#KKN19

Sabtu, 10 Agustus 2019

Aku suka angka 10, bukan hanya saling melengkapi karna berbeda tapi juga menggenapi sebab mereka sama. 

Angka 10 berlaku untuk banyak hal. Seperti anggota di posko yang saling menutupi kekurangan satu dan lainnya. Tentang sepasang kekasih halal yang saling menggenggam atas perbedaan karakter namun satu tujuan. Seperti seorang sahabat, semisal aku dan Alan.

Aku jarang menceritakannya, pada tulisan-tulisanku di sini justru tak pernah. Aku mengenal Alan kali pertama di Ma'had tempat kami belajar, tidak hanya ilmu agama tapi banyak keterampilan lainnya.

Alan, seorang penghafal Qur'an yang tak bisa ditebak dari penampilan luarnya. Gadis berhijab dengan gayanya yang pecicilan, sasaran empuk bagi pengurus untuk memberikan hukuman. 

Aku tak pernah satu ruang yang sama dengan Alan untuk berbagi tempat tidur, tapi kami dekat sebab kerap dibimbing di halaqah yang sama. 

Sebagai teman, ia memang tak selalu berperilaku menyenangkan. Aku juga sama sebagai teman, kerap membuatnya kesal. Beberapa sikap yang tak ku suka adalah Alan kerap tak bisa menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Ia kerap tak bisa mengontrol suara, dan kadang tak bisa menanggapi orang lain ketika bicara.

Tapi, Alan baik dengan segala kurangnya. Semuanya jadi tertutupi sebab ia adalah sahabatku yang bisa bangkit ketika diingatkan.

Aku yang keras kepala juga kerap tak mampu mengerti kondisinya. Tapi, kami masih bersama mendekati angka 3 tahun ini.

Alan menyambangi poskoku hari ini, jarak yang tak dekat ia tempuh dari poskonya hingga sampai sore hari ketika aku sedang memasak jamur crispy. 

Ia datang bersama seseorang yang baru saja ku kenal darinya. Satu-satunya teman satu posko yang lebih mengertinya dibanding yang lain.

Ku dengar, kelompok KKN mereka tak memiliki program kerja apapun. Kegiatan mereka hanya tidur dan bermain. Alan beberapa kali mengajukan program kerja, tapi justru tanggapan anggota lain adalah menolak dengan alasan tugas mereka di sana bukankah hanya untuk mencari nilai.

Kali pertama, Alan membuat proposal sendiri. Mengajukan pengadaan Al-Qur'an untuk masjid di Desanya mengabdi ke Kemenag. Kawan-kawannya hanya tertawa riang ketika proposal itu mendapat sambutan yang baik, yaitu acc. Tapi itu tak merubah apapun, semangat mereka tak tergerak sebab apa yang tlah Alan lakukan. 

Hingga kedatangannya ke posko ini adalah untuk bercerita keluh kesahnya. Merasa malu atas perilaku teman-temannya yang di antaranya berkaraoke ketika adzan maghrib menggema.

Tak ada program kerja, tak menjaga etika. Dan terjadinya pertengkaran antara berbeda suku anggota di posko. Lampung dan Jawa, berdebat perihal kelebihan masing-masing suku mereka hingga menimbulkan petaka. Melibatkan banyak orang termasuk keluarga mereka. 

Alan berkeluh kesah, atas kesadaran teman KKN nya yang sulit didapatkan. Atas program kerja yang jangankan ingin ditunaikan, dirancangpun tak pernah dilakukan.

Alan, aku, dan teman KKN Alan penuh kekurangan. Semoga Allah memberi kami hidayah atas segala kesalahan yang kami lakukan.


Related Posts:

#KKN18

Jum'at, 9 Agustus 2019

Tidak terasa sudah tiga minggu

Baru tiga minggu di tempat ini

Beberapa orang di Posko mengatakan kalimat pertama dan kedua berdasarkan apa yang mereka rasa. Kalimat pertama tentu untuk orang-orang yang melakukan banyak hal hingga waktu berjalan begitu cepat, sedangkan kalimat kedua tentu untuk orang-orang tidak sabar ingin pulang. :)

Bosan itu datang karna tidak melakukan apapun bukan? Iya tentu saja, tidak bisa dipungkiri lagi. Seperti hari ini. Kami hanya tidur seharian tanpa melakukan apapun, kami atau hanya aku entahlah. Tapi aku melihat yang lain melakukan hal yang sama.

Tidur, sebenarnya apa tidur itu. Tidur adalah istirahat, tapi dalam tidur kita masih bisa beraktivitas dalam mimpi. Mimpi, apa itu mimpi? Mimpi menurut Freud adalah manifestasi dari keinginan dan harapan kita.

Tidur artinya merealiasiakan harapan dan keinginan kita melalui mimpi. :)

Baiklah, ternyata dengan tidur kita bisa merealisasikannya tanpa usaha apapun, yaps.. Tidurlah jika kamu ingin sukses, tapi jangan pernah bangun, karna kesuksesanmu itu hanya mimpi.

Cukup meracau tidak jelasnya.
Kali ini aku ingin membahas hal yang berkaitan dengan kalimat-kalimat tidak berfaedahku di atas.
Mimpi itu bisa menjadi terapi, kita dapat mengontrolnya sesuka hati. Kalian pernah mendengar, membaca, atau mengetahui tentang hal ini?

Jika belum mari kita bahas, sedikit saja setidaknya. Jika kalian tau, siapa tau pembahasanku berikut menambah pengetahuan kalian. Lucid dream, itulah yang aku maksud.

Sebuah metode mengatur mimpi kita sendiri, di mana kita sadar bahwa kita sedang bermimpi. Sadar tidak sadar tanpa direncanakan kita tentu pernah mengalaminya. Tapi taukah kalian, bahwa lucid dream ini bisa dipelajari.

Untuk orang-orang penderita sakit, seperti lumpuh. Menggunakan lucid dream ini sebagai metode terapi di antaranya bermimpi berjalan, harusku ingatkan bahwa ketika lucid dream terjadi kita tidak sepenuhnya tidur, kita bisa mengatur diri kita. Menjadi apapun yang diri kita mau. Bahkan dari artikel yang pernah ku baca, ada beberapa orang yang ingin menjadi robot dan merealisasikannya ketika lucid dream. Pun kamu jika ingin menjadi gagang pintu, remot TV, tentu saja bisa.

Nah, bagaimana cara mempelajari lucid dream itu sendiri???
Sebelum masuk pada fase lucid dream, kita mesti mengalami sleep paralysis terlebih dahulu. Atau biasa orang sebut kelumpuhan sementara. Sebagian orang mengatakan kelumpuhan sementara ini sama seperti ketindihan atau rep-rep.

Bagi yang pernah mengalami ketindihan mesti tau bagaimana rasanya. Tidak bisa bergerak dan melakukan apapun. Badan kaku, merasa sudah berteriak-teriak tapi teman disebelahnya saja tidak mendengar.

Itulah proses terberat yang mesti dilewati ketika kita ingin mengalami lucid dream, dan kebanyakan orang gagal pada fase ini. Disebabkan sudah takut terlebih dulu hingga terburu-buru untuk bangun. Ketika pada fase sleep paralysis biarkan saja diri kita, karna itu adalah proses menuju lucid dream, suara teriak-teriak ditelinga saat sleep paralysis atau penampakan-penampakan seram itu adalah manifestasi dari apa yang kita tonton sehari-hari. Bukan karna pengaruh mistis, meski tidak bisa dipungkiri kebanyakan orang meyakini demikian dan tidak bisa disalahkan.

Nikmati saja proses sleep paralysis kita, dan tau-tau kita sudah berada di ruang yang tak terlalu jelas di mana. Selanjutnya kita bisa mengatur diri kita menjadi apapun yang kita mau atau pergi ke manapun kita mau. Aku sendiri telah mengalaminya beberapa kali, kegagalan terbesar tentu dibagian sleep paralysis. Para ulama berpendapat lucid dream ini diperbolehkan untuk hal-hal positif, karna tidak sedikit orang yang menggunakan lucid dream untuk melakukan sex di dalam mimpi bersama orang yang ia sukai. Dalam ilmu hipnoterapi, dosenku sendiri pernah mengatakan bahwa lucid dream adalah salah satu cabang dalam keilmuan tersebut, dan itu diperbolehkan. Meski yang mesti kita ingat tentu saja, lucid dream berpengaruh pada kualitas tidur kita.

Ada dampak negatif dan positif dari suatu hal, meski menjadi kulkas atau spons sabun cuci piring mungkin menyenangkan, tapi kita mesti membatasi diri. Jangan sampai terlena karna menyenangkannya hidup dalam mimpi.

Ingat kalimat tidak bergunaku diawal bukan :)

Hari kesekian di tempat ini, banyak hal yang ku mimpikan di tempat ini meski tak dalam kondisi lucid dream. Ah, itu yang dinamakan merindu bukan?

