#KKN2

Rabu, 24 Juli 2019

Hari kedua, ya sesuai judul tulisanku kali ini. Ini adalah hari kedua aku berada di Wonokarto. Sebuah Desa dengan populasi binatang sapi lebih banyak dibanding binatang ternak lainnya. 

Kami belum punya program kerja, btw. Tak ada rencana-rencana pasti mengenai hari ini akan ke mana. Kami hanya mencari kesibukan, yang jelas adalah pembicaraan semalam sebelum tidur menghasilkan keputusan "Kunjungan atau Silaturahmi" adalah target kami minggu ini. 

Tidak terlalu pagi, rumah yang pertama kali kami kunjungi adalah rumah kepala desa. Aku bersama seluruh anggota yang masih sangat menjaga sikap aslinya karena belum mengenal terlalu lama, berjalan di bawah cahaya matahari yang menyengat. Tak jauh, hanya 5 menit dengan berjalan kaki. 

Sesampai di rumahnya, kami menunggu cukup lama. Pak Kades di Desa ini memang terkenal dengan mandinya yang lama, itu kami ketahui dari warga Desa Wonokarto sendiri. Selepas mandi dengan wajah yang tak tampak basah, kami hanya berbincang sejenak. Beliau hendak pergi menemui TNI untuk perencanaan abdi karya di Desa ini. 

Beberapa kalimat basa-basi memancing kami ikut serta untuk ikut satu mobil dengannya. Jalanan yang jujur saja tak ada romantis-romantisnya karena membuat perut sakit membuat beliau menjelma menjadi seorang tourguide, menceritakan tiap lekuk bangunan atau lokasi-lokasi yang kami lewati. 

Tak jauh dari tempat yang kami tuju, terdapat sebuah wisata Desa berupa embung dengan berbagai spot foto yang tidak terawat. Di atasnya adalah lintasan balap yang biasa digunakan untuk kejuaraan motor cross. Bu Kaur bilang, wisata tersebut tidak terurus sebab musim kemarau yang berkepanjangan, dilain hal pemuda Desa yang tidak bergerak jika tidak dipantau oleh tetua-tetua di Desa Wonokarto ini. 

Selepas melewati lintasan balap, kami juga melewati sebuah pabrik yang dibuat Desa sebagai tempat membuat kerajinan dari bambu yang sejauh ini masih dibuat di rumah-rumah warga. Mesin dengan harga yang tak murahpun disimpan di dalamnya, belum digunakan karena aliran listrik yang tak kuat menjangkaunya. Kami tak sempat masuk ke dalam, tak ada yang mengajak dan tak ada apa-apa di sana kecuali mesin yang diceritakan oleh Pak Kadus yang masih menjelma sebagai tourguide. 

Tak jauh dari pabrik kerajinan bambu itulah beberapa abdi negara berpakaian loreng-loreng berdiri tegap. Dengan wajah hitam pekat karena kerap berdialog dengan matahari tanpa pakai sunscreen seperti gadis kebanyakan.

Di depan sekolah SMKN 1 Sekampung kami bercengkrama dengan mereka, pembicaraan tanpa tema. Hanya diselingi ajakan program abdi karya yang tak pasti akan dilakukan pada tanggal berapa. Kami berdiskusi tanpa atap di depan sekolah ini, merapatkan badan satu dengan yang lainnya. Kami tak terbiasa, tak  sama kuatnya dengan bapak-bapak TNI yang bila berdiri sejajar denganku membuat rahangku mendongak ke atas. 

Setelah percakapan singkat dengan bapak-bapak TNI satu di antara kami mengusulkan untuk bersilaturahmi ke sekolah SMK ini. Dengan alasan tanggung sekali sudah berada di sini, padahal tetap saja kami belum memiliki progja hingga tidak tau alasan lain ketika ditanya apa yang akan dilakukan selain bersilaturahmi. 

Sebuah nasib baik bagiku karena saat itu kepseknya sibuk, sedang ada akreditasi di sekolah ini. Aku berterimakasih dalam diamku, biarlah jangan bertemu. Kami tidak ingin terlihat bodoh tentunya, karena belum tau program kami di sekolah ini. Hingga selepas menunggu kepsek beberapa menit kami memutuskan untuk pergi ke kantin sekolah karna dahaga dan lapar yang tak bisa dicegah.

Hanya dengan Rp. 5.000 semangkuk mie ayam terhidang di hadapanku. Di sini memang semurah itu, biaya hidup yang berbanding terbalik dengan di kota. Entah, sudah siklusnya begitu bukan? di sini juga tak ada apa-apa, foto copy-an saja hanya ada satu-dua di antara luasnya desa.

Sementara kami kenyang, ternyata Pak Kades sudah menunggu kami untuk pulang. Beliau mengantarkan kami sampai ke Balai Desa yang menjadi rumah kami, duduk bercengkrama sebentar, disuguhkan kopi, sholat dzuhur, lalu pamit pulang. 

Selepas rutinitas yang padat, tak ada pilihan selain tidur siang tentunya. Ya, aku ngantukan. Hehe. :")
Sorenya kami mesti mengunjungi TPA, sesungguh hanya aku dan satu orang rekanku bernama Indri, seorang santri salafi semasa SMA dulu. TPA yang kami datangi adalah TPA Muhammadiyah, ada beberapa kelompok di Desa ini yang hidup rukun, aku yang pada dasarnya belajar dengan guru ngaji NU tak merasakan pertentangan banyak seperti yang orang lain ceritakan. Bagiku semua sama, hanya soal fiqih dan beberapa hal dalam prosesi beribadah. 

Setelah pulang dari TPA, aku tak berminat melanjutkan tidur siangku. Ku sambangi tempat bermain anak-anak, bertemu dengan Jen anak kecil yang lucu. Aku bermain prosotan terpancing oleh tawa mereka yang nyaring, di ayunan ada dua rekan KKNku bersama anak kecil lainnya seraya mengobrol ringan, aku tidak tau mereka pusing atau tidak karena gerakan ayunannya. 


Di samping taman bermain ini, ada Bela yang tinggal di rumah seorang bidan. Bela adalah kucing kecil jenis persia atau apa, aku tidak terlalu paham. Hanya saja, bulu-bulunya cantik. Namun mega-mega yang kian tampak di langit mengingatkanku untuk pulang ke posko. 

Malam ini, ketika hari telah padatnya. Anak-anak kecil mengunjungi posko kami untuk belajar padahal jelas sudah jadwal bimbelnya siang hari :") namun profesionalitas adalah hal yang mesti dijunjung tinggi dalam sebuah pangabdian masyarakat, bisa atau tidaknya masyarakat tak ingin tau alasanmu apa. Terlebih dengan almamater universitas islam, jangan memalukan diri menolak tawaran kultum di depan umum hanya karena alasan tak siap, itu adalah resiko dan hidup selalu bicara tentang itu. 

Aku, Gilang dan Sherly, mengajari anak-anak Desa malam ini, sisanya pergi ke rumah perangkat desa untuk bersilaturahmi. Karena kecintaanku pada bahasa inggris, ku ajari anak-anak dengan pelajaran ini. Satu di antaranya adalah lagu Twinkel-twinkel little star yang menjadi bahan ledekkan teman-teman ketika bercanda dengan menyanyikannya ketika aku kesal. 

Hari kedua yang melelahkan, dengan padatnya acara tanpa program kerja, hari kedua yang melelahkan, sejujurnya aku sedang ingin pulang. :")





















































Related Posts:

0 Response to "#KKN2 "

Post a Comment