Sekelumit Rasa dalam Islam



Hidup di tempat dan waktu yang tidak pernah disepakati dengan diri sendiri ketika terlempar ke dunia, tempat dimana merasakan pahitnya kefuturan bukanlah hal yang mampu direncakan olehku dan kita. Hidup di Kab. Serang, Provinsi Banten sejak ibu dan bapakku membangun rumah sederhana di Kp. Cibadak Des/Kec. Jawilan RT/RW:016/005 yang sekarang telah dikelilingi deretan pabrik milik mereka yang tentu saja tidak terlahir sebagai pribumi. Saat ini, mendekati tahun kedua aku kembali ke Babakan Loa, Pesawaran, Lampung Selatan tempat yang memberiku nama Siti Rahayu Fadilah pada 31 januari 1998, sebuah desa pertambangan emas yang sedang mahsyur sukses mengacaukan mindset para pemuda untuk tak bersekolah karena merasa mampu mencari uang tanpa pendidikan. Aku kembali, setelah 18 tahun hidup di Serang yang terkenal sebagai kota industri, melanjutkan strata 1 dengan jurusan yang menyenangkan seputar pendidikan, emosi dan kepribadian. Ya, bimbingan dan konseling. Setidaknya itulah secerca problematika yang bisa menjelaskan jurusan tempatku belajar di UIN Raden Intan Lampung, kampus hijau.

2016 adalah tahun pertama aku berkesempatan menjadi seorang santri. Tinggal di Ma’had Al-jamiah, sebuah pesantren kampus hingga rasanya waktu begitu terbatas untuk mengenali dunia luar yang katanya menyenangkan tanpa segala kekang dan aturan, mulanya aku bosan benar-benar bosan mengenal islam lewat aturan pesantren namun Allah memberi jawaban atas keluh yang ku simpan.
“Kalian salah mencoba, seharusnya rasakan dulu hidup sendiri di luar, baru rasakan hidup dipesantren dan bandingkan.” Nasehat lantang Ustad Asep Budianto beliau adalah bendahara Ma’had Al-jamiah yang kami takdzimi, kekata itu terlontar ketika beberapa santri memutuskan tuk mengikuti kata orang, hidup di luar pesantren itu menyenangkan.

Aku mulai mencintai waktu sebagai santri setelah mendapat banyaknya petuah dari ustad dan musyrifah, setelah aku menyesuaikan diri 2 semester bersama segala hal baru yang mungkin tidak akan ku temui ditempat lain, itu bukan fase yang mudah tuk dilalui seseorang yang terbiasa pulang malam karena organisasi dan memiliki egoisme diri yang tinggi sepertiku. Iqob atau hukuman yang tak hentinya karena tak halaqah dan tutorial, manajemen waktu yang buruk, tak terbangun padahal jaros (bel) selalu saja menjerit sebelum fajar malu-malu terbangun dari lelapnya, juga sulitnya menerapkan bahasa arab atau inggris dalam keseharian. Ternyata disini indah, seperti salah satu judul lagu dari band nasyid Gontor, lagu yang pernah  aku nyanyikan bersama santri lainnya ketika muhadharah, menjadi kenyataan. Di samping sulitnya menghafal dan mudah melupakan hafalan, itu adalah dinamika hidup seorang santri. Namun, ini bukanlah awal aku tersesat di jalan yang benar ini. Lantunan lagu Raihan adalah salah satu di antara pengiring langkah berhijrah.

Iman tak dapat diwarisi, dari seorang ayah yang bertakwa..
Ia tak dapat di jual beli..
Ia tiada di tepian pantai..
Walau apapun caranya jua engkau mendaki gunung yang tinggi..
Engkau merentas lautan api..
Namun tak dapat jua dimiliki..
Jika tidak kembali pada Allah..

Itulah beberapa bait lagu yang masih saja terngiang di telingaku, mengingatkanku akan semangatnya mengikuti berbagai rutinitas yang ada di lembaga dakwah. Ketika aku memulai dengan menjadi bagian dari berbagai organisasi SMA dengan niat mengalihkan diri dari kekosongan. Tepat setelah naik kelas 2, aku masih bertahan dibeberapa organisasi dan benar-benar merasuk kedalamnya, seperti MPK yang mengamanahkan posisi sekretaris, PMR sebagai wakil ketua, penggiat operasi lapangan di PRAMUKA dan tentunya ROHIS yang memaksaku berhijab karena malu melihat rekan-rekan satu halaqahku. Itu semua terjadi pada periode (2013-2014). Serta, lolos menjadi bagian dari beasiswa perintis IV SNAB UNTIRTA pada bulan mei 2015 hingga saat ini.

Namun mencintai islam tak sesederhana itu, hijrah penampilan tanpa pemikiran belum cukup rasanya. Halaqah rutin setiap pekan yang semestinya jadi penguat justeru terus saja menyeleksi kader, bosan adalah salah satu sebab kepergian mereka. Jangan tanya aku, entah sudah berapa kali aku mencoba melarikan diri, namun Allah tetap saja membuatku bertahan bersama 7 kader akhwat dan 4 ikhwan, aku dan mereka hanyalah sisa dari banyaknya anggota yang mendaftar di awal. Sunatullah adalah kata yang sering menjadi penguat dari murobiku, bapak Ajiji., S,Kom seorang guru bimbingan dan konseling yang mengulang pendidikan S1 nya dijurusan tersebut merangkap sebagai pembina pramuka dan murobi di Rohis. Beliau, adalah alumni dari SMA tempatku bersekolah dan menjadi ketua Rohis semasanya.

Kita semua tau, bahwa lembaga dakwah dan pesantren memiliki beberapa perbedaan, tapi yang nampak bagiku bukanlah itu. Dua tempat aku belajar mengenal agama ini adalah perbedaan rasa yang menyenangkan. Pesantren tempatku tinggal saat ini begitu kental dengan Nahdatul Ulama, suatu mazhab yang menurut masyarakat tidak membunuh tradisi masyarakat, bahkan tetap memeliharanya, yang dalam bentuknya yang sekarang merupakan asimilasi antara ajaran Islam dan budaya setempat. Sedangkan lembaga dakwah adalah suatu gerakan yang mengajarkanku cara memiliki jiwa kepemimpinan, membuatku mengerti hakikat wanita yang sesungguhnya serta berbagai hal menarik dalam kaderisasi lainnya. Itulah yang aku rasa, bahwa islam banyak rasanya.

Beriringan dengan hal tersebut, problematika hijrah pemikiran belum usai selepas hijrah penampilan. Lingkungan yang membentuk kepribadianku sedari kecil sulit sekali menerima jilbab lebar membalut tubuhku. Beberapa anggota keluarga tak menunjukkan itikaf baik untuk niat baikku, sering kali mengkritik dengan beberapa kata yang begitu menyakitkan hati. Aku sempat marah tapi berakhir lelah karena marah adalah salah, hingga pada akhirnya aku hanya mampu menjelaskan perubahanku adalah kewajiban dan membiarkan mereka larut menyesuaikan diri dengan perubahan itu.
Allah mudah sekali membolak-balikan hati seseorang, perlahan semuanya berubah begitu saja seiring detik yang bergeser tak mampu ku tahan, entah dengan kata apa harus mendefinisikan berbagai keajaiban. Bapak yang menjadi seorang ayah dan imam ideal bagi keluarga akhirnya menjadi orang yang paling mendukungku, ibu menjadi semakin shalehah dengan jilbab yang kini membalutnya, juga adik kecilku yang memiliki pemikiran lebih jauh dari usia ia sekarang, tinggal di pesantren salaf di Kab. Serang jarang sekali ingin pulang karena beralasan, “Di rumah itu sholat subuh sama ishanya telat terus.” Katanya, ketika ia liburan MTS kelas 2.

Itulah awal, lalu aku rasanya menyesal karena ketika Allah memberi apa yang aku sematkan di hati terdalam pengetahuanku akan islam masih sangat dangkal. Semua orang bilang bahwa hijrah butuh landasan ilmu, ingin lebih baik artinya harus hidup di lingkungan yang baik agar menjadi baik. dan lalu diriku mengikuti alur begitu saja, entah mendapat ilham dari mana hingga memutuskan melanjutkan ke Universitas Islam dan tinggal di pesantren seorang diri tanpa satupun teman semasa SMA yang mendaftar bersama di tempat ini, di UIN Raden Intan beserta Ma’had Al-jamiah yang membimbingku mengenal lebih dalam tentang islam.

Related Posts:

0 Response to "Sekelumit Rasa dalam Islam"

Post a Comment