Related Posts:

#KKN17

Kamis, 8 Agustus 2019

Hari ini hari sabtu, rencana ke Kemenagpun tak jadi. Selain H-1 lebaran idul adha, hari ini juga pasti kantor pemda libur, tak masuk kerja. Hari ini tak ada cerita, maka aku ingin menceritakan hal-hal yang mungkin sebenarnya tidak berguna.

Aku ingin membahas permasalahan-permasalahan yang timbul setelah dua pekan berumah tangga bersama mereka. Berikut pemasalahan yang aku rasakan, meski aku tau dari kita pasti mengalami pengalaman yang berbeda..

1. Jadwal Piket

Yah, bukan hanya di sekolah dan rumah kos yang jadwal piketnya tidak teratur. Di poskopun aku mengalaminya, beberapa orang rajin dan beberapa orang kebanyakan berleha-leha. Ada peraturan yang telah dilanggar, jadwal adalah janji, tanggung jawab, dan kesepakatan yang disepakati secara sadar. Tapi sayangnya, beberapa orang tidak juga sadar meski namanya telah tertulis jelas oleh tinta yang kami tempel besar-besar di sebelah cermin.

Malas, tidak mau mengerjakan apapun, tidak peka terhadap kesusahan orang, mungkin sudah mereka (sipemalas) lakukan di rumah atau kos selama ini hingga melekat dalam diri, itu memang tak mampu diubah sebentar, perlu ada nasihat-nasihat yang bisa didengar, atau bahkan hingga teguran. Aku pernah ada diposisi malas, lalu beberapa orang menyadarkan. Maka ku sadari bahwa orang-orang yang malas, suatu ketika akan berada diposisi yang menegur mereka.

2. Cinlok

Cinta selalu mendominasi setiap cerita, entah itu di mana latar belakang tempatnya. Rumah sakit, cerita cinta antara pasien dan dokter. Di sekolah karna belajar diorganisasi yang sama, atau bahkan di jalan karna tak sengaja menabrak seperti sinetron Indonesia kebanyakan.

Pun, di posko kami. Sadar tidak sadar, meski semua diam, tapi rasa tak mampu ditutupi dengan kalimat "Tidak, kami hanya sebatas teman" Tidak, kalian tidak bisa menutupi bahasa tubuh kalian. Perhatian dan kepedulian natural terlontar dalam diri ini tidak bisa dicegah.

Cinlok ini kenapa saya masukan menjadi salah satu permasalahan? Yaps, mari kita jabarkan secara jelas. Apakah definisi masalah itu sendiri?

Menurut KBBI masalah adalah sesuatu hal yang harus diselesaikan. Kenapa cinlok antara dua sepasang teman KKN harus diselesaikan?
Bukan, bukan cintanya. Tapi adalah sikap mereka harus diselesaikan, alias disudahi. Beberapa omongan warga mulai tidak enak didengar perihal dua insan yang bersama kemanapun mereka pergi, itulah kenapa cinlok dalam kasus ini menjadi permasalahan. Kami tak pernah mempermasalahkan perasaan mereka, itu adalah hak setiap orang untuk mencintai siapapun, tapi mengganggu kemaslahatan semua pihak karna cinta lokasi mereka itu tidak bisa dibenarkan.

KKN ini mesti banyak pencitraan di depan masyarakat agar tidak menjelek-jelekkan kampus, pahamilah itu. Sebenarnya bukan pencitraan, hanya berperilaku sebaik mungkin agar diterima. Ah, itu pencitraan baiklah..

3. Miskomunikasi

Ini pasti kerap terjadi di manapun kita berada, tapi permasalahan miskomunikasi kami ini lumayan unik. Bukan antara kami dan Desa, atau warga sekitar. Tapi antara suami-isteri kepala desa. h4h4

Iya, begitulah. Istri dari kades tempat kami mengabdi cukup banyak ikut campur dalam agenda-agenda kami, ia merasa bahwa kami tidak melibatkan Desa padahal kami sudah ada pembicaraan formal dengan suaminya. Yups, itulah miskomunikasi antara mereka berdua yang dampaknya kepada kami semua. h3h3

Yaa, setidaknya itulah permasalahan yang kami hadapi sejauh ini. Hmm, yang aku rasakan maksudku. Mungkin meski tinggal dalam satu atap, permasalahan kami tiap orangnya berbeda. Masalah terbesar diri pribadiku sendiri hanyalah, aku tidak suka di Posko terlalu mengandalkan beberapa orang. :)

Entahlah.. aku suka dilibatkan sih tapi tidak suka terlalu diandalkan hingga apa-apa hanya orangnya itu-itu saja. Bagaimana dengan yang lain? harusnya mereka layak mendapatkan pengalaman. Seperti hari ini, ku biarkan menolak tawaran MC, membuka peluang untuk yang lain maju ke depan, buktinya adakan? mereka hanya perlu diberi ruang sepertinya untuk berkembang.

Hari ke-17, sudah hampir 3 minggu di sini. Semoga permasalahan tidak bertambah lagi. :)

Related Posts:

#KKN16

Rabu, 7 Agustus 2019

Aku tidak suka melewatkan suatu hal, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan kewajibanku, janji akan menulis semua cerita setiap harinya mengenai pengabdianku. Hari ini aku diminta menjadi MC, mengisi acara sosialisasi. Aku memang biasa melakukannya, tapi hari ini aku menolak karna beberapa tulisan menumpuk sebab ku tunda-tunda. 

Sudah pernah ku katakan anggap saja hari ini hari keenam belas ketika ku menulisnya, meski kenyataannya tidak. Hari keenam belas, rencananya adalah aku dan Fachri akan ke Kemenag, mengajukan sebuah proposal pengadaan buku-buku untuk TPA/TPQ. Tapi ternyata sebelum berangkat kami mesti membereskan file yang ternyata masih berantakan, mengedit-edit hingga tidak selesai. Bukan karna filenya, tapi karna mati lampu. Hanya ada satu print-an di Desa ini, bahkan di kecamatan pun hanya ada satu, jadi kalian tau keputusannya apa. Ya, tak ada rencana ke Kemenag hari ini. 

Untuk mengisi kegabutan karna gagalnya rencana keberangkatan aku membantu membuat bendera yang akan dipasang dipinggir atas jalan Desa, bendera yang kami buat manual dari kertas minyak untuk memeriahkan kemerdekaan.

Satu rencana yang gagal ini memang membuatku tak memiliki rencana kecuali membuat rencana untuk diriku sendiri, meski katanya hidup tanpa direncanakan itu menyenangkan, dan tentu lebih berisiko menjadi berantakan. 

Hari keenam belas, sepertinya hidup tanpa susunan rencana menyenangkan. 

Related Posts:

#KKN15

Selasa, 6 Agustus 2019

Tugas manusia di bumi adalah ikhtiar. Mengajukan proposal untuk pengadaan buku-buku adalah ikhtiar kami selama di sini. Proposal yang kami kirim ke beberapa instansi baik online maupun ofline. Pengadaan buku-buku ini kami tujukan untuk TPA/TPQ di Desa ini. 


Seperti biasa Ferdi adalah rekan setia untuk berkeliling perihal pekerjaan yang tak mudah. Kami sudah siap-siap sejak pagi hari, menata berkas demi berkas yang akan kami bawa. Tapi fatalnya kami ngaret, bahkan hingga jam 2. Bukan perihal kami, tapi perihal yang memang hanya ada 2. Pun itu satunya baru ada belum lama ini. 

Tujuan kami hari ini adalah TPA/TPQ di seluruh Desa. Tujuan menyambangi TPA/TPQ adalah untuk meminta stampel mereka, yang akan kami tempel di setiap foto bangunan TPA/TPQ yang menjadi lampiran proposal kami. Hingga sore tiba, kami baru selesai. Desa Wonokarto yang terdiri dari 5 dusun ini sangat luas, tak cukup sehari jika ingin berkeliling berjalan kaki. 

Langit telah pekat, dan tak ada siapapun di rumah kecuali aku. Semuanya pergi mengikuti Al-Barjanzi, dan aku tidak. Aku lelah selepas membawa motor Fachri yang bannya kecil juga berisik. Tapi lebih lelah lagi karna menangis. Alasannya sederhana, seperti anak muda kebanyakan. Perihal hati.


Dikesempatan menulis kali ini aku ingin menceritakan seseorang di sela ceritaku tentang KKN ini. Meski ia tak terlibat dalam cerita KKNku, meski ia sedang tidak melakukan KKN juga. Ia bahkan tak tinggal satu provinsi denganku, kami beda kota. Hanya saja pada buku kami yang pertama, kami menerbitkan di penerbit yang sama. Suatu ketika ia mengirim DM padaku berupa ajakan menulis bersama. Ia mendapat voucher terbit berupa novel, tapi karna tak pernah menulis novel, ia mengajakku karna buku pertamaku adalah novel. 

