#KKN3

Kamis, 25 Juli 2019

Entah tanggal berapa, mari sebut saja hari ketiga. Begitupun hari-hari ke depan. 

Sejak pertama kali tinggal di tempat ini, aku sudah mengazamkan diri untuk bangun pagi dan langsung mandi. Meski tentu saja mungkin hal sederhana itu, belum tentu berjalan baik. Selepas sholat dan mandi pagi, aku membuat susu coklat hangat yang aku minta dari teman sekamarku. Ohiyaa, di rumah ini hanya ada 3 kamar, 2 kamar perempuan dan 1 kamar laki-laki. Aku mengisi kamar paling depan bersama 3 rekanku, Cahya dan Vio yang merupakan gadis Lampung, serta Zia seorang gadis dari Way Kanan, yang sangat kental dengan Jawa Kromonya. 

Selepas membuat susu hangat, ku lihat beberapa buku yang sengaja ku bawa tuk menemaniku selama pengabdian ini. Buku bersampul biru, dengan seorang gadis yang berdiri di samping pohon bernama Kukila menemaniku pagi ini. Ku baca seksama tiap huruf, kata, dan kalimat, cerita di dalamnya yang diisi oleh sekelumit kisah dalam berumah tangga, yang melekat dalam ingatanku adalah cerita seorang istri yang mesti memakai celana dalam besi sebab perintah suaminya. Istrinya sejak kecil ditanamkan untuk menjaga rahasia, termasuk hal yang dilakukan suaminya kepadanya. Meski hanya bisa ke kamar kecil pagi dan malam hari ketika suaminya berangkat dan pulang kerja, ia tetap menampilkan senyum terbaiknya karna ingat pesan ayahnya. Hingga, pada suatu ketika suaminya selingkuh, ia hanya diam saja, karna ia ingat pesan ayahnya bahwa ia harus menjaga setiap rahasia. Namun ternyata suaminya juga tak menyadari suatu hal, si istri berselingkuh juga dengan tukang duplikat kunci, dan itu adalah rahasia yang tidak akan dijabarkan olehnya seperti aib suaminya. 

Pagi ini aku tersenyum-senyum sendiri membaca ending satu cerita di antara deretan cerita pendek Kukila, siapa sangka seorang duplikat kuncilah penyebabnya. 

Selepas pagi yang sendu karna berbalut kabut, dan aku cekikan di gonggo posko seorang diri padahal teman-teman lain berbenah, aku mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah dasar yang tentu saja jaraknya tak jauh dari posko kami. Aku datang ramai-ramai, tujuan utamanya adalah silaturahmi lalu meminta izin jika ada kesempatan untuk berkenalan dengan peserta didik di sekolah ini. 

Tak ada kepala sekolahnya, itu berarti tak ada keputusan yang kami dapat. Ku putuskan untuk bertukar ponsel dengan Ibu Nurhayati salah seorang guru senior yang menemani kami berbincang di kantor. 

Siang benar-benar menyengat kulit ketika kami meminta untuk pamit, maka tanpa dikomando langkah kami tiba di warung es tebu mas prengki. Beliau merupakan mantan ketua pemuda di desa ini, dengan rambut kemerah-merahan gaya kebarat-baratan, tampak manis dengan bentuk rahangnya yang tegas. 

Bisa dibilang badanku lumayan ringkih, perjalanan kecil seperti pagi hingga siang hari ini membuat lelah. Maka ku biarkan diri beristirahat, lalu selepas ashar pergi berkunjung ke TPA Muhammadiyah. Di kampung ini terbagi beberapa kelompok memang, tapi itu menyenangkan saja sebab kami bisa mengenal pengetahuan baru dari orang-orang yang baru kami kenal juga. Niat meminta izin untuk membantu belajar seraya mengajar di TPA inipun berakhir dengan curhatan ibu-ibu guru ngaji seraya menangis, menceritakan tentang penyakit rahim sejenis kista. Salah seorang di antara beliau-beliau tersebut, sudah diangkat rahimnya belum lama. Tampak masih muda dan cantik, satu lainnya menangis sejadinya karna ibunya baru saja selamat dari operasi kista padahal telah lanjut usia, rawan terjadi kegagalan operasi. 

Ah, aku ingin menangis sore itu tapi ku sekat karna tak ingin membuatku larut. Biarkan rasa simpatiku mengalir tapi tak terlalu deras. Desa sedang kemarau, tapi sore ini rintik derai hujan begitu tampak.

Adzan magrib berkumandang kencang, masjid tepat berada di belakang posko kami. Selepas membaca lantunan ayat suci aku duduk bersandar pada tembok, membaca tiap email yang masuk. Ada sebuah email dari Bloggercrony di sana, tentang sebuah perlombaan ibu kota baru pelajar dan mahasiswa. Ada waktu satu bulan, ku siapkan bahan mulai malam ini juga.

Beberapa orang yang kurasa tepat ku ajak berdiskusi seputar tema yang tertera, di antaranya adalah Ridho. Beliau rekan lelaki KKN ku yang berasal dari jurusan hukum, suka bermain games dan berceloteh seorang diri. Lainnya, Alfian Azis. Seorang penulis cerpen lulusan hukum juga, aku mendapat pencerahan banyak darinya sebab kecermatannya dalam bicara, kejelasannya dalam membedah suatu tema.

Ketika Gilang dan Fachri pergi yasinan karna ini malam jum'at, aku melanjutkan menulis blog, sisanya dengan aktivitas masing-masing bersama ponselnya, sebagian ada yang terlelap. Jam 10 malam kami bergegas rapat, lalu kembali terlelap.

Ini hari ketiga, semoga ke depan berjalan sesuai rencana. 




Related Posts:

0 Response to "#KKN3"

Post a Comment