#KKN15

Selasa, 6 Agustus 2019

Tugas manusia di bumi adalah ikhtiar. Mengajukan proposal untuk pengadaan buku-buku adalah ikhtiar kami selama di sini. Proposal yang kami kirim ke beberapa instansi baik online maupun ofline. Pengadaan buku-buku ini kami tujukan untuk TPA/TPQ di Desa ini. 


Seperti biasa Ferdi adalah rekan setia untuk berkeliling perihal pekerjaan yang tak mudah. Kami sudah siap-siap sejak pagi hari, menata berkas demi berkas yang akan kami bawa. Tapi fatalnya kami ngaret, bahkan hingga jam 2. Bukan perihal kami, tapi perihal yang memang hanya ada 2. Pun itu satunya baru ada belum lama ini. 

Tujuan kami hari ini adalah TPA/TPQ di seluruh Desa. Tujuan menyambangi TPA/TPQ adalah untuk meminta stampel mereka, yang akan kami tempel di setiap foto bangunan TPA/TPQ yang menjadi lampiran proposal kami. Hingga sore tiba, kami baru selesai. Desa Wonokarto yang terdiri dari 5 dusun ini sangat luas, tak cukup sehari jika ingin berkeliling berjalan kaki. 

Langit telah pekat, dan tak ada siapapun di rumah kecuali aku. Semuanya pergi mengikuti Al-Barjanzi, dan aku tidak. Aku lelah selepas membawa motor Fachri yang bannya kecil juga berisik. Tapi lebih lelah lagi karna menangis. Alasannya sederhana, seperti anak muda kebanyakan. Perihal hati.


Dikesempatan menulis kali ini aku ingin menceritakan seseorang di sela ceritaku tentang KKN ini. Meski ia tak terlibat dalam cerita KKNku, meski ia sedang tidak melakukan KKN juga. Ia bahkan tak tinggal satu provinsi denganku, kami beda kota. Hanya saja pada buku kami yang pertama, kami menerbitkan di penerbit yang sama. Suatu ketika ia mengirim DM padaku berupa ajakan menulis bersama. Ia mendapat voucher terbit berupa novel, tapi karna tak pernah menulis novel, ia mengajakku karna buku pertamaku adalah novel. 

Tak sedikitpun aku atau ia berniat memulai sebuah rasa. Semuanya berjalan begitu saja, atas nama partner menulis. Namun selepas setengah tahun berjalan, kami mulai dekat. Menceritakan banyak hal di luar project kami. Berbagi keluh kesah, hingga menjadi begitu dekat. Pun kami tak pernah mengatakan ingin bersama, aku dan ia bersama seiring senja yang ku temu dengan deretan pesan singkatnya di ponselku. Dan kami menjadi kehilangan arah. 

Kami jarang sekali berdiskusi mengenai buku yang kami tulis. Hanya ada percakapan dua sepasang hati, tentang hal-hal yang tak perlu. Iya, semuanya tak perlu tapi memang menyenangkan. Ia juga menenangkan, menjadi tempatku berkeluh kesah, menjadi rumah ketikaku lelah. Dan ku akui, ia adalah orang yang bisa menanggapi kalimat seseorang dengan baik. Bagiku, ia cocok jadi seorang psikolog atau konselor, karna sadar tidak sadar ia benar-benar menerapkan berbagai teknik yang aku tekuni hampir 4 tahun ini. 

Ia menjadi prioritas, dan itu adalah salah. Bukan sebab aku tak mencintainya karna segala kondisi yang sedang ia alami. Aku percaya bahwa ia akan pulih dan baik-baik saja, lagi. Tapi karna ia mengecoh duniaku menjadi hanya tertuju padanya, lembaran usang tentang mimpi dan harapanku menjadi teralih. Entah, padahal kami memiliki kesibukan masing-masing, tapi ketika ia mencuat dari apapun kesibukan maka kesibukanku teralih padanya. 

Dengan keputusan bersama, kami mengakhiri semua. Berharap suatu ketika temu menyapa, jika memang Allah mengizinkannya. Aku tak ingin memaksa lagi, ku biarkan rindu ini tertuju pada orang yang semestinya. Aku mencintainya, haruskah ku ulangi. Jika tak bersama berarti ini bukanlah cinta. Ini hanya rasa nyaman, atau entahlah. 

Ini hari kelima belas, ku baca pesan singkat kami berulang kali, dan aku menangis lagi. 

Related Posts:

1 Response to "#KKN15"

  1. numpang promote ya min ^^
    Ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    ReplyDelete