Tak sedikitpun aku atau ia berniat memulai sebuah rasa. Semuanya berjalan begitu saja, atas nama partner menulis. Namun selepas setengah tahun berjalan, kami mulai dekat. Menceritakan banyak hal di luar project kami. Berbagi keluh kesah, hingga menjadi begitu dekat. Pun kami tak pernah mengatakan ingin bersama, aku dan ia bersama seiring senja yang ku temu dengan deretan pesan singkatnya di ponselku. Dan kami menjadi kehilangan arah. 

Kami jarang sekali berdiskusi mengenai buku yang kami tulis. Hanya ada percakapan dua sepasang hati, tentang hal-hal yang tak perlu. Iya, semuanya tak perlu tapi memang menyenangkan. Ia juga menenangkan, menjadi tempatku berkeluh kesah, menjadi rumah ketikaku lelah. Dan ku akui, ia adalah orang yang bisa menanggapi kalimat seseorang dengan baik. Bagiku, ia cocok jadi seorang psikolog atau konselor, karna sadar tidak sadar ia benar-benar menerapkan berbagai teknik yang aku tekuni hampir 4 tahun ini. 

Ia menjadi prioritas, dan itu adalah salah. Bukan sebab aku tak mencintainya karna segala kondisi yang sedang ia alami. Aku percaya bahwa ia akan pulih dan baik-baik saja, lagi. Tapi karna ia mengecoh duniaku menjadi hanya tertuju padanya, lembaran usang tentang mimpi dan harapanku menjadi teralih. Entah, padahal kami memiliki kesibukan masing-masing, tapi ketika ia mencuat dari apapun kesibukan maka kesibukanku teralih padanya. 

Dengan keputusan bersama, kami mengakhiri semua. Berharap suatu ketika temu menyapa, jika memang Allah mengizinkannya. Aku tak ingin memaksa lagi, ku biarkan rindu ini tertuju pada orang yang semestinya. Aku mencintainya, haruskah ku ulangi. Jika tak bersama berarti ini bukanlah cinta. Ini hanya rasa nyaman, atau entahlah. 

Ini hari kelima belas, ku baca pesan singkat kami berulang kali, dan aku menangis lagi. 

Related Posts:

#KKN14

Senin, 5 Agustus 2019

Aku tidak ingin menjadi guru, tapi aku suka mengajar. Maka moment KKN yang beberapa kegiatannya diisi dengan mengajar anak-anak ku manfaatkan sebaik mungkin. Jika bisa atau jika sedang mood maka tiap paginya aku pergi menyambangi TK, membantu mengajar adik-adik lucu yang jika satu orang bertanya, maka yang lain ikut bertanya dengan pertanyaan yang sama. 

Belum sempat mengajar kelas, tiba-tiba Umi memanggilku dan Mbak Lita, meninggalkan Indri di ruang kelas yang berbeda dengan kami. Sebutan Umi sebenarnya tidak hanya untuk satu orang di tempat ini, tapi Umi yang memanggil kali ini adalah Umi pemilik TPA Al-Aulad. 

Beliau memberitahukan kami bahwa kepala sekolah yang kami cari beberapa hari kemarin sudah ada di sekolah, tujuannya yang pertama tentu perihal silaturahim dan sisanya meminta kesempatan untuk mengenal anak-anak SD yang sebagian sudah kami kenali melalui kegiatan bimbel 3x setiap minggu di Posko. 

Di dalam ruang kantor yang tidak terlalu luas, seorang ibu-ibu usia lanjut, berkacamata plus, tampak duduk di kursi yang paling depan, tidak sejajar dengan kursi-kursi lain. Dari situ kami bisa menebak bahwa beliaulah kepseknya. 

Seorang ibu yang memiliki anak se-usia kami juga, dan belajar di tempat yang sama dengan kami. Banyak bercerita tentang kehidupan masa muda dan latar belakang pendidikannya. Wajar saja, usia beliau memang adalah fase ingin didengarkan.

Disela pembicaraan, Bu kepsek menyuguhi gaplek. Sejenis makanan tradisional dari singkong dijemuar hingga kering, dibalut dengan kelapa parut. Putra yang menjadi anak didikku di bimbel melahapnya dengan semangat ketika melewati ruang kantor dan ku minta masuk. Putra, anak kecil yang lucu namun menurutku kurang terurus karna penampilannya yang kusut, bersemangat menjalani hari-harinya dengan tubuhnya yang mungil.

Selepas tujuan kami tersampaikan dan diiyakan oleh pihak sekolah, maka kami putuskan untuk kembali ke TK, tak enak hati pada Indri yang kami tinggalkan tanpa sempat diberi keterangan. Belum lama tiba, anak-anak sudah menggelendot di belakangku. Menyenangkan jika hanya satu anak, tapi bayangkan saja, lebih dari 5. Membuat badan gerah, tapi tidak bisa membuat diri marah.

Hari ini ada mpek-mpek yang kalau tidak salah oleh-oleh orang tua Vio yang mengunjungi menyambut kepulangan kami dari TK, rasa asam-manis-pedas khas air cuka kebanyakan ternyata tidak cukup untuk menahan lapar, h3h3. Akhirnya nasi gorenglah pekerjaan tambahan untuk pencernaanku. 

Sore hari kami mengajar TPA seperti biasa, sebelum itu ku habiskan waktu tuk mendengarkan musik-musik galau, menunjang perasaanku. Aku sedang rindu, itu saja. Rindu siapa, aku pernah menjabarkan seseorang yang ku suka pada hari kemarin, lelaki berkacamata yang sudah tak lagi menyapa, seseorang yang bisa mengerti dengan baik siapa aku. Aku hanya rindu, jadi abaikan saja. 

Alin dan Royyan seperti satu minggu ini, datang untuk latihan perlombaan TPA. Malam harinya aku dan ferdi membuat proposal. Malam harinya begadang hingga jam 2 menonton film. Itu saja agendaku hari-hari terakhir.

Aku bosan. Sebenarnya baru sekarang-sekarang, kemarinpun kegiatannya sama, hanya saja tawa darinya masih menyapa. :)

Related Posts:

#KKN13

Minggu, 4 Agustus 2019

Bangun pagi ku terus mandi, tidak tidak bukan mandi, tapi menulis. Ah, kacau sudah lagu yang ingin ku nyanyikan pagi ini. Aku membuat kesepakatan dengan diri sendiri, kan ku tulis semua cerita selama pengabdianku di sini. Sebagai ajang mengenang suatu hari, sebagai proses mengingat lagi karna beberapa tulisan aku buat selepas hari-hari telah terlewati. Iya, tak semua tulisanku selesai hari itu juga, bahkan terkadang lepas 1 minggu aku tak menulis seperti hari ini. Dengan segala kesibukan, serta kemalasanku h3h3, maka ku tulis sekedar outline pada draft blogku. 

Pagi ini, sebut saja begitu. Aku membantu memasak, aku belum bisa memasak dengan baik jadi tak pernah berani memasak seorang diri. Masakan untuk umat, aku tak ingin membuat mereka sakit perut. Selepas memasak ada Alin dan Royan yang hendak mengikuti perlombaan TPA/TPQ di kecamatan, datang setiap hari untuk disimak bacaannya. Lomba tahfidz dan tartil yang dimentori Mbak Indri dan Mbak Lita, sesekali aku membantu seperti hari ini, Mbak Indri sedang tidak enak badan maka ku gantikan posisinya, meski pada akhirnya ia tetap mementori juga selepas aku. 

Alin mengaji dengan baik, seperti anak-anak lain di Desa ini, meski ia tampak lebih lancar dibanding yang lainnya. Ibu-ibunya juga kerap melakukan pengajian, setiap pekannya bisa sampai 3-4x di tempat dan kelompok berbeda. Jam 1 siang ini agendanya di dusun 4, kami berangkat 4 orang menjadi perwakilan, 5 orang lainnya pergi pengajian ke tempat yang berbeda. 

Seperti biasa tujuan kami datang adalah untuk membantu. Membantu mempersiapkan makan, hingga ritual terakhir cuci piring. Ya, kuliah kerja ngebabu, mungkin lebih tepat. Di tengah-tengah kegiatan makan-makan kami disuguhi es teh padahal kondisi kami sedang terkena sakit secara merata, dan yeah hebatnya aku menghabiskan dua gelas karna tak enak hati dibuatkan hingga dua kali hingga hasilnya sakit kepala selepas pulang dari pengajian. 

Ku habiskan waktu 2 jam untuk tidur, meringankan kepalaku yang berat. Sore ini agendanya adalah senam, seperti biasa aku tak pernah jelas melakukan gerakkan hingga ku putuskan pergi membeli bakso bakar bersama anak bimbelku naik sepeda. 

Malam harinya kami isi dengan rapat berisi keluhan masing-masing, atau evaluasi. Banyak yang ku keluhkan, jujur saja. Tapi aku malas menjabarkannya, suatu ketika aku mengeluhkan ini semua pada An, jawabannya sederhana namun melekat, ku ingat ketika lelah.
"Anggap saja sebagai cari pengalaman, lakukan saja sebagai bentuk ibadah"

Rapat keluhan kami belum usai, ada tamu yang datang. Siapa lagi kalau bukan Pak RT, tapi kali ini tidak datang sendiri, ia bersama Pak Eko, bapak dari Alin yang merupakan seorang bayan. Beliau memberikan info tentang sosialisasi serviks yang akan dilakukan, aku dan ferdiana pindah lokasi, mengerjakan proposal dan pidato untuk perlombaan yang diadakan KUA di kecamatan, hingga jam 1 malam proposal kami baru usai. 

