#KKN1

Selasa, 23 Juli 2019
Hari ini ketika matahari sedang tinggi-tingginya, aku pergi seorang diri untuk mengikuti pengabdian masyarakat bersama mahasiswa kloter akhir lainnya. Sebuah pelosok desa yang kami tuju, bersama 3 bus yang normalnya ngaret beberapa jam. Ya, itu normalnya. On time bukanlah hal yang wajar di sini, atau bahkan di tempatmu juga.

Aku menggeret koperku sendiri, setelah berbicara melalui video bersama ayahku. Tak ada yang melepas kepergianku secara langsung meski dua hari berturut-turut aku mengantar teman-teman terdekat yang memaksaku menggantikan peran keluarga mereka. Entah, mungkin bagi sebagian orang peristiwa seperti itu amat berharga. Sejujurnya bagiku tidak, ini  bukan alasan karena aku melepas diriku sendiri. Tapi realitanya memang begitu, aku merasa tak ada sedih-sedihnya. Aku terbiasa pergi sendiri, bahkan tak terasa sudah genap 3 tahun aku menjadi anak rantau tanpa orang tuaku tau bentuk bangunan kampus hijauku.

Seperti biasa, aku duduk menghadap jendela kaca bus yang transparan. Menatap sederet aktivitas, deretan manusia berlalu lalang dengan kendaraannya. Atau, rumah yang menampakkan deretan tawa di pelataran. Meski beberapa terkesan angkuh dengan pagar-pagar menjulang tak mampu ku terka, sedang apa penghuni di dalamnya?

Sebagian besar perjalanan ku isi dengan menelisik wajah seseorang di antara tatap kosong mataku yang seolah masih tertuju pada jendela kaca mobil. Aku tak lagi di sana. Tapi di siang hari yang dingin karna AC mobil ini, aku tak ingin bicara perihal hati. Setidaknya, tidak sekarang.

Hari pertama KKN yang sendunya mengambang. Aku baru saja ingin tenggelam dengan pesona alam perjalanan kami, seolah benar-benar menghirup udara segar di luar jendela kaca. Tapi segelintir manusia begitu bising. Tak memberi jeda kami berpikir tenang untuk mengawang.

Ingin mengumpat, tapi biarlah. Lagi pula aku tak cukup gila melarang orang gila yang teriak-teriak sepanjang perjalanan.

Apa kabar mereka selama pengabdian 40 hari ke depan?
Akankah ditimpuk masyarakat karena suaranya yang tak mampu dikendalikan?

Sayangnya aku belum mendengar kabar itu, meski sudah 4 hari pengabdian berlangsung. Hari ini, hari ke 4 memang benar adanya. Tapi aku ingin bercerita seolah aku masih ada pada hari itu, maka ku biarkan diriku kembali.

Belum sampai pada Desa yang aku tuju bersama 11 orang yang karna takdir satu kelompok denganku kami berhenti tepat satu Desa sebelum Desa Wonokarto yang kami tuju. Desa Girikarto, di depan balai Desanya yang berseberangan dengan Masjid kami berhenti menunaikan kewajiban shalat ashar sembari mencari ketenangan, tak lagi bising terdengar.

Pakaian hitam dengan jaket berwarna coklat susu, serta kerudung berwarna hijau pekat ku tutupi sempurna dengan mukena. Melafalkan baris demi baris ayat Al-Qur’an meski sesekali pikiranku mengingat semua hal yang terlupa sebelum sholat. Aku sholat, semoga aku benar-benar sholat, semoga sholat 20 tahunku aku benar-benar sholat, semoga Allah meridhoi sholatku.

Mobil pribadi yang entah merk apa bertengger di depan desa menanti kami, mengantar ke Desa Wonokarto yang memicuku menulis ini. 40 hari, 40 peristiwa ke depan, kan ku kisahkan dalam kata.

Ini hari ke empat, ku kembali pada hari pertama.

Related Posts:

0 Response to "#KKN1"

Post a Comment