Senoktah Kenangan Di Desa Sidodadi Asri (Qofilah Dakwah)






Hari ini ketika matahari malu-malu terbangun dari lelapnya, aku masih terjaga pada duniaku, menatap lenganggnya ruang. Semua tak lagi sama seperti 2 pekan terakhir. Rumah tanpa pelapon, lukisan hidup pemilik rumah, tawa riang, dan anak-anak kecil yang berlarian di TPA. Itu semua telah hilang dan menjadi kenangan.

Di sampingku terlelap tidak lagi ada deretan teman perempuanku lainnya, hanya ada pacarku tercinta disini. Hehe iyaa.. Dia adalah notebook berwarna biru yang aku dapatkan pada ulang tahun ke-16. Benda yang kerap kali mengisi coretan-coretan kecilku tentang segalanya, termasuk puisi.

Ah, aku jelas ingat. Puisi yang ku tulis kali terakhir adalah di Desa itu, sebuah puisi sederhana yang aku tulis dengan rentang waktu tercepat, sejak aku mencintai sastra sebelum mencintai sidia nantinya. Hasil dari permintaan seseorang yang baru saja aku temui malam itu.

“Nduk, sampean iso nulis puisi?” kurang lebih beliau mengatakan begitu, entahlah.. ketika itu aku hanya menampakkan senyum hambar seolah tak mengerti. Ya, aku mengerti yang beliau katakan, tapi mencoba menutup peluang untuk pertanyaan menggunakan bahasa Jawa berlanjut. Bukan tak ingin, hanya saja beberapa kata memang belum bisa ku pahami.

Lalu 2 rekanku yang sedang duduk di sebelah kiri beliau menjelma menjadi seorang penerjemah. Memaksaku berpikir singkat untuk sebuah puisi sederhana.

“Selaksa Kata”

Detik bergeser tak mampu ku tahan ...
Kala seutas tawa lirih terhempas menunggu fajar ...
Menghayati melodi perpisahan ...

Ah, kami telah selesai ...
Selepas tarawih bersambut kenyataan ...
Bertadarus pada surau-surau gemilang ...
Celoteh garing anak lucu terlintas,
tak ingin kami tinggalkan ...

Kami haturkan selaksa syukur ...
Terimakasih yang tak terukur ...
Sebab tempat ini begitu indah ...
Melukis keping-keping sejarah ...

Sidodadi, Mei 2018

Aku mengungkapkan segala yang kurasa malam itu pada senoktah puisi yang dibacakan oleh seorang perempuan kecil berkulit hitam manis dengan lantangnya. Namanya Aura, ia adalah jagoanku ketika gebyar TPA meski realitanya ia kalah karena terhempas demam panggung yang membuat suaranya menghilang ketika itu, tapi bagiku ia jauh lebih baik dari orang-orang yang hanya menghabiskan masa kecil hanya dengan bermain, termasuk diriku.

Malam itu, tawa garing membuncah pada langit-langit yang usang. Celoteh sumbang pemuda tanpa pemudi, yaa... hidup dua pekan di desa ini tak membuatku berkenalan dengan seorangpun pemudi yang sebaya denganku. Hanya ada deretan pemuda yang sedang asik membakar ayam dan jagung seraya berfoto-foto. Menyanyikan lagu-lagu klasik yang pernah aku dengar saat masih muda, dulu. Hehe...

Beberapa di antaranya hanya menatap segelintir manusia, duduk di atas kendaraan roda dua, beberapa di antara kami membantu ibu-ibu di dapur, atau duduk di depan rumah bersama pak Mustofa selaku ketua pemuda, terimakasih banyak telah menjaga kami di sana.

Nampak juga Uni Feni, yang selalu kami nantikan cerita-ceritanya tentang di mana hantu itu menetap, sedang membentuk lingkaran hati di atas terpal berwarna biru laut. Di dekatnya aku dan yang lain menjadi pendengar setia, menatapnya berekspresi dengan raut wajah yang saat ini aku rindu.

Pak RT dengan segala kelucuannya, Umi yang begitu perhatian membuat kami seolah merasa ramadhan bersama orang tua, Pak Iyus yang sabar berlalu lalang sebab kami dan deretan wajah yang tak bisa ku ingat dengan jelas namanya, sangat membantu aku dan mereka di sana. Ah, aku tak tau mesti mengatakan apa atas rasa syukur bisa singgah di tempat yang bisa menerima segala kekurangan kami. Terimakasih banyak, semoga Allah membalas segala hal tersebut dengan berlimpah. J

Serta, di antara ramainya malam itu ada yang diam-diam sedang menata hati. Menatap seseorang dari jauh. Ah, hakikatnya memang begitu. Bahwa cinta selalu mendominasi sebuah cerita, termasuk pada novel-novel yang berjejer di toko-toko buku. Sedang aku tak pernah bisa memahami, sebab cinta dan jatuh hati terlalu abstrak tuk didefinisikan. Ah, juga harus kita ketahui bahwa dalam dunia psikologi cinta adalah gangguan jiwa sementara, dan aku tak ingin gila meski hanya sebentar saja hehe. Bicara tentang cinta, bagiku hidup dua pekan di Desa Sidodadi Asri tepatnya di Kulon Rowo adalah sekelumit cinta yang tak mampu ku dapat di tempat lainnya. 
.
TPA dan TIPI yang menawarkan kebahagiaan yang mencuat dari anak-anak lucunya, mushola dan masjid yang rela mendengarkan suara fals kami ketika mengaji serta mendengarkan kultum kami yang jauh dari kata baik. Ikhlas, itu adalah cinta yang sebenar-benarnya.

Thank u, Hatur nuhun, Arighato, Tarimo kasi, Matur Suwun, Kumawo, Terimo kasih ...

Telah menjadi bagian yang menyenangkan dari sepenggal kisah kami, semoga Allah mengijinkan aku dan mereka menatap desa sidodadi lagi bersama hamba-hamba Allah di dalamnyaJ


*Lapyu

Related Posts:

0 Response to "Senoktah Kenangan Di Desa Sidodadi Asri (Qofilah Dakwah)"

Post a Comment