Jujur saja ini melelahkan, tapi seperti kata An, semoga ini menjadi sebuah ibadah bagiku.

Related Posts:

#KKN12

Sabtu, 3 Agustus 2019

Bakar-bakar selalu terkesan seru. Tertawa-tawa menunggu ikan matang. Tersedak asap, dan mengibas-ngibaskan kipas. Apalagi jika dilakukan pagi hari. Ya, tiap pagi bakar-bakar kerap ku lakukan seorang diri, tanpa ikan dan tawa riang. Ku bakar-bakar sendirian, menggunakan korek yang entah milik Gilang atau Fachri. Yang jelas bukan miliki Ridho karna ia tak merokok. 

Tiap pagi aku bakar-bakar, sampah menumpuk di pekarangan posko. 

Tak ada jadwal mengajar tuk hari sabtu, tak ku lihat wajah Gilang dan Nizam, dua sahabat kecil yang lucu. Ferdi, Zia, Pak RT Nimin dan aku pergi keliling TPA hari ini, apalagi kalau bukan melanjutkan tugas kami semalam. Mencari anak yang berani dan memenuhi syarat melangkah untuk kami kirim sebagai perwakilan desa.

TPA pertama, Babul Jannah. Pemiliknya memiliki anak yang lucu bernama Alwi, berusia satu tahun yang mampu ku bujuk dengan kunci motor, akhirnya mau duduk dipangkuanku. Alwi tampan sekali, bapaknya juga. :") maapkeun akoh Tuhan, salah pokuss. 

Bolu dan teh hangat yang disuguhkan ku nikmati satu iris, kami lebih banyak bercerita tentang perkenalan. Lazimnya orang kali pertama bertemu. Namun menyenangkannya pembicaraan kami tak menghantarkan pada hasil yang diharapkan, tak ada anak yang bisa dikirim. Ustadz dan ustadzah yang merupakan orang tua Alwi tak berani menuliskan nama tanpa persetujuan anak yang bersangkutan, maka kami putuskan untuk bertukar ponsel dan menunggu kabar. 

TPA kedua, kosong tak ada orang, mungkin ustadz/ahnya sedang bakar-bakar. TPA ketiga yang ku harap memunculkan harapan karna ustadzahnya ada ternyata tidak menghasilkan apapun padahal kami lebih dari satu jam mengobrol hingga pulang karna panggilan adzan.

Hari ini 5 hadiah ku sediakan untuk 5 siswa terpilih hari ini. Tiap bimbel aku kerap menyediakan hal ini semacam pancingan agar mereka semangat. Hadiah untuk anak kecilpun tak terlalu sulit, barang-barang murah yang bagi kita sederhana, bagi mereka teramat mengesankan. 

Aku suka sekali mengajar, itu kenapa aku ingin menjadi dosen. Aku merasa hidup ketika bercengkrama di depan anak-anak didikku. s1 BK tentu membuatku akan jarang masuk kelas, fokus pada ruang konseling  meski sekarang BK disediakan jam masuk kelas. Disatu sisi aku juga ingin mendirikan TK sendiri, menyenangkan melihat anak-anak kecil berlarian. 

Meski terkadang melelahkan menghadapi mereka yang aktif, menguras tenaga dan pikiran membuat mereka tak bosan. Biasanya sebelum atau selepas mengajar aku tidur sejenak, mengumpulkan energi tuk melanjutkan aktivitas lagi.

Selepas bangun tidur ternyata anak-anak didik bimbelku sudah menunggu di altar posko kami dengan sepeda mereka yang lebih besar dari postur badan. Mengajakku berkeliling kampung, dan menjadi boncengan. Jika dilihat sekilas aku mereka terlihat sama, postur badanku yang kecil dan kurus tak terlalu jauh dengan mereka.

Belum jauh dari posko, aku mesti menggerakkan senyum dibibir menyapa pemuda desa yang sedang bekerja, saling melempar sapa bukan saling bakar-bakar.


Related Posts:

#KKN11

Jum'at, 2 Agustus 2019

Bertemu anak kecil adalah rutinitasku selama di sini, menyenangkan karna aku melakukan aktivitas sesuai passionku. Ya, aku suka mengajar, bersenda gurau, bicara di depan, membuat anak-anak belajar dengan nyaman tanpa rasa bosan. 

Itulah alasan kenapa aku ingin s2, s1 BK aku akan terlalu banyak di ruang konseling. Sedang menjadi dosen, aku bisa menyalurkan hobiku. 

Ngajar TK adalah rutinitas sama seperti makan pagi yang biasa aku lakukan di sini, atau sebut saja sarapan. Rutinitas yang menyenangkan, dan terputus hari ini karna selepas masak aku justru mesti bergegas berangkat mengajar, tak ada waktu untuk makan karna kami bisa saja terlambat. 

Hari jum'at adalah hari olahraga bagi TK ABA, yang seharusnya mengenakan kaos aku justru mengenakan kemeja. Senam ringan khas anak balita, mengikuti gerakkan seraya meloncat-loncat dan tertawa. 

Di sela jam istirahat, aku dan Indri, rekan mengajarku baik di TPA dan TK bertamu ke rumah di samping TK yang ternyata dihuni oleh seorang guru yang sedang cuti. Beliau sakit sinus, dan masih belum pulih. Ibu guru ini adalah istri dari Pak Agus, seorang yang pernah mengajari kami caranya bermain saham beberapa hari lalu. 

Hanyut dalam percakapan ringan, kami justru terbuai dan kembali ke TK ketika sudah pulang. Ku temu Gilang sudah mengenakan tasnya dipunggung, seorang anak kecil yang lucu, ketika bicara logat Jawanya sangat jelas terdengar. 

Tapi sayangnya meski begitu lucu, Gilang tak bisa ku bawa pulang. Di posko ada Gilang lain, yang sayangnya tidak ada lucu-lucunya, rekan satu poskoku yang sering bermain games hingga malam. Aku pulang bersama Indri tentunya, ditemani Cika yang rumahnya tepat di depan posko kami, dan tetap saja tidak boleh kami bawa pulang meski jaraknya sedekat itu. 


Aku pulang dengan keadaan lapar, dan Zia dengan wajahnya yang ceria menawarkan memasak bersama. Sepiring nasi goreng spesial, yang pada akhirnya hanya dia yang memasak dan aku memerhatikan. 

Sore hari seperti biasa, TPA menantiku. Datang bersama Fachri dan Indri, lagi. Malam hari, aku mencuci piring bersama Mbak Lita selepas makan bersama. Tiba-tiba bapak-bapak diluar rumah kami berteriak-teriak tak jelas bicara apa. Semua orang keluar, aku yang berada di dapur keluar melalui pintu belakang masih menggenggam piring dan spon berbusa. 

Aku bertanya-tanya kenapa bapak tersebut berteriak lantang, yang ku dengar adalah perihal ular. Dan ternyata pendengaranku salah besar. Aku memang tidak peka, bahwa sebabnya adalah gempa dan aku tidak merasakannya sama sekali. 

Selepas keadaan kembali normal, Fachri mencariku. Dan kalimatnya lah yang membuatku menangis untuk pertama kali di posko kami. 

"Rahayu, pusat gempanya di Banten, potensi tsunami. Coba gimana keluarga kamu?" kurang lebih begitulah kalimatnya, aku ternganga mendengarnya, gemetar menyentuh layar tanpa tombol. 

Ku hubungi bapakku beberapa kali, yang akhirnya terjawab dan membuat napasku lega. Bapakku masih di Tangerang, belum pulang ke rumahku yang letaknya berada di Serang. Maka ku putuskan untuk menelpon rumah, menghubungi Oomku yang ternyata tidak ada di rumah. Pun ia sedang bekerja, namun kabar baiknya ia pun telah menghubungi orang yang ada di rumah mengatakan semua baik-baik saja.

Kalimat baik-baik saja nyatanya tak berpengaruh apapun bagi air mataku yang menetes seketika. Kekhawatiran demi kekhawatiran menjalar, berita potensi gempa yang akan terjadi belum berakhir. Ku habiskan waktu menangis seraya mengaji, tak tau mesti melakukan apa. Menutup wajahku sendiri dengan mukena, berharap semua baik-baik saja. 

Hingga air mataku berhenti menganak, kabar baikpun tiba. Lebih dari sekedar baik, ketika aku menangis tersedu-sedu, ternyata keluargaku di Serang justru mengirimkan video seraya tertawa-tawa bermain ludo. :") Naas sekali menangisi orang yang bermain ludo, tapi itulah tawa yang memang masih dan ingin selalu ku dengar, ketika batas-batas kerinduan kencang menerjang. 

