#KKN3

Kamis, 25 Juli 2019

Entah tanggal berapa, mari sebut saja hari ketiga. Begitupun hari-hari ke depan. 

Sejak pertama kali tinggal di tempat ini, aku sudah mengazamkan diri untuk bangun pagi dan langsung mandi. Meski tentu saja mungkin hal sederhana itu, belum tentu berjalan baik. Selepas sholat dan mandi pagi, aku membuat susu coklat hangat yang aku minta dari teman sekamarku. Ohiyaa, di rumah ini hanya ada 3 kamar, 2 kamar perempuan dan 1 kamar laki-laki. Aku mengisi kamar paling depan bersama 3 rekanku, Cahya dan Vio yang merupakan gadis Lampung, serta Zia seorang gadis dari Way Kanan, yang sangat kental dengan Jawa Kromonya. 

Selepas membuat susu hangat, ku lihat beberapa buku yang sengaja ku bawa tuk menemaniku selama pengabdian ini. Buku bersampul biru, dengan seorang gadis yang berdiri di samping pohon bernama Kukila menemaniku pagi ini. Ku baca seksama tiap huruf, kata, dan kalimat, cerita di dalamnya yang diisi oleh sekelumit kisah dalam berumah tangga, yang melekat dalam ingatanku adalah cerita seorang istri yang mesti memakai celana dalam besi sebab perintah suaminya. Istrinya sejak kecil ditanamkan untuk menjaga rahasia, termasuk hal yang dilakukan suaminya kepadanya. Meski hanya bisa ke kamar kecil pagi dan malam hari ketika suaminya berangkat dan pulang kerja, ia tetap menampilkan senyum terbaiknya karna ingat pesan ayahnya. Hingga, pada suatu ketika suaminya selingkuh, ia hanya diam saja, karna ia ingat pesan ayahnya bahwa ia harus menjaga setiap rahasia. Namun ternyata suaminya juga tak menyadari suatu hal, si istri berselingkuh juga dengan tukang duplikat kunci, dan itu adalah rahasia yang tidak akan dijabarkan olehnya seperti aib suaminya. 

Pagi ini aku tersenyum-senyum sendiri membaca ending satu cerita di antara deretan cerita pendek Kukila, siapa sangka seorang duplikat kuncilah penyebabnya. 

Selepas pagi yang sendu karna berbalut kabut, dan aku cekikan di gonggo posko seorang diri padahal teman-teman lain berbenah, aku mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah dasar yang tentu saja jaraknya tak jauh dari posko kami. Aku datang ramai-ramai, tujuan utamanya adalah silaturahmi lalu meminta izin jika ada kesempatan untuk berkenalan dengan peserta didik di sekolah ini. 

Tak ada kepala sekolahnya, itu berarti tak ada keputusan yang kami dapat. Ku putuskan untuk bertukar ponsel dengan Ibu Nurhayati salah seorang guru senior yang menemani kami berbincang di kantor. 

Siang benar-benar menyengat kulit ketika kami meminta untuk pamit, maka tanpa dikomando langkah kami tiba di warung es tebu mas prengki. Beliau merupakan mantan ketua pemuda di desa ini, dengan rambut kemerah-merahan gaya kebarat-baratan, tampak manis dengan bentuk rahangnya yang tegas. 

Bisa dibilang badanku lumayan ringkih, perjalanan kecil seperti pagi hingga siang hari ini membuat lelah. Maka ku biarkan diri beristirahat, lalu selepas ashar pergi berkunjung ke TPA Muhammadiyah. Di kampung ini terbagi beberapa kelompok memang, tapi itu menyenangkan saja sebab kami bisa mengenal pengetahuan baru dari orang-orang yang baru kami kenal juga. Niat meminta izin untuk membantu belajar seraya mengajar di TPA inipun berakhir dengan curhatan ibu-ibu guru ngaji seraya menangis, menceritakan tentang penyakit rahim sejenis kista. Salah seorang di antara beliau-beliau tersebut, sudah diangkat rahimnya belum lama. Tampak masih muda dan cantik, satu lainnya menangis sejadinya karna ibunya baru saja selamat dari operasi kista padahal telah lanjut usia, rawan terjadi kegagalan operasi. 

Ah, aku ingin menangis sore itu tapi ku sekat karna tak ingin membuatku larut. Biarkan rasa simpatiku mengalir tapi tak terlalu deras. Desa sedang kemarau, tapi sore ini rintik derai hujan begitu tampak.

Adzan magrib berkumandang kencang, masjid tepat berada di belakang posko kami. Selepas membaca lantunan ayat suci aku duduk bersandar pada tembok, membaca tiap email yang masuk. Ada sebuah email dari Bloggercrony di sana, tentang sebuah perlombaan ibu kota baru pelajar dan mahasiswa. Ada waktu satu bulan, ku siapkan bahan mulai malam ini juga.

Beberapa orang yang kurasa tepat ku ajak berdiskusi seputar tema yang tertera, di antaranya adalah Ridho. Beliau rekan lelaki KKN ku yang berasal dari jurusan hukum, suka bermain games dan berceloteh seorang diri. Lainnya, Alfian Azis. Seorang penulis cerpen lulusan hukum juga, aku mendapat pencerahan banyak darinya sebab kecermatannya dalam bicara, kejelasannya dalam membedah suatu tema.

Ketika Gilang dan Fachri pergi yasinan karna ini malam jum'at, aku melanjutkan menulis blog, sisanya dengan aktivitas masing-masing bersama ponselnya, sebagian ada yang terlelap. Jam 10 malam kami bergegas rapat, lalu kembali terlelap.

Ini hari ketiga, semoga ke depan berjalan sesuai rencana. 




