#KKN8

Selasa, 30 Juli 2019


Hari kedelapan, ku berita tau sedari awal bahwa tak ada cerita pengabdian di sini. Kecuali sebuah perjalanan pulang yang menyenangkan. 

Fachri Apriliansyah, ku kenalkan ia dengan satu tujuan. Koord. kelompok pengabdian kami, berambut kriting, sempat gondrong, dan suka berkumpul dengan banyak orang yang satu passion dengannya. Ia mengikuti salah satu komunitas motor di Indonesia, kerap pergi keliling daerah dengan motornya yang menurutku kurang nyaman. :") 

Motor bebek berwarna hitam dengan ban yang diganti dengan ban yang lebih kecil, membuat tulang kita seolah beradu langsung dengan jalanan. Namun sebab ia dan motornya jugalah aku bisa pulang, bolak-balik rumah kosku, jadi aku tidak ingin menjabarkan kekurangan motornya lagi, hoho. 

Pukul sembilan kalau tidak salah, aku tidak melihat jam, kami berangkat. Fachri mengenakan baju PDH jurusannya dengan tas (selempang) dan celana jeans, sedang aku mengenakan kulot, outfit connect dan jaket KKN kami. Perjalanan yang didominasi oleh suara bising motor Fachri dan desau angin yang beradu, sesekali ia bicara memecah keheningan di antara kami.

Sejujurnya, ketika melihatnya aku teringat benar kakak kandungku. Terlebih ketika ia bernyanyi, suara persis sekali. Suatu ketika sebelum lelap, di ruang tamu ia bernyanyi begitu sendu dan rasanya aku ingin meneteskan air mata. Kerinduan pada kakakku yang sudah berkeluarga, tak bisa ku pungkiri. Aku kehilangan sosok seorang kakak, sejak beliau mengemban amanah yang lebih berat.

Perjalanan yang kami tempuh selama 2 jam, menghantarkan kami ke Rektorat untuk mengambil surat observasi KKN. Itulah tujuan pertama yang baru kami rencanakan beberapa menit lalu. Ku naiki anak tangga yang sedari dulu tak pernah naik pangkat jadi bapak. Entah berapa puluh anak tangga yang terdapat di 3 lantai yang telah kami jejaki, kami tiba di tujuan kami. Ruang LP2M dengan nama Pak Isaeni di depannya.

Ku sentuh pintu dua ketukan, tak ada tanggapan. Ku geser pintunya ke dalam, tak bergerak. Ya, Pak Isnaeni atau staf LP2M yang lain tak ada. Aku dan Fachri saling menghempaskan napas, saling memberi tau tanpa kata bahwa kami mengeluh tanpa disadari. Dan aku lebih mengeluh lagi ketika tau bahwa kartu ATMku tertinggal dalam tas make up yang sengaja ku tinggal. Jadi, ada dua keluhan di koridor lantai 3 ini, setidaknya yang ku ketahui.

Tak ingin mengeluh lebih banyak lagi, kami turun menjejaki tangga yang masih belum naik pangkat juga, jadi kakak laki-laki atau perempuan, belum. Kami berjalan beriringan, aku tak terlalu tinggi hanya sepundaknya, persis seperti abangku. Baik aku membahas abangku lagi. :")

Dan, selepas ini memang aku akan bertemu abangku. Meski bukan abang kandungku, setidaknya beliau adalah orang yang mengarahkanku sejauh ini. Orang yang cocok untuk menggantikan figur kakak yang hilang beberapa tahun ini. Namanya Ayub Kumalla, ialah orang yang pertama aku kenali di UIN. Seorang penyair cyber yang saat ini sudah menulis 8 buku. Ia adalah salah satu pintu yang menunjukkan jalan pulang menuju dunia kepenulisanku.

Hari ini Kak Ayub wisuda, dan itu kenapa ruang LP2M tutup. Wisuda, aku dan Fachri baru mengingatnya. Banyak pedagang bunga, dan hadiah-hadiah lain untuk orang-orang terkasih yang menambah nama belakangnya dengan gelar. Aku dan Fachri berkeliling sejenak, memilih beberapa hadiah yang berakhir pada doraemon berwarna pink, hadiah untuk abangku. :")

Fachri hanya tertawa-tawa ketika melihat pilihanku, mengatakan bahwa aku "kosong" seperti biasa.

Aku tak menjumpai abangku di GSG yang digunakan untuk menggeser topi wisudanya, ku diminta untuk pergi ke suatu tempat di mana pacarnya berada. Sebuah rumah kos sederhana, yang akan digunakan untuk acara selamatan abangku, rumah kos yang ku temukan karna diantar Fachri dengan arahan google maps.

Maka hari ini, aku dan Fachri berpisah di rumah kos pacar abangku, yang ternyata iapun nebeng di kos temannya karna rumah kosnya sudah habis masa tinggalnya.

Di rumah kos temannya pacar abangku, aku lebih banyak rebahan. Acara selamatan dimulai selepas sholat ashar, jadi ku putuskan untuk tidur. Hingga jam 3 sore Kak Hendrik yang sebut saja sebagai abangku di sini setelah Kak Ayub, beliau datang dengan kemeja kotak-kotak hitam. Satu jam setelahnya Kak Jun yang ku kenal melalui Kak Ayub, datang bersama teman-teman kelasnya. Beliau datang dengan misi berbagi tawa seperti biasanya. Lelaki hitam manis yang lucu, itulah yang pas. Meski kadang sikapnya saat bersama Kak Ayub dan Kak Hendrik terkesan bodoh. Hoho :")

Hari ini juga menjadi moment dimana aku mengenal keluarga Kak Ayub dan pacarnya, terlebih adik Kak Ayub yang sebaya denganku membuat kami bisa mengobrol dengan satu arah, alias satu koneksi. Permasalahan anak sebaya cenderung sama, beberapa kasus banyak kami alami. Terlebih Bela pun suka menulis.

Buku keduaku pun diserah terimakan kepada Kak Ayub dan Kak Hendrik sebagai mentorku dalam menulis. 2 eksemplar untuk 2 orang yang berkesan dalam hidup.

Ini hari ke delapan, sudah ku bilang tak ada kegiatan pengabdian.


Related Posts:

0 Response to "#KKN8"

Post a Comment