Ferdiana yang sudah berlalu lalang mengajakku untuk menyelesaikan program-program yang biasa kami handle bersama, dibantu Fachri sebagai ketua. Mengajak pergi bertemu Pak RT untuk membahas peserta perlombaan TPA yang belum kami dapatkan kejelasannya. 

Aku sudah tak menangis, ibuku sedang tertawa di sana karna menyenggol bibi-bibiku dengan ludonya yang entah warna apa pilihannya malam ini. Di rumah Pak RT aku dan Ferdi mendengarkan beliau menelpon satu-persatu ustadz/ah TPA, menulis nama-nama peserta yang akan kami seleksi esok hari. 

Hari ini hari yang panjang, bahkan ketika pulang ke posko kembali dan berharap beristirahat, rumah ternyata tak mampu kami buka karna kunci yang dibawa oleh seluruh rekan yang ternyata sedang menonton tari. Aku akui, anak-anak di sini memang terlatih untuk banyak hal. Gerak lincah tubuh 3 orang putra dan 3 orang putri menampilkan tari berpasangan, tampak enak jadi suguhan malam. 

Cukup lama menonton. Aku sudah tak sabar untuk menyandarkan badan, namun diperjalanan pulang aku ingat bahwa ini adalah hari yang panjang. 

Langkahku berhenti begitu saja dikerumunan ibu-ibu yang sedang mengupas bawang, aku sendiri sebab Ferdi masih berlama-lama di tempat menari anak-anak desa ini. Ku ikuti arus pembicaraan mereka, bicara ringan menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang biasa ditanyakan pada perkenalan pertama. 

Ini hari yang panjang, semoga Allah menjaga keluargaku di manapun mereka berada.

Aku sayang mereka, dan mulai sayang teman-teman KKNku juga. 

Related Posts:

#KKN10

Kamis, 1 Agustus 2019

Angka genap, aku menyukai. Meski hari ini situasinya menjadikanku tak peduli akan kesukaanku pada angka-angka genap, termasuk angka ke-sepuluh kami melakukan pengabdian masyarakat. Begitu banyak rencana yang disusun untuk hari ini. Dan di antaranya banyaknya rencana, aku justru tak mampu melakukan satu kegiatanpun. 

Pagi ini, selepas mandi dan bersiap. Aku ambruk di ruang tengah, tak kuat menahan badanku yang demam sejak kemarin sore selepas pulang dari kampus bersama Fachri. Flu, kepala pusing, dan wajah panas, membuatku tak bisa melakukan banyak hal. 

Aku tidak suka sakit, mungkin kalian juga. Aku bukan tipe orang yang suka dikasihani, dan tidak suka disuruh-suruh juga. Hari ini, sudah pusing karna kepalaku yang pening. Temanku tanpa berpikir panjang menyuruhku untuk tetap berangkat menjalankan aktivitas. 

Dan ini adalah kali pertama aku berbicara dengan nada tinggi dengannya. Sudah ku bilang, aku bukan tipe orang yang suka disuruh-suruh. Jika kondisiku baik, aku akan melakukan banyak hal seperti hari-hari yang lalu. Tidak sepertinya, yang sudah kami lihat sejauh ini. 

Lucunya ia menyuruhku beraktivitas, sedang ia sendiri dalam keadaan sehat tak melakukan apapun. Sungguh lucu, suka menyuruh tapi tak ingin disuruh. h4h4

Ah, akhirnya aku bisa meluapkan kekesalanku dengan penuh, dengan seluruh. Di antara semua anggota di posko memang ada di antaranya yang kurang disukai perangainya oleh kami, meski kami berusaha memahami ia dengan baik. Mungkin ia biasa berlaku begitu ketika di rumah, tak pernah mengerjakan apapun, dan suka memerintah. Meski kalian tentu tau rasanya, tidak nyaman melihat yang lain pergi kesana-kemari bekerja, sedang yang lain justru merebahkan diri di tempat tidur seraya menggenggam ponselnya. 

Syukurnya, sebagian besar teman-temanku memang mengerti. Mengajakku kembali ke bidan segera, dan naasnya bidan di samping posko kami sedang tak ada meski kami sudah menunggu beberapa lama. Karna tak kuat kepala kian pening, aku memutuskan pulang. Terlelap beberapa menit di dalam kamar. Tiba-tiba Pak RT Nimin yang menjadi bapak kami di sini menampakkan wajahnya di jendela kamar, mengajakku berobat ke tempat lain. Padahal hari ini posko sedang ramai-ramainya karna ada kegiatan sosialisasi dari seluruh perangkat Desa, tapi aku tak mampu fokus ke sana. Pikiranku masih pada kepalaku sendiri. 

Aku berobat bersama Pak Nimin dan Mbak Lita, seorang gadis Jawi yang lembut perangainya. Ia adalah yang paling sederhana di antara semua temanku di posko ini, bukan hanya menurutku tapi menurut semuanya. Tak bisa marah, kerap membantu, dan bicara dengan nada yang terkesan hati-hati. Ternyata aku dibawa oleh Pak RT  dan Mbak Lita ke samping tower desa. Bukan untuk mencari sinyal, tapi di sini sedang ada acara Relawan Nusantara yang bekerja sama dengan tower dan dokter-dokter umum.

Seperti acara pada umumnya, mengantri adalah hal yang mesti dilakukan. Pertama, kami mesti menyetorkan KTP, dan aku tak membawanya. Baiknya, Pak RT meminta izin untukku menggunakan KTP Mbak Lita untuk berobat kami berdua. Ya, Mbak Litapun mengalami sakit yang sama denganku tapi ia tak mengeluh sedikitpun. Masih melaksanakan program-program kami dengan baik.

Sebelum bertemu dokter yang telah mengobati banyaknya warga di Desa Wonokarto ini, namaku dan Mbak Lita dipanggil oleh petugas yang mencatat data kami.

"Mbak Lita dan Mbak Rahayu, tgl lahirnya sama?" katanya, aku dan Mbak Lita saling lirik, sepertinya memang terjadi kesalahan, bahkan sebelum kami beberapa warga salah tulis nama yang hasilnya kebingunan ketika dipanggil gilirannya. Seperti misalnya Ibu Martinah bisa menjadi bisa Martono, itulah yang terjadi.

"Mbak Lita 31 januari?" beliau mengangguk, sedangkan aku memasang wajah tanya.
"Mbak Rahayu juga?" pun aku mengangguk juga, kemudian kami saling lirik. Memastikan kebetulan yang terjadi.

"Loh, kamu tgl 31 januari juga?" Mbak Lita melerai kebingungan tatap mata kami yang beradu
"Iya Mbak, Mbak juga?" iya mengangguk halus, kemudian tertawa bersamaku. Kebetulan yang ajaib bagiku, ditahun yang sama pula kami lahir. Mbak Lita benar-benar resmi menjadi kakakku, lebih tua 3 jam dariku. Bahkan warga yang sedang ikut mengantripun ikut tertawa-tawa mengatakan bahwa kami kembar, saudara yang dipertemukan sebab Kuliah Kerja Nyata.


Selepas berobat, aku istirahat total. Tak melakukan apapun, tak pergi tuk menjalankan satu program pun. Sedang Mbak Lita melanjutkan aktivitas seperti biasanya, dia memang tampak hebat di mataku dan teman-teman lainnya. Bahkan malam harinya ia masih sempat mengerok tak kurang dari 5 orang karena memang sebagian dari kami sakit. Hebat bukan? orang sakit yang membuat orang lian sehat. Sudah ku bilang, dia memang hebat.


Hari kesepuluh, terimakasih Mbak Lita sudah menjadi figur yang baik untuk kami.

Related Posts:

#KKN9

Rabu, 31 Juli 2019

Selalu ada cerita, meski kita merangkai satu tema yang sama. Meski satu cerita, selalu ada kata yang akan dimaknai berbeda. 

Hari ini, selepas selamatan wisuda abangku kemarin sore, aku kembali ke rumah kosku untuk menumpang tidur. Di antar Kak Hendrik ke rumah kosku, dan kunci gembok gerbang kosku yang ternyata diganti karna gembok yang lama rusak. 

Aku memang atau mungkin terlalu ambisius. Pagi ini sebelum pulang kembali ke Wonokarto aku menyempatkan diri ke kampus untuk menemui dosen pembimbing. Harapan untuk lulus secepatnya terkadang membuatku bergerak tanpa berpikir panjang. Ini masih hari-hari KKN dan aku ke kampus untuk menemui dosen pembimbingku menggunakan kesempatan selagi pulang. 

Naasnya selepas menunggu beberapa waktu lamanya, dosenku tak menunjukkan kehadirannya. Di mejanyapun hanya ada lembaran proposalku yang sama sekali tak ada coretan. Siang ini aku pulang, maka ku ikhlaskan diri meninggalkan proposalku tanpa tanda tangan ACC. 

Langit tak terlalu terik, masih cukup pagi dan perutku sudah lapar. Ku siapkan diri tuk bertamu di ibu uduk, sembari bersiap untuk pergi bersama Fachri kembali ke pangabdian kami. Namun belum sempat berangkat, Fachri meminta kami makan uduk bersama. Mungkin iapun sama laparnya. 

Selepas ku tunggu 5 menit, iapun datang. Motornya masih bising, ban motornya pun masih sama kecilnya, bedanya velg nya sudah diganti kemarin sore. Ketika melewati gerbang kampus, kami teringat Pak Isnaeni, lebih tepatnya surat yang kami butuh. Dan yang mengurus surat tersebut ternyata tidak lagi Pak Isnaeni, kami diarahkan pada dosen lain melalui pesan singkat. 

Perutku lapar, dan kami harus bertemu anak tangga yang sedari dulu sebatang kara, banyak tapi tak memiliki saudara, semuanya anak, tak ada orang tua. Oke, aku membahas hal tak berguna lagi. :") 

Ketika telah sampai di koridor lantai 3, pintu ruang LP2M pun dikunci seperti kemarin. :") Tak ada orang, jadi kami memutuskan untuk bersandar pada tembok di ujung koridor, entah kenapa memilih diam di tempat ini, padahal tepat di depan kami adalah toilet. 

Entah sudah berapa puluh motor yang keluar masuk kampus kami, tiba-tiba seseorang keluar dari toilet. Bapak-bapak berambut putih, memakai batik. Target yang tepat untuk kami tanyai. Namun mirisnya beliau tidak mengenal orang yang kami cari, Pak Bushroni bukan Pak Isnaeni lagi. 

Hebatnya, meski beliau tidak tau pada Pak Bushroni beliaulah yang memberikan surat observasi pada kami. Ya, beliau tidak tau orangnya tau tau perannya, maka aku dan Fachri bahwa bapak yang kami tanyai tentang tau tidaknya pada Pak Bushroni adalah Pak Bushroni. :") 

Ah, entahlah siapa bapak tersebut. Yang jelas surat ditangan, dan perut masih lapar. Fachri membawaku pada sebuah warung nasi uduk, berada di dalam gank yang masuk dalam gank yang ada gank lagi. Aku sempat mengeluh karna jauhnya ia mencari tempat makan, dan alasannya sederhana. Warung yang dimiliki seorang ibu-ibu ini adalah langganannya dan teman-temannya. 

Rasanya, sama aja seperti nasi uduk. Bedanya, aku memakannya tidak jadi sendirian seperti rencanaku pagi tadi. Maka satu jam sebelum dzuhur, kami berangkat. Di perjalanan kami hanya bicara-bicara ringan tentang suatu hal yang tak jelas, marah-marah karna bajunya ku tarik-tarik ketika ada lobang, atau punggungnya yang terasa sakit karna hantaman tanganku. 

Tawanya, seperti abangku. :") 

Kami tiba di Kec. Sekampung ketika adzan dzuhur. Belum sampai posko, kami berhenti di mbak-mbak donat warna-warni, beberapa meter ke depan kami berhenti lagi untuk membeli petis dan duduk cukup lama karna mengantri. Seperti perokok kebanyakan, ia segera mengeluarkan gas dan sebungkus rokok, asapnya tentu menyebalkan ingin ku ajak bertengkar. 

Sejujurnya bicara dengan Fachri selalu menyenangkan, ia bukan orang yang mudah terbawa perasaan, akupun. Ia berlagak layaknya orang tuaku karna mendapat pesan dari ayahku untuk menjagaku. Ia juga persis seperti abangku, seperti yang sering ku katakan. Ia juga seperti Kak Ayub dalam versi berbeda. 

Perjalanan hampir dua jam yang melelahkan, tapi bukannya istirahat setiba di posko kami justru mabar hago. Dan aku selalu kalah, aku tidak pandai berbohong dalam werewolf, hoho. Fachri dan Ferdiana adalah jagonya. Karna kekesalan bermain hago yang wifinya kurang mendukung, aku dan Fachri pergi ke rumah Pak Kaur untuk meminjam gitar. 

Sore harinya rutinitasku kembali, senam menjadi program pertama lagi selepas pulang sehari. Jujur, aku suka sekali di sini, meski beberapa hal seperti kejadian sore ini sangat ku benci. 

Hari ini karna kelelahan, selepas senam aku tidur hingga magrib menjelang. Ya, ini memang bukan waktu yang baik untuk tidur. Beberapa menit sebelum adzan aku sudah bangun ketika Fachri di ambang pintu membangunkanku. 

Aku sempat kesal, hoho. Bukan karna ia membangunkanku, toh aku memang sudah bangun. Aku kesal ia bicara perihal  magrib tapi ia dan yang lain justru dengan santainya memetik gitar ketika adzan berkumandang. Aku tak suka, meski aku bukanlah muslim yang taat juga. Namun, aku juga kecewa karna satu di antara kami bicara ingin rajin sholat lima waktu ketika kali pertama kami rapat, justru kerap marah ketika disuruh sholat, atau tidak menggubris sama sekali. 

Ini hari kesembilan, itulah yang tak aku sukai dari mereka sejauh ini meski banyak hal baik dari mereka sejauh ini. 




Related Posts:

#KKN8

Selasa, 30 Juli 2019


Hari kedelapan, ku berita tau sedari awal bahwa tak ada cerita pengabdian di sini. Kecuali sebuah perjalanan pulang yang menyenangkan. 

Fachri Apriliansyah, ku kenalkan ia dengan satu tujuan. Koord. kelompok pengabdian kami, berambut kriting, sempat gondrong, dan suka berkumpul dengan banyak orang yang satu passion dengannya. Ia mengikuti salah satu komunitas motor di Indonesia, kerap pergi keliling daerah dengan motornya yang menurutku kurang nyaman. :") 

Motor bebek berwarna hitam dengan ban yang diganti dengan ban yang lebih kecil, membuat tulang kita seolah beradu langsung dengan jalanan. Namun sebab ia dan motornya jugalah aku bisa pulang, bolak-balik rumah kosku, jadi aku tidak ingin menjabarkan kekurangan motornya lagi, hoho. 

Pukul sembilan kalau tidak salah, aku tidak melihat jam, kami berangkat. Fachri mengenakan baju PDH jurusannya dengan tas (selempang) dan celana jeans, sedang aku mengenakan kulot, outfit connect dan jaket KKN kami. Perjalanan yang didominasi oleh suara bising motor Fachri dan desau angin yang beradu, sesekali ia bicara memecah keheningan di antara kami.

Sejujurnya, ketika melihatnya aku teringat benar kakak kandungku. Terlebih ketika ia bernyanyi, suara persis sekali. Suatu ketika sebelum lelap, di ruang tamu ia bernyanyi begitu sendu dan rasanya aku ingin meneteskan air mata. Kerinduan pada kakakku yang sudah berkeluarga, tak bisa ku pungkiri. Aku kehilangan sosok seorang kakak, sejak beliau mengemban amanah yang lebih berat.

Perjalanan yang kami tempuh selama 2 jam, menghantarkan kami ke Rektorat untuk mengambil surat observasi KKN. Itulah tujuan pertama yang baru kami rencanakan beberapa menit lalu. Ku naiki anak tangga yang sedari dulu tak pernah naik pangkat jadi bapak. Entah berapa puluh anak tangga yang terdapat di 3 lantai yang telah kami jejaki, kami tiba di tujuan kami. Ruang LP2M dengan nama Pak Isaeni di depannya.

Ku sentuh pintu dua ketukan, tak ada tanggapan. Ku geser pintunya ke dalam, tak bergerak. Ya, Pak Isnaeni atau staf LP2M yang lain tak ada. Aku dan Fachri saling menghempaskan napas, saling memberi tau tanpa kata bahwa kami mengeluh tanpa disadari. Dan aku lebih mengeluh lagi ketika tau bahwa kartu ATMku tertinggal dalam tas make up yang sengaja ku tinggal. Jadi, ada dua keluhan di koridor lantai 3 ini, setidaknya yang ku ketahui.

Tak ingin mengeluh lebih banyak lagi, kami turun menjejaki tangga yang masih belum naik pangkat juga, jadi kakak laki-laki atau perempuan, belum. Kami berjalan beriringan, aku tak terlalu tinggi hanya sepundaknya, persis seperti abangku. Baik aku membahas abangku lagi. :")

Dan, selepas ini memang aku akan bertemu abangku. Meski bukan abang kandungku, setidaknya beliau adalah orang yang mengarahkanku sejauh ini. Orang yang cocok untuk menggantikan figur kakak yang hilang beberapa tahun ini. Namanya Ayub Kumalla, ialah orang yang pertama aku kenali di UIN. Seorang penyair cyber yang saat ini sudah menulis 8 buku. Ia adalah salah satu pintu yang menunjukkan jalan pulang menuju dunia kepenulisanku.