Related Posts:

#KKN2

Rabu, 24 Juli 2019

Hari kedua, ya sesuai judul tulisanku kali ini. Ini adalah hari kedua aku berada di Wonokarto. Sebuah Desa dengan populasi binatang sapi lebih banyak dibanding binatang ternak lainnya. 

Kami belum punya program kerja, btw. Tak ada rencana-rencana pasti mengenai hari ini akan ke mana. Kami hanya mencari kesibukan, yang jelas adalah pembicaraan semalam sebelum tidur menghasilkan keputusan "Kunjungan atau Silaturahmi" adalah target kami minggu ini. 

Tidak terlalu pagi, rumah yang pertama kali kami kunjungi adalah rumah kepala desa. Aku bersama seluruh anggota yang masih sangat menjaga sikap aslinya karena belum mengenal terlalu lama, berjalan di bawah cahaya matahari yang menyengat. Tak jauh, hanya 5 menit dengan berjalan kaki. 

Sesampai di rumahnya, kami menunggu cukup lama. Pak Kades di Desa ini memang terkenal dengan mandinya yang lama, itu kami ketahui dari warga Desa Wonokarto sendiri. Selepas mandi dengan wajah yang tak tampak basah, kami hanya berbincang sejenak. Beliau hendak pergi menemui TNI untuk perencanaan abdi karya di Desa ini. 

Beberapa kalimat basa-basi memancing kami ikut serta untuk ikut satu mobil dengannya. Jalanan yang jujur saja tak ada romantis-romantisnya karena membuat perut sakit membuat beliau menjelma menjadi seorang tourguide, menceritakan tiap lekuk bangunan atau lokasi-lokasi yang kami lewati. 

Tak jauh dari tempat yang kami tuju, terdapat sebuah wisata Desa berupa embung dengan berbagai spot foto yang tidak terawat. Di atasnya adalah lintasan balap yang biasa digunakan untuk kejuaraan motor cross. Bu Kaur bilang, wisata tersebut tidak terurus sebab musim kemarau yang berkepanjangan, dilain hal pemuda Desa yang tidak bergerak jika tidak dipantau oleh tetua-tetua di Desa Wonokarto ini. 

Selepas melewati lintasan balap, kami juga melewati sebuah pabrik yang dibuat Desa sebagai tempat membuat kerajinan dari bambu yang sejauh ini masih dibuat di rumah-rumah warga. Mesin dengan harga yang tak murahpun disimpan di dalamnya, belum digunakan karena aliran listrik yang tak kuat menjangkaunya. Kami tak sempat masuk ke dalam, tak ada yang mengajak dan tak ada apa-apa di sana kecuali mesin yang diceritakan oleh Pak Kadus yang masih menjelma sebagai tourguide. 

Tak jauh dari pabrik kerajinan bambu itulah beberapa abdi negara berpakaian loreng-loreng berdiri tegap. Dengan wajah hitam pekat karena kerap berdialog dengan matahari tanpa pakai sunscreen seperti gadis kebanyakan.

Di depan sekolah SMKN 1 Sekampung kami bercengkrama dengan mereka, pembicaraan tanpa tema. Hanya diselingi ajakan program abdi karya yang tak pasti akan dilakukan pada tanggal berapa. Kami berdiskusi tanpa atap di depan sekolah ini, merapatkan badan satu dengan yang lainnya. Kami tak terbiasa, tak  sama kuatnya dengan bapak-bapak TNI yang bila berdiri sejajar denganku membuat rahangku mendongak ke atas. 

Setelah percakapan singkat dengan bapak-bapak TNI satu di antara kami mengusulkan untuk bersilaturahmi ke sekolah SMK ini. Dengan alasan tanggung sekali sudah berada di sini, padahal tetap saja kami belum memiliki progja hingga tidak tau alasan lain ketika ditanya apa yang akan dilakukan selain bersilaturahmi. 

Sebuah nasib baik bagiku karena saat itu kepseknya sibuk, sedang ada akreditasi di sekolah ini. Aku berterimakasih dalam diamku, biarlah jangan bertemu. Kami tidak ingin terlihat bodoh tentunya, karena belum tau program kami di sekolah ini. Hingga selepas menunggu kepsek beberapa menit kami memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah karna dahaga dan lapar yang tak bisa dicegah.

Hanya dengan Rp. 5.000 semangkuk mie ayam terhidang di hadapanku. Di sini memang semurah itu, biaya hidup yang berbanding terbalik dengan di kota. Entah, sudah siklusnya begitu bukan? di sini juga tak ada apa-apa, foto copy-an saja hanya ada satu-dua di antara luasnya desa.

Sementara kami kenyang, ternyata Pak Kades sudah menunggu kami untuk pulang. Beliau mengantarkan kami sampai ke Balai Desa yang menjadi rumah kami, duduk bercengkrama sebentar, disuguhkan kopi, sholat dzuhur, lalu pamit pulang. 

Selepas rutinitas yang padat, tak ada pilihan selain tidur siang tentunya. Ya, aku ngantukan. Hehe. :")
Sorenya kami mesti mengunjungi TPA, sesungguh hanya aku dan satu orang rekanku bernama Indri, seorang santri salafi semasa SMA dulu. TPA yang kami datangi adalah TPA Muhammadiyah, ada beberapa kelompok di Desa ini yang hidup rukun, aku yang pada dasarnya belajar dengan guru ngaji NU tak merasakan pertentangan banyak seperti yang orang lain ceritakan. Bagiku semua sama, hanya soal fiqih dan beberapa hal dalam prosesi beribadah. 

Setelah pulang dari TPA, aku tak berminat melanjutkan tidur siangku. Ku sambangi tempat bermain anak-anak, bertemu dengan Jen anak kecil yang lucu. Aku bermain prosotan terpancing oleh tawa mereka yang nyaring, di ayunan ada dua rekan KKNku bersama anak kecil lainnya seraya mengobrol ringan, aku tidak tau mereka pusing atau tidak karena gerakan ayunannya. 


Di samping taman bermain ini, ada Bela yang tinggal di rumah seorang bidan. Bela adalah kucing kecil jenis persia atau apa, aku tidak terlalu paham. Hanya saja, bulu-bulunya cantik. Namun mega-mega yang kian tampak di langit mengingatkanku untuk pulang ke posko. 

Malam ini, ketika hari telah padatnya. Anak-anak kecil mengunjungi posko kami untuk belajar padahal jelas sudah jadwal bimbelnya siang hari :") namun profesionalitas adalah hal yang mesti dijunjung tinggi dalam sebuah pangabdian masyarakat, bisa atau tidaknya masyarakat tak ingin tau alasanmu apa. Terlebih dengan almamater universitas islam, jangan memalukan diri menolak tawaran kultum di depan umum hanya karena alasan tak siap, itu adalah resiko dan hidup selalu bicara tentang itu. 

Aku, Gilang dan Sherly, mengajari anak-anak Desa malam ini, sisanya pergi ke rumah perangkat desa untuk bersilaturahmi. Karena kecintaanku pada bahasa inggris, ku ajari anak-anak dengan pelajaran ini. Satu di antaranya adalah lagu Twinkel-twinkel little star yang menjadi bahan ledekkan teman-teman ketika bercanda dengan menyanyikannya ketika aku kesal. 

Hari kedua yang melelahkan, dengan padatnya acara tanpa program kerja, hari kedua yang melelahkan, sejujurnya aku sedang ingin pulang. :")





















































Related Posts:

#KKN1

Selasa, 23 Juli 2019
Hari ini ketika matahari sedang tinggi-tingginya, aku pergi seorang diri untuk mengikuti pengabdian masyarakat bersama mahasiswa kloter akhir lainnya. Sebuah pelosok desa yang kami tuju, bersama 3 bus yang normalnya ngaret beberapa jam. Ya, itu normalnya. On time bukanlah hal yang wajar di sini, atau bahkan di tempatmu juga.

Aku menggeret koperku sendiri, setelah berbicara melalui video bersama ayahku. Tak ada yang melepas kepergianku secara langsung meski dua hari berturut-turut aku mengantar teman-teman terdekat yang memaksaku menggantikan peran keluarga mereka. Entah, mungkin bagi sebagian orang peristiwa seperti itu amat berharga. Sejujurnya bagiku tidak, ini  bukan alasan karena aku melepas diriku sendiri. Tapi realitanya memang begitu, aku merasa tak ada sedih-sedihnya. Aku terbiasa pergi sendiri, bahkan tak terasa sudah genap 3 tahun aku menjadi anak rantau tanpa orang tuaku tau bentuk bangunan kampus hijauku.

Seperti biasa, aku duduk menghadap jendela kaca bus yang transparan. Menatap sederet aktivitas, deretan manusia berlalu lalang dengan kendaraannya. Atau, rumah yang menampakkan deretan tawa di pelataran. Meski beberapa terkesan angkuh dengan pagar-pagar menjulang tak mampu ku terka, sedang apa penghuni di dalamnya?

Sebagian besar perjalanan ku isi dengan menelisik wajah seseorang di antara tatap kosong mataku yang seolah masih tertuju pada jendela kaca mobil. Aku tak lagi di sana. Tapi di siang hari yang dingin karna AC mobil ini, aku tak ingin bicara perihal hati. Setidaknya, tidak sekarang.

Hari pertama KKN yang sendunya mengambang. Aku baru saja ingin tenggelam dengan pesona alam perjalanan kami, seolah benar-benar menghirup udara segar di luar jendela kaca. Tapi segelintir manusia begitu bising. Tak memberi jeda kami berpikir tenang untuk mengawang.

Ingin mengumpat, tapi biarlah. Lagi pula aku tak cukup gila melarang orang gila yang teriak-teriak sepanjang perjalanan.

Apa kabar mereka selama pengabdian 40 hari ke depan?
Akankah ditimpuk masyarakat karena suaranya yang tak mampu dikendalikan?

Sayangnya aku belum mendengar kabar itu, meski sudah 4 hari pengabdian berlangsung. Hari ini, hari ke 4 memang benar adanya. Tapi aku ingin bercerita seolah aku masih ada pada hari itu, maka ku biarkan diriku kembali.

Belum sampai pada Desa yang aku tuju bersama 11 orang yang karna takdir satu kelompok denganku kami berhenti tepat satu Desa sebelum Desa Wonokarto yang kami tuju. Desa Girikarto, di depan balai Desanya yang berseberangan dengan Masjid kami berhenti menunaikan kewajiban shalat ashar sembari mencari ketenangan, tak lagi bising terdengar.

Pakaian hitam dengan jaket berwarna coklat susu, serta kerudung berwarna hijau pekat ku tutupi sempurna dengan mukena. Melafalkan baris demi baris ayat Al-Qur’an meski sesekali pikiranku mengingat semua hal yang terlupa sebelum sholat. Aku sholat, semoga aku benar-benar sholat, semoga sholat 20 tahunku aku benar-benar sholat, semoga Allah meridhoi sholatku.

Mobil pribadi yang entah merk apa bertengger di depan desa menanti kami, mengantar ke Desa Wonokarto yang memicuku menulis ini. 40 hari, 40 peristiwa ke depan, kan ku kisahkan dalam kata.

Ini hari ke empat, ku kembali pada hari pertama.

Related Posts:

Guru BK Bukan Polisi Sekolah




“GURU BK”

Apa yang teman-teman pikirkan ketika mendengar profesi tersebut?

Pasti yang terlintas adalah polisi sekolah, satpam, atau guru yang galak, bukan? :D

Bisa dibilang inilah persepsi yang salah tentang guru bk atau kita sebut saja sebagai konselor. Meskipun begitu, persepsi teman-teman tidak bisa disalahkan oleh siapapun, karena mungkin itulah yang teman-teman rasakan. Guru BK yang mengejar anak-anak bolos sekolah hingga ke ladang warga, yang berdiri tegap di depan gerbang memeriksa kelengkapan seragam, atau yang bertugas mengurusi anak-anak yang senang sekali melanggar peraturan. Sebenarnya tugas utama konselor bukanlah itu.

Persepsi negatif tersebut sebenarnya terbentuk disebabkan banyak sekali guru bimbingan dan konseling yang tidak terlahir dari proses belajar yang panjang, mereka lahir dari jurusan-jurusan lain tanpa tau peran dan fungsi seorang konselor. Padahal seorang konselor sangat berperan dalam proses tumbuh kembang peserta didik. Seorang ahli yang memahami kebutuhan peserta didik melalui assesment atau pendataan sehingga tidak akan menjudge semua perilaku peserta didik dengan label “NAKAL”.

Seorang konselor selayaknya mampu membuat peserta didik nyaman ketika berada didekatnya sehingga ketika peserta didik mengalami masalah, ia tidak takut untuk bercerita. Mampu menjadi pribadi yang menyenangkan, sehingga tidak ada sekat antara dirinya dan peserta didik. Mampu mengakses informasi dengan baik, sehingga mampu membantu peserta didik dalam mengembangkan potensinya.

Nah, oleh sebab itu penting sekali bagi kita untuk memahami sebenarnya seperti apasih peran konselor sebenarnyaa. Mari kita ketahui lebih dalam berdasarkan standarisasi kerja konselor yang terwujudnya berkat Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) pada konvensi nasional VII IPBI di Denpasar, Bali (1989) dan dikonkretkan pada Konvensi Nasional VIII di Padang (1998). Berikut pekerjaan seorang konselor J
1.      Mengajar dalam bidang psikologi dan bimbingan konseling
2.      Mengorganisasikan program BK
3.      Menyusun program BK
4.      Memasyarakatkan layanan BK
5.      Mengungkapkan masalah klien/konseli
6.      Menyelenggarakan pengumpulan data tentang minat, bakat, serta kondisi kepribadian
7.      Menyusun dan mengembangkan himpunan data
8.      Menyelenggarakan konseling perorangan
9.      Menyelenggarakan bimbingan konseling kelompok
10.  Menyelenggarakan orientasi studi siswa (OSPEK)
11.  Menyelenggarakan ekstrakulikuler
12.  Membantu guru bidang studi dalam mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik
13.  Membantu guru bidang studi dalam menyelenggarakan pengajaran perbaikan dan program pengayaan
14.  Menyelenggarakan bimbingan kelompok belajar
15.  Meenyelenggaran pelayanan penempatan peserta didik
16.  Menyelenggarakan bimbingan karir dan pemberian informasi pendidikan atau jabatan
17.  Menyelenggerakan konferensi kasus
18.  Menyelenggarakan terapi kepustakaan
19.  Melakukan kunjungan rumah
20.  Menyelenggarakan lingkungan klien
21.  Merangsang perubahan lingkungan klien
22.  Menyelenggarakan konsultasi khusus
23.  Mengantara dan menerima alih tangan
24.  Menyelenggarakan diskusi profesional
25.  Memahami dan menulis karya-karya ilmiah dalam bidang BK
26.  Memahami hasil dan menyelenggarakan penelitian dalam bidang BK
27.  Menyelenggarakan kegiatan BK pada lembaga yang berbeda
28.  Berpartisipasi aktif dalam pengembangan profesi BK

Wah banyak banget ya pekerjaan sebenarnya seorang guru BK, jadi bingung bacanya. Hoho 
Sebenarnya secara garis besarnya, tugas guru BK ialah meliputi :

1. Membantu pengembangan minat bakat peserta didik
Pengembangan minat bakat ini tidak hanya sekedar membantu peserta didik berprestasi pada kemampuan yang ia miliki. Namun juga berkenaan dengan layanan penyaluran, menyalurkan peserta didik kepada kegiatan yang tepat berdasarkan assesment yang telah dilakukan. 

2. Memberikan bimbingan mengenai permasalahan pribadi-sosial, belajar dan karir. 
Bimbingan pribadi-sosial bisa berkenaan dengan membantu peserta didik menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, agar bisa mengaktualisasikan diri dengan baik. Bimbingan belajar bisa berkenaan dengan kesulitan belajar, serta bimbingan karir yaitu pemberian bantuan untuk sekolah lanjutan. 

3. Memberikan layanan konseling
Perbedaan bimbingan dan konseling ialah terletak dari seberapa jauh masalah itu hadir. Untuk permasalahan yang belum terjadi, maka konselor menggunakan bimbingan sedangkan untuk permasalahan yang telah terjadi, konseling adalah cara yang digunakan. Banyak teknik yang digunakan dalam layanan konseling, seperti misalnya teknik reward-funishment menggunakan token ekonomi. Semakin sering perilaku yang sesuai ditampakkan oleh peserta didik, maka ia akan mengumpulkan token ekonomi (bisa berbentuk logam atau kepingan) untuk ditukarkan dengan hadiah yang diinginkannya untuk memperkuat perilaku tersebut. 

Itulah tugas guru BK yang kerap disebut sebagai polisi sekolah atau satpam. Karena banyak pekerjaan yang dilakukan tidak terlihat oleh kasat mata, alias ghaib. Hehe... selain pengembangan minat bakat, penyelenggaran ekstrakulikuler, banyak pekerjaan berupa pemberian layanan bimbingan dan konseling yang hanya dilakukan di ruang konseling tanpa diketahui banyak orang. Hal ini disebabkan asas kerahasiaan yang guru BK pegang erat, jadi tidak boleh ada satu masalah klien/konseli yang bocor. J 



Related Posts:

Author


Hallo selamat bertualang diblog yukkata.com :) 

Untuk kamu yang sekarang menatap lekat kata, perkenalkan namaku Siti Rahayu Fadilah. 


Panggilan akrabku Ayu, namun beberapa teman main alias teman hahahehe kerap memanggilku Kak Iyu. 

Sedikit berbagi perjalanan menulis. Sebenarnya, aku sudah menulis sejak sekolah dasar. 

Pada kelas 5 SD aku sudah punya buku antologi yang kutulis dibuku tulis seharga Rp. 2.000, isinya sederhana hanya puisi-puisi untuk orang-orang terdekatku. 

Namun ternyata, tulisan-tulisanku sewaktu SD itu seolah menjadi pemantik. Menggiringku tetap tertuju pada kepenulisan meski diriku sendiri kadang tidak menyadarinya. 

Selama sekolah SMP aku hanya menulis melalui buku diary, masa puber jadi ceritanya berisi tentang seseorang yang sedang  kusuka saat itu hehe. 

Menjejaki sekolah menengah atas, aku mulai menulis di blog. Hanya sekedar curhat, seperti buku diary online. 

Ditambah lingkunganku yang gemar membaca, membuat seolah masa SMA menjadi tempat memperbanyak kosa kata. 

Merantau ke beda pulau saat masuk ke salah satu PTN di Pulau Sumatra (UIN Raden Intan Lampung), itulah awal aku mulai serius mencintai menulis. 


Cinta yang sudah terpendam lama, rasanya sedikit demi sedikit aku bisa mengungkapkannya.

Berikut mungkin mewakili kecintaanku pada menulis :


Buku Pertama 2019 
Penerbit Guepedia 
Judul : Biarkan Takdir Memainkan Perannya



Buku Kedua 2019
Penerbit Aura
Judul : Naskah Tentang Hati

Juara II Jurnalistik 2015
JUMBARA PMI Kab. Serang


Kontributor Antologi Puisi 2016
Bertema "Hujan"


Juara II Karya Tulis Ilmiah 2017
PORSENI Ma'had Al-Jami'ah UIN Lampung



Antologi Puisi 2017 
Aku dan Sunyi





Pemenang Kompetisi Twitter 2019
#literasibimasislam


Juara III Resensi Buku Hafidz Rumahan 


Aku juga aktif di beberapa komunitas :
Tapis Blogger
Komunitas LIMA
Forum Lingkar Pena Bandar Lampung

Raditya Dika dalam beberapa kesempatan ketika menjawab pertanyaan apa rahasianya dalam menulis, jawabannya sederhana. Satu kalimat yang selalu ku ingat.


"Jadi penulis itu jangan cengeng" ujarnya, kalimat itu ia kutip dari Salman Aristo yang merupakan salah satu mentornya. Itu yang membuat Radit bisa menulis di manapun dan kapanpun. 


Memang, tidak ada rumus yang pasti dalam menulis. Tak perlu dramatisasi hanya karna menunggu mood menulis. Mempersiapkan kopi, mendengarkan lagu-lagu sendu, itu tak perlu. 


"Jangan cengeng!" kalimat itu membekas dibenakku. 


Related Posts:

Puisi : Senoktah Cinta





Kudekap erat bantal usangku
Terlarut menyemai bunga malam

Angan melayang terbang
Terseret searah ilusi
Tertuju pada senoktah cinta

Binar latif bola matamu

Wajah berseri serupa pelita
Genggaman erat jemarimu syahdu
Menjamahi lekuk rindu
Menyayat pilu detak warna

Angin semilir membelai manja

Buatku malu termangu sunyi
Alunan rindu tak terpola
Menyadarkanku pada realita
Hantarkan fajar pudarkan petang
 

07 juli 2019






Related Posts:

Sekelumit Rasa dalam Islam



Hidup di tempat dan waktu yang tidak pernah disepakati dengan diri sendiri ketika terlempar ke dunia, tempat dimana merasakan pahitnya kefuturan bukanlah hal yang mampu direncakan olehku dan kita. Hidup di Kab. Serang, Provinsi Banten sejak ibu dan bapakku membangun rumah sederhana di Kp. Cibadak Des/Kec. Jawilan RT/RW:016/005 yang sekarang telah dikelilingi deretan pabrik milik mereka yang tentu saja tidak terlahir sebagai pribumi. Saat ini, mendekati tahun kedua aku kembali ke Babakan Loa, Pesawaran, Lampung Selatan tempat yang memberiku nama Siti Rahayu Fadilah pada 31 januari 1998, sebuah desa pertambangan emas yang sedang mahsyur sukses mengacaukan mindset para pemuda untuk tak bersekolah karena merasa mampu mencari uang tanpa pendidikan. Aku kembali, setelah 18 tahun hidup di Serang yang terkenal sebagai kota industri, melanjutkan strata 1 dengan jurusan yang menyenangkan seputar pendidikan, emosi dan kepribadian. Ya, bimbingan dan konseling. Setidaknya itulah secerca problematika yang bisa menjelaskan jurusan tempatku belajar di UIN Raden Intan Lampung, kampus hijau.

2016 adalah tahun pertama aku berkesempatan menjadi seorang santri. Tinggal di Ma’had Al-jamiah, sebuah pesantren kampus hingga rasanya waktu begitu terbatas untuk mengenali dunia luar yang katanya menyenangkan tanpa segala kekang dan aturan, mulanya aku bosan benar-benar bosan mengenal islam lewat aturan pesantren namun Allah memberi jawaban atas keluh yang ku simpan.
“Kalian salah mencoba, seharusnya rasakan dulu hidup sendiri di luar, baru rasakan hidup dipesantren dan bandingkan.” Nasehat lantang Ustad Asep Budianto beliau adalah bendahara Ma’had Al-jamiah yang kami takdzimi, kekata itu terlontar ketika beberapa santri memutuskan tuk mengikuti kata orang, hidup di luar pesantren itu menyenangkan.

Aku mulai mencintai waktu sebagai santri setelah mendapat banyaknya petuah dari ustad dan musyrifah, setelah aku menyesuaikan diri 2 semester bersama segala hal baru yang mungkin tidak akan ku temui ditempat lain, itu bukan fase yang mudah tuk dilalui seseorang yang terbiasa pulang malam karena organisasi dan memiliki egoisme diri yang tinggi sepertiku. Iqob atau hukuman yang tak hentinya karena tak halaqah dan tutorial, manajemen waktu yang buruk, tak terbangun padahal jaros (bel) selalu saja menjerit sebelum fajar malu-malu terbangun dari lelapnya, juga sulitnya menerapkan bahasa arab atau inggris dalam keseharian. Ternyata disini indah, seperti salah satu judul lagu dari band nasyid Gontor, lagu yang pernah  aku nyanyikan bersama santri lainnya ketika muhadharah, menjadi kenyataan. Di samping sulitnya menghafal dan mudah melupakan hafalan, itu adalah dinamika hidup seorang santri. Namun, ini bukanlah awal aku tersesat di jalan yang benar ini. Lantunan lagu Raihan adalah salah satu di antara pengiring langkah berhijrah.

Iman tak dapat diwarisi, dari seorang ayah yang bertakwa..
Ia tak dapat di jual beli..
Ia tiada di tepian pantai..
Walau apapun caranya jua engkau mendaki gunung yang tinggi..
Engkau merentas lautan api..
Namun tak dapat jua dimiliki..
Jika tidak kembali pada Allah..

Itulah beberapa bait lagu yang masih saja terngiang di telingaku, mengingatkanku akan semangatnya mengikuti berbagai rutinitas yang ada di lembaga dakwah. Ketika aku memulai dengan menjadi bagian dari berbagai organisasi SMA dengan niat mengalihkan diri dari kekosongan. Tepat setelah naik kelas 2, aku masih bertahan dibeberapa organisasi dan benar-benar merasuk kedalamnya, seperti MPK yang mengamanahkan posisi sekretaris, PMR sebagai wakil ketua, penggiat operasi lapangan di PRAMUKA dan tentunya ROHIS yang memaksaku berhijab karena malu melihat rekan-rekan satu halaqahku. Itu semua terjadi pada periode (2013-2014). Serta, lolos menjadi bagian dari beasiswa perintis IV SNAB UNTIRTA pada bulan mei 2015 hingga saat ini.

Namun mencintai islam tak sesederhana itu, hijrah penampilan tanpa pemikiran belum cukup rasanya. Halaqah rutin setiap pekan yang semestinya jadi penguat justeru terus saja menyeleksi kader, bosan adalah salah satu sebab kepergian mereka. Jangan tanya aku, entah sudah berapa kali aku mencoba melarikan diri, namun Allah tetap saja membuatku bertahan bersama 7 kader akhwat dan 4 ikhwan, aku dan mereka hanyalah sisa dari banyaknya anggota yang mendaftar di awal. Sunatullah adalah kata yang sering menjadi penguat dari murobiku, bapak Ajiji., S,Kom seorang guru bimbingan dan konseling yang mengulang pendidikan S1 nya dijurusan tersebut merangkap sebagai pembina pramuka dan murobi di Rohis. Beliau, adalah alumni dari SMA tempatku bersekolah dan menjadi ketua Rohis semasanya.

Kita semua tau, bahwa lembaga dakwah dan pesantren memiliki beberapa perbedaan, tapi yang nampak bagiku bukanlah itu. Dua tempat aku belajar mengenal agama ini adalah perbedaan rasa yang menyenangkan. Pesantren tempatku tinggal saat ini begitu kental dengan Nahdatul Ulama, suatu mazhab yang menurut masyarakat tidak membunuh tradisi masyarakat, bahkan tetap memeliharanya, yang dalam bentuknya yang sekarang merupakan asimilasi antara ajaran Islam dan budaya setempat. Sedangkan lembaga dakwah adalah suatu gerakan yang mengajarkanku cara memiliki jiwa kepemimpinan, membuatku mengerti hakikat wanita yang sesungguhnya serta berbagai hal menarik dalam kaderisasi lainnya. Itulah yang aku rasa, bahwa islam banyak rasanya.

Beriringan dengan hal tersebut, problematika hijrah pemikiran belum usai selepas hijrah penampilan. Lingkungan yang membentuk kepribadianku sedari kecil sulit sekali menerima jilbab lebar membalut tubuhku. Beberapa anggota keluarga tak menunjukkan itikaf baik untuk niat baikku, sering kali mengkritik dengan beberapa kata yang begitu menyakitkan hati. Aku sempat marah tapi berakhir lelah karena marah adalah salah, hingga pada akhirnya aku hanya mampu menjelaskan perubahanku adalah kewajiban dan membiarkan mereka larut menyesuaikan diri dengan perubahan itu.
Allah mudah sekali membolak-balikan hati seseorang, perlahan semuanya berubah begitu saja seiring detik yang bergeser tak mampu ku tahan, entah dengan kata apa harus mendefinisikan berbagai keajaiban. Bapak yang menjadi seorang ayah dan imam ideal bagi keluarga akhirnya menjadi orang yang paling mendukungku, ibu menjadi semakin shalehah dengan jilbab yang kini membalutnya, juga adik kecilku yang memiliki pemikiran lebih jauh dari usia ia sekarang, tinggal di pesantren salaf di Kab. Serang jarang sekali ingin pulang karena beralasan, “Di rumah itu sholat subuh sama ishanya telat terus.” Katanya, ketika ia liburan MTS kelas 2.

Itulah awal, lalu aku rasanya menyesal karena ketika Allah memberi apa yang aku sematkan di hati terdalam pengetahuanku akan islam masih sangat dangkal. Semua orang bilang bahwa hijrah butuh landasan ilmu, ingin lebih baik artinya harus hidup di lingkungan yang baik agar menjadi baik. dan lalu diriku mengikuti alur begitu saja, entah mendapat ilham dari mana hingga memutuskan melanjutkan ke Universitas Islam dan tinggal di pesantren seorang diri tanpa satupun teman semasa SMA yang mendaftar bersama di tempat ini, di UIN Raden Intan beserta Ma’had Al-jamiah yang membimbingku mengenal lebih dalam tentang islam.

Related Posts:

Cerpen: Setitik Cahaya dalam Surau


Udara kian membeku ketika lembaran ayat-Nya disentuh dengan kekhidmatan, laron tak lama menjemput ajalnya di sebuah baskom berisi air setelah bermain-main dalam surau kami yang remang, hanya setitik cahaya yang bisa mati kapan saja ketika minyak tanah dalam botol habis terlalap api yang menerangi kami setiap petang.
Kami duduk melingkari Pak Yai yang terkantuk-kantuk tapi masih memantau tiap bacaan kami dengan rapi, jemarinyapun masih kuat menggenggam rotan panjang. Debaran jantung kian terasa ketika giliranku akan tiba setelah beberapa rekanku yang membaca terbata-bata, meski sisanya terlewat begitu saja dengan aman. Hembusan napas yang tertahan, rasa takut, juga banyak hal yang tak dapat ku jabarkan.
Aku menunggu detik demi detik yang tak mungkin berharap jadi menit, menanti bagianku malam ini.
“grrkk..” Suara rotan Pak Yai tepat berada di hadapanku, menunjuk ayat yang mesti ku lanjutkan dari malam sebelumnya. Aku memulai membaca setiap huruf, dengan rasa bimbang yang masih sama.
“Hmm..” Pak kyai menghentikan bacaanku dengan menunjuk pada ayat yang ternoda oleh kesalahanku.
“Itu bacaanya panjang apa pendek.” Pak Yai menghentikan bacaanku lagi dengan mata yang setengah tertutup.
“Hmm hmm.” Mulutku seakan terkunci, tak mampu berkata-kata.
“Panjang apa pendek?” Meski tak ada bentak atau nada tinggi malam ini, namun sulit sekali bibir ku terbuka lagi.
“Hmm, pendek yai.” Wajahku semakin tenggelam, aku menundukkan pandanganku. Lalu sekarang Pak Yai yang membaca dengan merdunya, beserta penjelasan lengkap mengenai tajwid dan hukum bacaannya. Satu ayat setiap malam, rasanya begitu berat melewatkan ayat demi ayat ini.
Aku pulang dengan rasa lega malam itu, hal yang menyenangkan adalah ketika mengaji selesai. Kaki-kaki mungil lincah melangkah beriringan, aku di antara mereka saling bergenggaman tangan. Jarak dari rumahku menuju Surau memang lumayan jauh, butuh 15  menit untuk menempuh perjalanan. Jalan sepetak yang hanya mampu dilewati oleh kendaraan roda dua, berkerikil dengan pulau di tengahnya sisa hujan dan kendaraan yang menyebabkan jalan berlubang, hanya cahaya bulan dan gemintang yang menunjukkan kami arah pulang.
Kami selalu mengisi jauhnya pulang dengan hal-hal kecil yang membuat tawa riang, bercerita tanpa tema yang mesti ditentukan. Seperti tebak-tebakkan malam ini, dari Eko temanku, yang rumahnya tepat berada di samping rumahku.
“Temen-temen, coba tebak.  Tak nampak namun jelas ada, sebab suaranya menggema seperti motor lewat rumah kita malam-malam brrm brrm..” Eko memberi tebak-tebakkan seraya mempraktekan gaya yang seolah sedang naik motor.
“Motor?” Lufi spontan menjawab.
“Seperti motor, Fii” Eko menimpali, kami menertawakan Lufi tanpa merasa berdosa
“Yaa, Eko brrmmm brrmm.” Katanya, ikut memperagakan apa yang Eko lakukan
“Hehehe.” Tawa khas anak yang belum bhalig semakin bersaing dengan jangkrik yang sedari tadi ingin didengar.
“Apa coba apa?” Eko melanjutkan tebak-tebakknya.
“Motornya kuman?” Aku menjawab asal, sedang 4 kawanku Eko, Lufi, Ira, dan Andi hanya menatapku datar.
“Kuman-kuman, kamu kumannya. Orang seperti motor, seperti” Eko menahan emosinya lalu ikut tertawa bersama, perutku rasanya sakit sekali banyak tertawa bersama mereka.
“Pasrahlah pasrah.” Kami melambaikan tangan, sudah tak kuat. Sayang tak ada kamera seperti di acara TV uji nyali. Jangankan kamera, lampu saja tak ada di desa kami.
“Apa ko jawabannya?” Ira menarik-narik sarung eko yang melingkar di lehernya, seperti bapak-bapak yang sedang meronda.
“Nanti aku beri tahu, besok setelah mengaji.” Eko menjawab dengan mantap.
“Huuu.” Eko segera lari sebelum kami mengamuk, sebab kami telah sampai pada perkampungan yang terang sebab tawa renyah yang terdengar keluar.
**
“Malam inikan malam jum’at, sekarang kita yasinan. Kalau ada yang ndak bisa baca yasin, baca surat Al-ikhlas ndak apa-apa.” Pak Yai memberi arahan, sebab banyak anak kecil yang masih baca turutan (juz amma).
Pembacaan yasin diawali dengan doa dan hadorot, aku dan kawanku berlomba cepat-cepat membaca yasin, siapa yang selesai lebih dulu akan mengejek yang lainnya. Setelah lelah melakukan ejek-ejekan bersama kami memakan makanan yang kami bawa dari tiap rumah, dibuat oleh ibu-ibu setiap malam jum’at. Belum selesai bacaan yasin yang lain, serta papais yang terbuat dari tepung beras, santan dan garam dengan pisang di dalamnya belum habis ku telan. Suara ketukkan pintu, ah bukan seperti ketukan seperti hentakan, kencang sekali membuat pembacaan yasin terhenti. Pak yai sigap bangun, beriring aku dan yang lain.
“Pak Asmir?” Pak Yai melangkah keluar dari ruang mengaji kami yang lantainya terbuat dari semen, tak karuan seperti jalan di kampungku yang berlubang.
Kami hendak keluar, sebelum Pak Yai menahan kami dengan isyarat tangannya yang menghentikan langkah kami.
“Lanjutkan yasinannya.” Sambungnya. Yasin tetap dilanjutkan namun nada-nada tinggi Pak Asmir memang tak bisa teralihkan, mengganggu konsentrasi kami. konsentrasi makan papaisku dan kakak-kakak yang tadi khusyu mengaji. Suara di luar suraupun sudah semakin tidak karuan, tangis dari Bu Yai dan amarah dari beberapa orang yang dibawa oleh Pak Asmir.
“Kyai gadungan, mana ada Yai yang makan uang hasil dari warga desa tuk memasang lampu.” Pak Asmir menarik Pak Yai dengan kasar. Sedang tiba-tiba Eko berdiri di ambang pintu.
“Bapak, bapak ndak pantas membentak-bentak guru ngajiku. Bapak ndak berhak mengusir pak yaiku dari sini” Eko menatap lurus ke arah Pak Yai dan Pak Asmir, bapaknya.
“Eh. Kamu ndak tau apa-apa anak kecil.” Pak Asmir menunjuk anaknya.
“Aku tau pak, tau. Aku mendengar semua yang bapak bicarakan di rumah. Mengusir pak yai, sebab bapak ingin terlihat di kampung kita.”
“Bicara apa kamu cah semprul.” Pak Asmir semakin menggebu-gebu.
“Aku tau pak, masalah lampu yang gak sampai kampung kita. Bukan karena pak yai yang menjabat sebagai kepala desa tapi sebab bapak dan beberapa orang-orang yang menghalangi setiap petugas lampu ingin masuk ke desa kita.” Eko menatap bapaknya dan beberapa orang lainnya.
“Eh, kamu ya. Buktinya mana?” Pak Asmir semakin naik pitam.
“Apa bapak nda kasian, aku mengaji dengan lampu dari minyak tanah yang pak yai buat dari botol-botol beling bekas. Mana mungkin pak yai ingin makan uang haram sedang kita mengaji di sini, bapak tak pernahkan membayar pak yai sebab jasanya mengajariku.” Air mata Eko tak hentinya menganak dari tegarnya yang tertahan.
“Lufi, Ira, Andi, Rana.” Eko memanggil tanpa menengok ke arah kami.
“Kalian ingat kemarin malam aku memberi tebak-tebakan?” kami mengangguk tanpa sedikitpun suara.
Tak nampak namun jelas ada. Aku ingin memberi kalian jawabannya malam ini.” Mendadak keadaan menjadi hening.
“Jawabannya adalah pak yai.” Eko menyeka air matanya sejenak.
“Sebab kadang beliau mengajar kita tanpa cahaya ketika minyak tanah habis pada botol-botol lampu, ketika berhari-hari beliau tak punya uang untuk mengisi minyak tanah kembali tapi kita masih melihatnya dengan jelas melalui suara ketika mengaji sebab Pak Yai ndak bicara dengan mulut saja tapi dengan hati, sehingga menyentuh hati kita juga.” Eko menyampaikannya dengan tenang.
“Pak, kalau pak yai ndak ada? Apa bapak bisa mengajariku mengaji? Pak, apa bapak lebih memilih kekuasaan sehingga membiarkan aku dan teman-temanku larut dalam kebodohan?” Tak ada jawaban apapun dari pak Asmir, sedang Eko nampak tersekat tak mampu berkata-kata lagi sebab air matanya menetes kian deras.
Lalu pak Asmir mulai bergerak, berjalan maju mendekati puteranya. Tak lagi ada amarah, sebab beliau memeluknya seraya mengucap maaf. Malam yasinan kali inipun ditutup dengan Pak Yai yang melepas jabatannya dari kades untuk kemaslahatan bersama, memilih menjadi setitik cahaya di surau kami yang remang.

Related Posts: