Gigi Hiu Bukan Gigi Buaya




Meski liburan telah datang, aku kerap berlama-lama di kampung orang. Bukan tak ingin pulang, hanya saja tempat yang aku sebut rumah bukan tempat yang tepat untuk mencari ketenangan. Rumah di mana aku dibesarkan di kerumuni pabrik yang bising, bahkan pabrik seafood yang beroperasi belum lama begitu menyebalkan, selain menimbulkan bau pada  lingkungan sekitar, aku dengar dari kakak sepupuku yang sempat bekerja di sana, pabrik itu sangat menyiksa karyawannya dengan tidak menyediakan waktu sholat ditambah gaji yang pas-pasan, ia hanya mendapat 600rb setelah 2pekan bekerja. Tidak setimpal dengan apa yang dikerjakan. Itu semakin membuatku tak ingin di sana, meski pada akhirnya ingin bertemu orang tua selalu menjadi alasan.

Setelah tak ada kegiatan di kampus, aku menyusun rencana baru. Menghadiri dan merealisasikan agenda komunitas, mendaftar berbagai youth/student exchange, belajar diluar mata kuliahku, serta menghibur diri dengan pergi ke jauh. Aku sering melihat berbagai destinasi menarik di Lampung melalui akun instagram @Lampung.geeh. Banyak tempat yang bisa aku ketahui dari akun tersebut. Di antaranya aku memutuskan untuk pergi ke tempat di mana terdapat karang-karang menjulang di tepi pantai, namanya Gigi Hiu berlokasi di Klumbayan, Pesawaran. 

Namun aku tak mungkin sendiri, aku pergi bersama rekan-rekanku dari Kedondong, Pesawaran. 3 motor trail yang sangat cocok untuk jalan pegunungan mengantar kami. Namun datang ke Gigi Hiu tidaklah mudah, jalanan yang rusak, berkelok, menanjak, dan tentu jauh sekali meski kami memulai perjalanan sedari pagi.

Kakiku rasanya sakit sekali menahan, pinggang terasa pegal. Ah, namun apa kabar 3 manusia yang memboncengi kami tanpa mengeluh. Setelah melewati beberapa jembatan, perjalanan yang sudah memakan waktu 3 jam kami sudah sampai di Klumbayan, namun belum sampai pada tempat tujuan kami. Kami berhenti sejenak di pinggir jalan, lebih tepatnya di tepi jurang. Yang memperlihatkan keindahan laut dan pepohonan rindang, ah.. kami rasanya tak ingin berhenti di sini jika tak ingat tujuan utama kami. Setelah berfoto dan berbagi tawa sejenak kami melanjutkan perjalanan lagi, melewati pohon kelapa di tepi pantai, lalu tak lama sampai pada orang yang menghentikan laju kami meminta uang masuk untuk dibayar. Tiket seharga 10rb saja, beserta parkir motor. 

Dari parkiran ternyata jarak menuju gigi hiu yang katanya keren itu masih mesti ditempuh dengan berjalan kaki memasuki hutan, bisa lewat tepi pantai juga sih karena hutannya di tepi pantainya hehe.. rutenya lumayan sulit, bagiku yang saat itu pakai sepatu tinggi. Yaps aku rasanya menyesal sekali saat itu, tak pandai membaca situasi hingga akhirnya aku bertelanjang kaki karena berulang kali hendak jatuh.

Jalan menuju Gigi Hiu menurutku sangat indah, hingga tak terasa sampai melihat deretan karang yang menjulang, aku merasa sesak. Ah, lebih indah dari apa yang ku lihat di sosial media. Namun di sini haram hukumnya berenang, ombaknya sangat tinggi sekali, kalau kita berani itu namanya bunuh diri. Hehe

Ingin rasanya segera menaiki atas karang, namun karena perjalanan yang jauh kami jadi lapar. Hehe.. lagipula tempat ini begitu ramai, aku tak ingin saat ambil foto terkontaminasi orang lain di dalamnya. 

Aku melihat sekitar dengan tenang, meski riuh ombak beriring dengan tawa mereka. Ku hempaskan napas pelan, akhir-akhir ini aku sering mendatangi pantai, menghilangkan penat dan mengingat seseorang. I hope, one day we can take picture in Gigi Hiu together. U know, mereka bilang di sini bagaikan surga yang tersembunyi. Ya, dan aku tak dapat menyangkal, tempat yang indah.

Related Posts:

0 Response to "Gigi Hiu Bukan Gigi Buaya"

Post a Comment