“AKU ADALAH MASA KECILKU”


pict : google

Sigmund Freud, seorang tokoh psikologi kritis mengemukakan sebuah kalimat “masa kecil adalah ayah bagi kehidupan seseorang.” Hal tersebut tentu bukan tanpa alasan.
Segala hal yang dilakukan seorang anak semasa kecil begitu membekas, dan terbentuk menjadi sebuah perilaku yang menetap dalam diri sang anak. Anak yang semasa kecilnya menjadi korban kekerasan seksual, maka kemungkinan besar ia akan menjadi seorang pelaku kejahatan seksual, jika tidak ditangani dengan benar. Sama hal dengan seorang anak yang selalu ditentukan akan mengenakan baju oleh si ibunya, maka jangan salahkan seorang anak tersebut bahwa ketika dewasa ia tak mampu menentukan satu pilihanpun dalam hidup.

Dalam tradisi masyarakat kita, ketika sang anak sedang belajar berjalan dan jatuh maka orang tua akan menyalahkan lantai atau tembok dengan memukul-memukulnya sambil mengatakan hal-hal yang seolah menghibur sang anak. Tapi percayalah, hal itu tak berguna sama sekali. Jika hal itu terus terjadi, sang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang suka menyalahkan orang lain.
Anak yang terlalu diberi kebebasanpun demikian, ia dapat saja menjadi pembangkang yang handal. Biarkan anak memilih, jika salah maka beri penjelasan.

Sebagai orang tua atau calon orang tua, mungkin kita bertanya-tanya sebenarnya apa yang harus kita lakukan untuk perkembangan anak ke arah yang lebih baik? Berikut adalah kiat-kiatnya :

1.      Jangan terlalu mengkritik anak
Ketika orang tua terlalu banyak mengkritik anaknya, maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri, suka menyalahkan orang lain, atau bahkan menjadi pengkritik yang handal pula kepada orang lain atau bisa saja pada orang tuanya ketika ia tumbuh dewasa.

2.      Jangan biarkan anak terlalu banyak menonton TV
Tayangan TV semakin hari menampilkan sinetron-sinetron yang tidak layak ditonton oleh anak-anak. Menonton TV juga mengajarkan anak untuk pasif. Maka untuk ibu dan ayah, lebih baik membacakan dongeng, aktivitas ini membuat si anak lebih aktif dengan mengajukan beberapa pertanyaan pada ibu atau ayahnya melalui apa yang ia dengar atau ajak anak ke suatu tempat yang menambah pengetahuan dan kreativitasnya.

3.      Jangan membentak anak
Tahan emosimu, jika ingin anakmu tumbuh dengan baik. Jangan membentak, terlebih ketika hendak menjelang tidur atau pagi hari saat ia baru saja terbangun dari lelapnya. terlebih ketika anak dalam kondisi mengantuk. Karena kondisi tersebut gelombang otak berada pada fase alpha dan tetha karena keduanya berada di level alam bawah sadar, itu artinya anak mudah diberikan sugesti. Jika orang tua mengatakan hal-hal yang menyakitkan, maka itulah yang tertanam dalam benaknya.

4.      Jangan bertengkar di hadapan anak
Anak adalah seorang peniru yang ulung, hal ini selaras dengan teori Albert Bandura yang menjelaskan sebuah teori modelling, di mana anak meniru perilaku orang-orang atau lingkungan terdekat di mana ia tumbuh.

Anak yang kerap menonton aksi ayahnya memukuli ibunya, maka akan banyak kemungkinan yang terjadi. Ia akan tumbuh menjadi seorang pemukul, atau bisa saja ia trauma pada laki-laki dan pernikahan karena tak ingin mengalami hal yang sama seperti ibunya.

Nah, sekarang kita sudah tau kiat-kiatnya, semoga anak-anak kita bisa menjadi generasi yang tumbuh dengan pribadi yang lebih baik dengan mengaplikasikan kiat-kiat tersebut dalam keluarga kita.

Related Posts:

0 Response to "“AKU ADALAH MASA KECILKU”"

Post a Comment