu terasa begitu jahat, mungkin bukan waktu tapi aku. Ketika jarak pendidikan dan kenangan begitu jauh semuanya terasa sulit. Aku ingin kembali pada masa itu, ketika menggebu-gebu dalam setiap rencana bersama, ketika berkontribusi sebisaku. Aku ingin, sekali. 



Related Posts: