#KKN9

Rabu, 31 Juli 2019

Selalu ada cerita, meski kita merangkai satu tema yang sama. Meski satu cerita, selalu ada kata yang akan dimaknai berbeda. 

Hari ini, selepas selamatan wisuda abangku kemarin sore, aku kembali ke rumah kosku untuk menumpang tidur. Di antar Kak Hendrik ke rumah kosku, dan kunci gembok gerbang kosku yang ternyata diganti karna gembok yang lama rusak. 

Aku memang atau mungkin terlalu ambisius. Pagi ini sebelum pulang kembali ke Wonokarto aku menyempatkan diri ke kampus untuk menemui dosen pembimbing. Harapan untuk lulus secepatnya terkadang membuatku bergerak tanpa berpikir panjang. Ini masih hari-hari KKN dan aku ke kampus untuk menemui dosen pembimbingku menggunakan kesempatan selagi pulang. 

Naasnya selepas menunggu beberapa waktu lamanya, dosenku tak menunjukkan kehadirannya. Di mejanyapun hanya ada lembaran proposalku yang sama sekali tak ada coretan. Siang ini aku pulang, maka ku ikhlaskan diri meninggalkan proposalku tanpa tanda tangan ACC. 

Langit tak terlalu terik, masih cukup pagi dan perutku sudah lapar. Ku siapkan diri tuk bertamu di ibu uduk, sembari bersiap untuk pergi bersama Fachri kembali ke pangabdian kami. Namun belum sempat berangkat, Fachri meminta kami makan uduk bersama. Mungkin iapun sama laparnya. 

Selepas ku tunggu 5 menit, iapun datang. Motornya masih bising, ban motornya pun masih sama kecilnya, bedanya velg nya sudah diganti kemarin sore. Ketika melewati gerbang kampus, kami teringat Pak Isnaeni, lebih tepatnya surat yang kami butuh. Dan yang mengurus surat tersebut ternyata tidak lagi Pak Isnaeni, kami diarahkan pada dosen lain melalui pesan singkat. 

Perutku lapar, dan kami harus bertemu anak tangga yang sedari dulu sebatang kara, banyak tapi tak memiliki saudara, semuanya anak, tak ada orang tua. Oke, aku membahas hal tak berguna lagi. :") 

Ketika telah sampai di koridor lantai 3, pintu ruang LP2M pun dikunci seperti kemarin. :") Tak ada orang, jadi kami memutuskan untuk bersandar pada tembok di ujung koridor, entah kenapa memilih diam di tempat ini, padahal tepat di depan kami adalah toilet. 

Entah sudah berapa puluh motor yang keluar masuk kampus kami, tiba-tiba seseorang keluar dari toilet. Bapak-bapak berambut putih, memakai batik. Target yang tepat untuk kami tanyai. Namun mirisnya beliau tidak mengenal orang yang kami cari, Pak Bushroni bukan Pak Isnaeni lagi. 

Hebatnya, meski beliau tidak tau pada Pak Bushroni beliaulah yang memberikan surat observasi pada kami. Ya, beliau tidak tau orangnya tau tau perannya, maka aku dan Fachri bahwa bapak yang kami tanyai tentang tau tidaknya pada Pak Bushroni adalah Pak Bushroni. :") 

Ah, entahlah siapa bapak tersebut. Yang jelas surat ditangan, dan perut masih lapar. Fachri membawaku pada sebuah warung nasi uduk, berada di dalam gank yang masuk dalam gank yang ada gank lagi. Aku sempat mengeluh karna jauhnya ia mencari tempat makan, dan alasannya sederhana. Warung yang dimiliki seorang ibu-ibu ini adalah langganannya dan teman-temannya. 

Rasanya, sama aja seperti nasi uduk. Bedanya, aku memakannya tidak jadi sendirian seperti rencanaku pagi tadi. Maka satu jam sebelum dzuhur, kami berangkat. Di perjalanan kami hanya bicara-bicara ringan tentang suatu hal yang tak jelas, marah-marah karna bajunya ku tarik-tarik ketika ada lobang, atau punggungnya yang terasa sakit karna hantaman tanganku. 

Tawanya, seperti abangku. :") 

Kami tiba di Kec. Sekampung ketika adzan dzuhur. Belum sampai posko, kami berhenti di mbak-mbak donat warna-warni, beberapa meter ke depan kami berhenti lagi untuk membeli petis dan duduk cukup lama karna mengantri. Seperti perokok kebanyakan, ia segera mengeluarkan gas dan sebungkus rokok, asapnya tentu menyebalkan ingin ku ajak bertengkar. 

Sejujurnya bicara dengan Fachri selalu menyenangkan, ia bukan orang yang mudah terbawa perasaan, akupun. Ia berlagak layaknya orang tuaku karna mendapat pesan dari ayahku untuk menjagaku. Ia juga persis seperti abangku, seperti yang sering ku katakan. Ia juga seperti Kak Ayub dalam versi berbeda. 

Perjalanan hampir dua jam yang melelahkan, tapi bukannya istirahat setiba di posko kami justru mabar hago. Dan aku selalu kalah, aku tidak pandai berbohong dalam werewolf, hoho. Fachri dan Ferdiana adalah jagonya. Karna kekesalan bermain hago yang wifinya kurang mendukung, aku dan Fachri pergi ke rumah Pak Kaur untuk meminjam gitar. 

Sore harinya rutinitasku kembali, senam menjadi program pertama lagi selepas pulang sehari. Jujur, aku suka sekali di sini, meski beberapa hal seperti kejadian sore ini sangat ku benci. 

Hari ini karna kelelahan, selepas senam aku tidur hingga magrib menjelang. Ya, ini memang bukan waktu yang baik untuk tidur. Beberapa menit sebelum adzan aku sudah bangun ketika Fachri di ambang pintu membangunkanku. 

Aku sempat kesal, hoho. Bukan karna ia membangunkanku, toh aku memang sudah bangun. Aku kesal ia bicara perihal  magrib tapi ia dan yang lain justru dengan santainya memetik gitar ketika adzan berkumandang. Aku tak suka, meski aku bukanlah muslim yang taat juga. Namun, aku juga kecewa karna satu di antara kami bicara ingin rajin sholat lima waktu ketika kali pertama kami rapat, justru kerap marah ketika disuruh sholat, atau tidak menggubris sama sekali. 

Ini hari kesembilan, itulah yang tak aku sukai dari mereka sejauh ini meski banyak hal baik dari mereka sejauh ini. 




Related Posts:

0 Response to "#KKN9"

Post a Comment