#KKN11

Jum'at, 2 Agustus 2019

Bertemu anak kecil adalah rutinitasku selama di sini, menyenangkan karna aku melakukan aktivitas sesuai passionku. Ya, aku suka mengajar, bersenda gurau, bicara di depan, membuat anak-anak belajar dengan nyaman tanpa rasa bosan. 

Itulah alasan kenapa aku ingin s2, s1 BK aku akan terlalu banyak di ruang konseling. Sedang menjadi dosen, aku bisa menyalurkan hobiku. 

Ngajar TK adalah rutinitas sama seperti makan pagi yang biasa aku lakukan di sini, atau sebut saja sarapan. Rutinitas yang menyenangkan, dan terputus hari ini karna selepas masak aku justru mesti bergegas berangkat mengajar, tak ada waktu untuk makan karna kami bisa saja terlambat. 

Hari jum'at adalah hari olahraga bagi TK ABA, yang seharusnya mengenakan kaos aku justru mengenakan kemeja. Senam ringan khas anak balita, mengikuti gerakkan seraya meloncat-loncat dan tertawa. 

Di sela jam istirahat, aku dan Indri, rekan mengajarku baik di TPA dan TK bertamu ke rumah di samping TK yang ternyata dihuni oleh seorang guru yang sedang cuti. Beliau sakit sinus, dan masih belum pulih. Ibu guru ini adalah istri dari Pak Agus, seorang yang pernah mengajari kami caranya bermain saham beberapa hari lalu. 

Hanyut dalam percakapan ringan, kami justru terbuai dan kembali ke TK ketika sudah pulang. Ku temu Gilang sudah mengenakan tasnya dipunggung, seorang anak kecil yang lucu, ketika bicara logat Jawanya sangat jelas terdengar. 

Tapi sayangnya meski begitu lucu, Gilang tak bisa ku bawa pulang. Di posko ada Gilang lain, yang sayangnya tidak ada lucu-lucunya, rekan satu poskoku yang sering bermain games hingga malam. Aku pulang bersama Indri tentunya, ditemani Cika yang rumahnya tepat di depan posko kami, dan tetap saja tidak boleh kami bawa pulang meski jaraknya sedekat itu. 


Aku pulang dengan keadaan lapar, dan Zia dengan wajahnya yang ceria menawarkan memasak bersama. Sepiring nasi goreng spesial, yang pada akhirnya hanya dia yang memasak dan aku memerhatikan. 

Sore hari seperti biasa, TPA menantiku. Datang bersama Fachri dan Indri, lagi. Malam hari, aku mencuci piring bersama Mbak Lita selepas makan bersama. Tiba-tiba bapak-bapak diluar rumah kami berteriak-teriak tak jelas bicara apa. Semua orang keluar, aku yang berada di dapur keluar melalui pintu belakang masih menggenggam piring dan spon berbusa. 

Aku bertanya-tanya kenapa bapak tersebut berteriak lantang, yang ku dengar adalah perihal ular. Dan ternyata pendengaranku salah besar. Aku memang tidak peka, bahwa sebabnya adalah gempa dan aku tidak merasakannya sama sekali. 

Selepas keadaan kembali normal, Fachri mencariku. Dan kalimatnya lah yang membuatku menangis untuk pertama kali di posko kami. 

"Rahayu, pusat gempanya di Banten, potensi tsunami. Coba gimana keluarga kamu?" kurang lebih begitulah kalimatnya, aku ternganga mendengarnya, gemetar menyentuh layar tanpa tombol. 

Ku hubungi bapakku beberapa kali, yang akhirnya terjawab dan membuat napasku lega. Bapakku masih di Tangerang, belum pulang ke rumahku yang letaknya berada di Serang. Maka ku putuskan untuk menelpon rumah, menghubungi Oomku yang ternyata tidak ada di rumah. Pun ia sedang bekerja, namun kabar baiknya ia pun telah menghubungi orang yang ada di rumah mengatakan semua baik-baik saja.

Kalimat baik-baik saja nyatanya tak berpengaruh apapun bagi air mataku yang menetes seketika. Kekhawatiran demi kekhawatiran menjalar, berita potensi gempa yang akan terjadi belum berakhir. Ku habiskan waktu menangis seraya mengaji, tak tau mesti melakukan apa. Menutup wajahku sendiri dengan mukena, berharap semua baik-baik saja. 

Hingga air mataku berhenti menganak, kabar baikpun tiba. Lebih dari sekedar baik, ketika aku menangis tersedu-sedu, ternyata keluargaku di Serang justru mengirimkan video seraya tertawa-tawa bermain ludo. :") Naas sekali menangisi orang yang bermain ludo, tapi itulah tawa yang memang masih dan ingin selalu ku dengar, ketika batas-batas kerinduan kencang menerjang. 

Ferdiana yang sudah berlalu lalang mengajakku untuk menyelesaikan program-program yang biasa kami handle bersama, dibantu Fachri sebagai ketua. Mengajak pergi bertemu Pak RT untuk membahas peserta perlombaan TPA yang belum kami dapatkan kejelasannya. 

Aku sudah tak menangis, ibuku sedang tertawa di sana karna menyenggol bibi-bibiku dengan ludonya yang entah warna apa pilihannya malam ini. Di rumah Pak RT aku dan Ferdi mendengarkan beliau menelpon satu-persatu ustadz/ah TPA, menulis nama-nama peserta yang akan kami seleksi esok hari. 

Hari ini hari yang panjang, bahkan ketika pulang ke posko kembali dan berharap beristirahat, rumah ternyata tak mampu kami buka karna kunci yang dibawa oleh seluruh rekan yang ternyata sedang menonton tari. Aku akui, anak-anak di sini memang terlatih untuk banyak hal. Gerak lincah tubuh 3 orang putra dan 3 orang putri menampilkan tari berpasangan, tampak enak jadi suguhan malam. 

Cukup lama menonton. Aku sudah tak sabar untuk menyandarkan badan, namun diperjalanan pulang aku ingat bahwa ini adalah hari yang panjang. 

Langkahku berhenti begitu saja dikerumunan ibu-ibu yang sedang mengupas bawang, aku sendiri sebab Ferdi masih berlama-lama di tempat menari anak-anak desa ini. Ku ikuti arus pembicaraan mereka, bicara ringan menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang biasa ditanyakan pada perkenalan pertama. 

Ini hari yang panjang, semoga Allah menjaga keluargaku di manapun mereka berada.

Aku sayang mereka, dan mulai sayang teman-teman KKNku juga. 

Related Posts:

0 Response to "#KKN11"

Post a Comment