aku, musyrifah, kawan dan kolam ikan.


Sebut saja dengan halaqah, sebuah lingkaran hati di dalam asrama tempat aku tinggal menjejaki angka 2 tahun ini. Aku yang tak mau terkalahkan oleh aturan akhirnya harus merelakan keadaan tak berpihak dengan egoku. Bahkan ketika titik terkecil harus berbaur dengan campur tangan para musyrifah (pengurus asrama) yang pada akhirnya aku sadari bahwa wajib untuk di ta’dzimi (dihormati). Sejak memahami keberkahan dari  musyrif/ah, murobi/ah serta ustad dan ustadzah adalah hal terbaik ketika aku menemukan berbagai keajaiban di tempat ini, tempat yang tak pernah  aku sadari bahwa aku telah menyepakati garis takdir ini.


Awal semester 3 yang lucu dengan kekosongan di kampus namun waktu justru terasa mencekikku sebab asrama dengan berbagai aktivitas, berbagai event yang mungkin tak mampu ku temui di tempat lain. Aku masih berada disini, untuk satu tahun kedepan atau entahlah... biar Allah SWT yang menjawab segala resah yang tak mampu ku jabarkan. Satu hal yang aku percaya, bahwa when Allah choice can not be wrong.. Aku tak ingin menyalahkan lelah ini, meski aku ingin lari. Aku terkadang bosan namun ini begitu menyenangkan.

Aku ingin mengenalkan seorang musyrifah pada celoteh heningku kali ini, seorang kakak atau bahkan ibu meski usianya tak terlampau jauh dariku. Pun, beliau masih seorang mahasiswi yang sedang menyusun skripsi dengan berbagai problema dan kesibukkannya namun tetap sempat membimbing aku dan mereka dengan tawa di balik penatnya. Seorang yang sering ku bercandai dengan nama suhu yang mengajarkanku ilmu agama, bahasa dan pengetahuan lainnya... U can call her ukhty AFISKA.




Uty afiska, ku haturkan terimakasih untuk beribu detik yang telah lalu, kesalahan yang tak mampu ku ingat dengan jelas mungkin ada yang membekas di balik tawa garingmu. Problematika yang tak pernah usai di halaqah kita ini. Semoga setiap kesabaran dan waktu yang uty sempatkan bernilai pahala dari Allah SWT. Amiien Allahuma Amiien...

Setiap kegiatan halaqah insya Allah akan meninggalkan ilmu serta kesan yang dalam di suatu ketika waktu yang akan datang bersama beliau. Layaknya hari ini, dengan schedule bahasa arab dan halaqah di belakang asrama dengan udara yang beku mulai terkikis perlahan ketika fajar diam-diam mulai terbangun dari lelapnya, serta kabut yang masih berbaur pada pandangan setiap insan menghalau menatap jelas setiap wajah segelintir manusia yang berlari-lari kecil berolahraga. Kami berdiri melingkar saling melempar tawa dengan ekspresi kawan-kawan ketika mempragakan percakapan bahasa arab dengan cerita sedang meminta makan kepada teman sekamar. Hehe... yaa thats is the fach, i think.. tinggal sekamar dengan 4 orang, berbagi makanan adalah suatu keharusan mutlak di pondok pesantren.

Halaqah hari ini tak seperti biasa, kami menutupnya dengan doa di samping kolam ikan milik salah satu ustad yang berada di samping asrama putri 2 sembari memberi makan ikan-ikan kecil yang menyebalkan nampaknya lebih baik untuk dimasak saja menjadi pepes ikan atau ikan goreng di makan dengan sambal juga nampaknya enak. Ah, aku jadi laparr..

Namun jujur saja aku tak berani terlalu dekat dengan kolam sebab kemarin sore baru saja aku tercebur kedalam setelah membaca sejenak di sekitaran kolam bersama handpone dan buku karya JS. Khairen, seorang ketua economica UI. Untung saja buku ini sempat ku hempaskan namun hal paling menyebalkan adalah aku tak dapat menghindari bahwa badan serta HP ku jadi korban. Yah tapi abaikan saja akan hal itu, hal lain yang lebih unik adalah HP ku dapat sembuh dan hidup kembali setelah aku tidurkan dalam beras sehari semalam setelah mendapat saran dari seorang teman. Hehe, yaa percayalah atau mungkin kau bisa mempraktikan dengan menceburkan diri adalah hal pertama yang harus dilakukan.

Kolam, kolam dan kawan. Hehe... halaqahku terdiri dari makhluk yang abstrak, tak jelas itu jelas. Beberapa di antaranya suka tertawa meski terkadang berlebihan, ada di antaranya jarang sekali tutor bahkan jamaah dan sejujurnya aku tak suka perilakunya. Perilakunya saja, aku tak berhak bahkan aku bukan siapa-siapa untuk membencinya. Ada yang berekspresi datar namun menyenangkan, tak tertawa namun nampak lucu dengan kepolosan, dewasa dengan tutur kata yang mendamaikan. Sedang aku??? aku hanyalah manusia biasa yang hobi ngelamun.

Ah.. cukupkan saja celoteh teruntuk hari ini, pun indonesia memiliki minat baca yang begitu kurang. Aku hanya berambisi setiap kata mampu menenangkan untuk diriku saja, jika mampu menembus batas-batas pembaca maka itu adalah suatu kebetulan atau bahkan keberkahan. 

Related Posts: