Author


Hallo selamat bertualang diblog yukkata.com :) 

Untuk kamu yang sekarang menatap lekat kata, perkenalkan namaku Siti Rahayu Fadilah. 


Panggilan akrabku Ayu, namun beberapa teman main alias teman hahahehe kerap memanggilku Kak Iyu. 

Sedikit berbagi perjalanan menulis. Sebenarnya, aku sudah menulis sejak sekolah dasar. 

Pada kelas 5 SD aku sudah punya buku antologi yang kutulis dibuku tulis seharga Rp. 2.000, isinya sederhana hanya puisi-puisi untuk orang-orang terdekatku. 

Namun ternyata, tulisan-tulisanku sewaktu SD itu seolah menjadi pemantik. Menggiringku tetap tertuju pada kepenulisan meski diriku sendiri kadang tidak menyadarinya. 

Selama sekolah SMP aku hanya menulis melalui buku diary, masa puber jadi ceritanya berisi tentang seseorang yang sedang  kusuka saat itu hehe. 

Menjejaki sekolah menengah atas, aku mulai menulis di blog. Hanya sekedar curhat, seperti buku diary online. 

Ditambah lingkunganku yang gemar membaca, membuat seolah masa SMA menjadi tempat memperbanyak kosa kata. 

Merantau ke beda pulau saat masuk ke salah satu PTN di Pulau Sumatra (UIN Raden Intan Lampung), itulah awal aku mulai serius mencintai menulis. 


Cinta yang sudah terpendam lama, rasanya sedikit demi sedikit aku bisa mengungkapkannya.

Berikut mungkin mewakili kecintaanku pada menulis :


Buku Pertama 2019 
Penerbit Guepedia 
Judul : Biarkan Takdir Memainkan Perannya



Buku Kedua 2019
Penerbit Aura
Judul : Naskah Tentang Hati

Juara II Jurnalistik 2015
JUMBARA PMI Kab. Serang


Kontributor Antologi Puisi 2016
Bertema "Hujan"


Juara II Karya Tulis Ilmiah 2017
PORSENI Ma'had Al-Jami'ah UIN Lampung



Antologi Puisi 2017 
Aku dan Sunyi





Pemenang Kompetisi Twitter 2019
#literasibimasislam


Juara III Resensi Buku Hafidz Rumahan 


Aku juga aktif di beberapa komunitas :
Tapis Blogger
Komunitas LIMA
Forum Lingkar Pena Bandar Lampung

Raditya Dika dalam beberapa kesempatan ketika menjawab pertanyaan apa rahasianya dalam menulis, jawabannya sederhana. Satu kalimat yang selalu ku ingat.


"Jadi penulis itu jangan cengeng" ujarnya, kalimat itu ia kutip dari Salman Aristo yang merupakan salah satu mentornya. Itu yang membuat Radit bisa menulis di manapun dan kapanpun. 


Memang, tidak ada rumus yang pasti dalam menulis. Tak perlu dramatisasi hanya karna menunggu mood menulis. Mempersiapkan kopi, mendengarkan lagu-lagu sendu, itu tak perlu. 


"Jangan cengeng!" kalimat itu membekas dibenakku. 


Related Posts:

0 Response to "Author "

Post a Comment