Hari ini Kak Ayub wisuda, dan itu kenapa ruang LP2M tutup. Wisuda, aku dan Fachri baru mengingatnya. Banyak pedagang bunga, dan hadiah-hadiah lain untuk orang-orang terkasih yang menambah nama belakangnya dengan gelar. Aku dan Fachri berkeliling sejenak, memilih beberapa hadiah yang berakhir pada doraemon berwarna pink, hadiah untuk abangku. :")

Fachri hanya tertawa-tawa ketika melihat pilihanku, mengatakan bahwa aku "kosong" seperti biasa.

Aku tak menjumpai abangku di GSG yang digunakan untuk menggeser topi wisudanya, ku diminta untuk pergi ke suatu tempat di mana pacarnya berada. Sebuah rumah kos sederhana, yang akan digunakan untuk acara selamatan abangku, rumah kos yang ku temukan karna diantar Fachri dengan arahan google maps.

Maka hari ini, aku dan Fachri berpisah di rumah kos pacar abangku, yang ternyata iapun nebeng di kos temannya karna rumah kosnya sudah habis masa tinggalnya.

Di rumah kos temannya pacar abangku, aku lebih banyak rebahan. Acara selamatan dimulai selepas sholat ashar, jadi ku putuskan untuk tidur. Hingga jam 3 sore Kak Hendrik yang sebut saja sebagai abangku di sini setelah Kak Ayub, beliau datang dengan kemeja kotak-kotak hitam. Satu jam setelahnya Kak Jun yang ku kenal melalui Kak Ayub, datang bersama teman-teman kelasnya. Beliau datang dengan misi berbagi tawa seperti biasanya. Lelaki hitam manis yang lucu, itulah yang pas. Meski kadang sikapnya saat bersama Kak Ayub dan Kak Hendrik terkesan bodoh. Hoho :")

Hari ini juga menjadi moment dimana aku mengenal keluarga Kak Ayub dan pacarnya, terlebih adik Kak Ayub yang sebaya denganku membuat kami bisa mengobrol dengan satu arah, alias satu koneksi. Permasalahan anak sebaya cenderung sama, beberapa kasus banyak kami alami. Terlebih Bela pun suka menulis.

Buku keduaku pun diserah terimakan kepada Kak Ayub dan Kak Hendrik sebagai mentorku dalam menulis. 2 eksemplar untuk 2 orang yang berkesan dalam hidup.

Ini hari ke delapan, sudah ku bilang tak ada kegiatan pengabdian.


Related Posts:

#KKN7

Senin, 29 Juli 2019.

Yeay, seminggu. Ini adalah ke-seminggu. Maksudku hari ketujuh dari 40 hari yang akan kami lalu, ya masih ketujuh. Dihari ketujuh ini bahkan sudah ada yang bertanya kapan kami selesai. Sebenarnya itu bukan pertanyaan yang tepat, mengingat begitu banyak program kerja yang belum banyak berjalan. 

Sebenarnya rutinitas mengajar mau tidak mau lebih menghabiskan banyak waktu, dan tentu saja tenaga. Terlebih mengajar anak TK, yang diminta untuk dudukpun sulit, berbeda dengan anak SD yang tinggal diberi tau saja. Untuk usia aktif seperti anak TK kita mesti memberi taunya dengan menggiring mereka duduk, atau berbicara dekat dan menggenggam jemari, menuntun mereka. Tak jarang ada yang menangis, membuat kelas kian gaduh. 

Seperti hari ini, TK menjadi pembuka hariku, mungkin hari-hari sebelumnya juga. Seperti biasa aku mengajar kelas 0 besar, dengan Gilang, Nizam, Qoyum, dan anak-anak kecil berjenis kelamin laki-laki yang menggemaskan. Gilang dengan wajah bulat hitam manis khas orang Jawa ditambah suaranya yang medok, sering menggelendot di belakangku ketika mengajar. Nizampun tak ingin kalah, sesekali berlari-larian tuk sekedar mengejar di mana posisi dudukku. 

Katanya, mereka selalu membicarakan mahasiswa KKN dengan sebutan ada guru baru, aku mengetahuinya dari salah satu guru TK yang kerap memerhatikan percakapan mereka. Sejujurnya aku kurang pandai berinteraksi dengan anak kecil, yang aku tau hanya menyanyi, menggambar, dan games, tapi games tidak terlalu ku kuasai untuk anak usia balita seperti mereka.

Maka, ku ajak mereka bernyanyi, bertepuk-tepuk tangan, lalu menggambar, hanya itu yang terpikir dibenakku untuk membuat kericuhan kelas mereda. Di samping anak-anak yang antusias, dilain sisi aku merasakan kantuk yang amat, hehe. Aku ngantuk-an gayes :")

Jadi ketika pulang dari TK tujuanku tak lain kecuali tidur. Ketika bangun ku tonton beberapa video "Menjadi Manusia" beberapa tayangan cerdas yang layak didengarkan, yah cukup didengar. Videonya berisi tentang sudut pandang seseorang, semisal video Lisa Samadikun  berjudul "Apakah kau sudah bahagia?" 

Mengisahkan perjalanan hidupnya, terkesan membosankan diawal tapi ternyata semua kisahnya ada korelasinya, seorang penari balet yang jatuh sakit karna tak menari lagi selama 9 bulan dengan alasan sibuk kerja. Yaps, passion, hobi, atau ketertarikan pada suatu hal menurutku adalah terapi bagi seseorang. Lisa juga menyembuhkan dirinya dengan menari, atas arahan dokter hebat yang mengarahkannya. Datangi kembali tempatmu biasa latihan menari, rasakan suasana di sana, karna setiap hembusan napas yang ditarik, adalah sebuah obat. Maka dalam waktu 3 bulan, badannya yang lumpuh setengah mulai pulih. 

Perspektif lain adalah bercerita tentang seseorang yang mengaku dirinya agnostik, ia percaya konsep ketuhanan tapi tidak percaya konsep beragama. 

"Terlalu banyak kebencian di dunia ini yang berkembang atas dasar agama" salah satu kalimat yang ia sampaikan disela ia bercerita. Bagiku ia terkesan cerdas, bahkan banyak yang berkomentar ia lebih terkesan deisme dibanding agnostik. Deisme adalah kerpercayaan filosofis yang menyatakan bahwa Tuhan ada sebagai suatu sebab pertama yang tidak bersebab, yang bertanggung jawab atas penciptaan mansuia, tetapi kemudian tidak ikut campur dengan dunia yang diciptakan-Nya. 

Bahkan ketika usia sekolah menengah ia sempat menjadi seorang atheis, ia juga memercayai salah satu teori seorang filsuf besar, Aristoteles yang mengemukakan bahwa tidak ada suatu hal yang nyata kecuali hal itu bisa dibuktikan secara empiris, artinya bisa dilihat dari panca indera. Tuhan memang tidak dapat dibuktikan melalui panca indera, namun pada pada akhirnya ia mengenal salah seorang filsuf Amerika yang mengatakan bahwa dari semua hal yang bisa dibuktikan secara empirik, ada satu hal yang tidak bisa dibuktikan yaitu afeksi, hubungan. Diafeksi inilah kita bisa merasakan cinta, kasih sayang, cinta, itulah yang membuatnya mulai memercayai konsep Tuhan. Dan menurutnya Tuhan itu bisa dibuktikan melalui teori tentang kekelan energi, bahwa tidak mungkin energi itu tiba-tiba ada dari ketiadaan atau dari yang sudah ada sesuatu lalu tiba-tiba hilang, kecuali berubah bentuk. Itulah letak kekuasan Tuhan menurutnya.

Namun ketertarikanku mendengarkan mereka berceloteh dalam video-video tersebut terhenti ketika Pak Kaur dan beberapa pemuda desa datang, menawarkan tema diskusi forex trading dan saham. Sejujurnya, awalnya aku tak benar-benar memahami, di jam 10 malam memaksaku mengirim pesan pada salah satu tutorku dalam berbisnis, seorang ustadz dan dosen ekonomi di kampusku. 

Diskusi kami berfokus pada hukum islam forex trading, dan jawaban ustadzku adalah haram kecuali dalam hal forex foreign exchange, pertukaran mata uang. Untuk forex yang naik turun, ustadzku mengatakan, menurut beliau belum boleh karna objek jualannya adalah uang yang bisa mengakibatkan bangkrut dan kolaps dunia. 

Namun sebelum diskusi kami melebar, Pak Kaur mengajak kami bertemu dengan seorang pak Forex Trading, Pak Agus yang tak lain adalah seorang pemain lama diForex, menjelma bak dosen yang memberikan kuliah umum. Aku hanya mengangguk-angguk memahami permainan grafik, sejujurnya aku tak terlalu tertarik, entah kenapa. Ku menangkap sisi lain selain mengajarkan, dan aku disela kebosananku menyimak aku memilih berbicara pelan-pelan melalui ponselku dengan Arkam, My Indians Friend. 

Ini hari ketujuh, meski begitu belajar bersama Pak Agus adalah suatu pengalaman yang belum pernah ku dapatkan. 

Related Posts:

#KKN6

Minggu, 28 Juli 2019

H-1 menuju satu minggu aku di sini.

Sudah banyak cerita, sudah banyak kata yang ku tata pada beranda blogku ini. Dan ini adalah hari di mana aku bicara di depan warga secara formal, membawakan sebuah tema tentang larangan ghibah.

Acara dadakan pengajian kedua. Lebih terasa lebih mengagetkan, bagaimana tidak terasa dadakannya, aku tiba-tiba diminta mengisi kultum. Datang paling terlambat dari jadwal, baru bangun tidur dan mandi, teman-temanku sudah berjejer rapi di sana tapi tidak ada yang bergerak maju. Iya, mereka tau aku telah mempersiapkannya untuk kultum dipengajian dua hari lalu, tapi tetap saja nyawaku belum terkumpul benar. 

Ini pengabdian masyarakat, siap tidak siap aku terpaksa haha. Sungguh, benar-benar terpaksa meski jauh dalam hatiku memang menginginkan kesempatan ini. Tema berjudul “Larangan Mengghibah”  yang ku sampaikan ini ku sesuaikan dengan ibu-ibu sebagai audiencenya. Ada dua ayat yang akan ku sampaikan, naasnya ayat pertama aku lupa hoho. Mengundang tawa ibu-ibu karna kejujuranku mengatakan kegugupanku bicara di depan mereka.

Untung saja aku bukan tipe pemalu, hingga kesalahan pertama ku lupakan dengan memperlancar bacaan ayat kedua. Semuanya berjalan baik, meski kultumku tidak terlalu baik, tapi memberanikan diri diwaktu terdesak dan menjadi pilihan adalah tanggung jawab.

Terakhir, kami mengisinya dengan mengobrol  bersama Ibu Sufi, yang bercerita tentang anaknya yang kuliah di Sudan. Berkaca-kaca ketika mengakatan ia kesepian ketika berada di rumah. Mungkin ibuku pula merasakan hal yang dirasakan Bu Sufi, kesepian karna 3 anaknya tidak ada satupun yang menetap di rumah. Merantau, demi pemahaman pengetahuan yang dalam.

Kembali pada cerita pengabdian masyarakatku, aku tak ingin menangis mengingat ibuku. :")

Malam harinya, aku menyambangi rumah Pak Kaur. Beliau adalah orang penting di tempat ini, sebab itu sering kami sambangi untuk bercengkrama membahas hal-hal ringan, atau program kerja yang akan kami jalankan selama di sini.

Tentu saja, sembari diisi band keroncong kepunyaan beliau.

Ini menuju hari ketujuh di sini, entah hari ke berapa tak pulang ke rumah, apakah ibu dan ayahku kesepian di rumah? 

Related Posts:

#KKN5

Sabtu, 27 Juli 2019

Cerita hari ini mungkin akan terkesan singkat, mungkin. Tak banyak kegiatan hari ini bahkan hingga adzan dzuhur menjelang, kecuali rutinitas yang berlangsung seperti mengajar. Akhirnya ketika matahari telah meneduh dibalik awan, kami diajak berkeliling kampung bersama Pak RT. Seorang lelaki berusia 45 tahunan yang menjadi figur bapak untuk kami selama di sini. Beliau adalah mata angin kami yang buta arah. 

Kendaraan berupa motor yang kami bawapun hasil bantuannya meminjam pada Pak Kaur dan beberapa warga. Aku membonceng Mbak Lita, kalian tentu masih ingat siapa beliau, gadis lembut Jawa yang pernah aku ceritakan. 

Tujuan pertama kami adalah menyambangi ibu-ibu pakar senam di desa ini agar kegiatan senam yang telah lama vakum bisa berjalan kembali. Ada dua ibu-ibu yang mengaku baru saja senam bersama 2 lainnya. Totalnya 4 orang, baru saja katanya. Setelah sepakat senam akan diadakan satu minggu sekali setiap hari minggu maka kami pun melanjutkan perjalanan keliling kampung dengan target yang telah dirancang. 

Tujuan kedua kami adalah rumah Kepala Dusun, seorang anggota masyarakat yang ta'at tak mau menjabat tangan siapapun yang bukan mahromnya. Beliau punya 4 orang anak, yang dua di antaranya masih sangat lucu.  

Keliling desa kali inipun kami tutup dengan pulang ke balai desa lalu pergi kembali ke rumah Pak Kaur untuk mendengarkan musik keroncong. Tidak terlalu lama, aku mudah bosan. Maka ku putuskan kembali ke balai desa duluan, dan diikuti beberapa orang. Sisanya kami menghabiskan dengan main ludo dengan 6 pemain. Seperti biasa, seperti yang Fachri bilang saat permainan, fokusku bukanlah menang tapi menyenggol lawan. Sebab semakin banyak menyenggol semakin banyak pula peluang kita untuk mencoret wajah lawan dengan bedak yang telah disediakan. 

Tawa yang tergambar jelas pada tiap wajah, coretan yang memenuhi wajah meski tak menjamin kalah. Ku tatap bergiliran tawa lepas mereka, selepas 40 hari ke depan, mungkin hal sederhana ini akan ku rindukan. 

Related Posts:

#KKN4


jum'at 26 Juli 2019

Jum’at adalah hari kerjaku di dapur di tempat ini, dua hari dalam seminggu. Satu hari lagi terdapat pada hari rabu. Sebut saja kepanjangan KKN hari ini adalah kuliah kerja ngebabu, hoho. Meski sebenarnya tidak full sehari, tugas piket hanyalah memasak, beres-beres rumah, menyikat kamar mandi, menyapu dan mengepel rumah dan ruang aula balai desa. Dengan 4 orang pekerja, satu di antara kami laki-laki, Fachri. Dua lainnya adalah Lita dan Cahya, mari ku kenalkan. Lita, seperti gadis jawa yang kita ketahui dalam cerita-cerita. Lembut tanpa banyak bicara, apalagi di hadapan anak kecil. Cahya, seperti yang sudah ku tulis pada hari ketiga. Gadis keturunan Lampung, bermata sipit dan berbicara sedikit tinggi, bukan karna marah tapi karna begitulah logat khasnya.

Aku tak pandai memasak, maka ku ambil alih untuk berbenah. Menghabiskan waktu untuk mengobrol dan bersenda gurau bersama sapu dan alat pel lantai. Sisanya, ku biarkan pewangi lantai turut andil dalam pekerjaan kami. Ya, kami. Aku, sapu, dan pel-an.

Sedang Fachri, entah sedang apa. Mungkin sedang tidur atau bermain games, atau bahkan mungkin sedang mandi lalu pergi membantu kerja bakti masyarakat seperti biasa, aku tidak tau. Aku hanya tau, bahwa sapu dan pel-an masih membantuku menyelesaikan pekerjaanku pagi ini.  

Pekerjaan kami selesai pada jam 08, setiap hari begitu meski kadang bisa sampai jam 9 atau bahkan jam 10. Lalu siap-siap, kedepan tujuan pertamaku setiap hari cenderung sama. Menyambangi sekolah TK, lalu istirahat sejenak, mengajar bimbel, pergi ke TPA atau ikut senam bersama ibu-ibu. Itu normalnya, belum lagi acara-acara dadakan desa dihari-hari tertentu, seperti pengajian, yasinan, forum diskusi, rapat, dan tetekbengek lainnya, yang tentu saja meski melelahkan menambah pengalamanku tiap harinya.

Pengajian dadakan hari ini kami sambangi beramai-ramai, pengajian ibu-ibu Nahdliyin yang diisi dengan baca yasin dan doa-doa. Dadaku sedikit terketuk ketika disampaikan bahwa ada kultum pada akhir pengajian, dan biasanya anak KKN siap tidak siap akan kena imbasnya. Maka aku pamit sejenak tuk mempersiapkan, hanya berjaga-jaga jika saja ada panggilan. Dan ketika tiba diacara kultum, ternyata benar kami disuruh tapi tidak secara sungguh-sungguh, hanya sekedar basa-basi. Akhirnya apa yang aku siapkan pun tak terpakai hari ini, ah biar saja mungkin esok akan perlu, tentu saja.

Kami pulang setelah membereskan bekas pengajian, dan mencuci piring. Seperti biasa. Hari yang melelahkan, sungguh. Sebelum ikut pengajian ini kami telah beraktivitas keliling desa, menyambangi rumah demi rumah. Sudah ku bilang, aku mudah lelah. Mungkin karna terlalu banyak berjalan, dan bicara.

Kepulangan pengajian kami isi dengan tontonan favorit posko, spongebo dengan tertawa khasnya sembari membahas proposal. Kami akan mengajukan dana untuk penggarapan beberapa acara di desa, hanya tinggal mengganti-ganti setiap kata tujuan kami karna aku memiliki soft filenya. Di lain sisi aku bercengrama melalui kata bersama sahabatku Laila, mengirim jepretan lucu wajah kami masing-masing. Ini sudah malam, dan ini hari keempat, aku rindu teman-temanku.


Related Posts: