#KKN10

Kamis, 1 Agustus 2019

Angka genap, aku menyukai. Meski hari ini situasinya menjadikanku tak peduli akan kesukaanku pada angka-angka genap, termasuk angka ke-sepuluh kami melakukan pengabdian masyarakat. Begitu banyak rencana yang disusun untuk hari ini. Dan di antaranya banyaknya rencana, aku justru tak mampu melakukan satu kegiatanpun. 

Pagi ini, selepas mandi dan bersiap. Aku ambruk di ruang tengah, tak kuat menahan badanku yang demam sejak kemarin sore selepas pulang dari kampus bersama Fachri. Flu, kepala pusing, dan wajah panas, membuatku tak bisa melakukan banyak hal. 

Aku tidak suka sakit, mungkin kalian juga. Aku bukan tipe orang yang suka dikasihani, dan tidak suka disuruh-suruh juga. Hari ini, sudah pusing karna kepalaku yang pening. Temanku tanpa berpikir panjang menyuruhku untuk tetap berangkat menjalankan aktivitas. 

Dan ini adalah kali pertama aku berbicara dengan nada tinggi dengannya. Sudah ku bilang, aku bukan tipe orang yang suka disuruh-suruh. Jika kondisiku baik, aku akan melakukan banyak hal seperti hari-hari yang lalu. Tidak sepertinya, yang sudah kami lihat sejauh ini. 

Lucunya ia menyuruhku beraktivitas, sedang ia sendiri dalam keadaan sehat tak melakukan apapun. Sungguh lucu, suka menyuruh tapi tak ingin disuruh. h4h4

Ah, akhirnya aku bisa meluapkan kekesalanku dengan penuh, dengan seluruh. Di antara semua anggota di posko memang ada di antaranya yang kurang disukai perangainya oleh kami, meski kami berusaha memahami ia dengan baik. Mungkin ia biasa berlaku begitu ketika di rumah, tak pernah mengerjakan apapun, dan suka memerintah. Meski kalian tentu tau rasanya, tidak nyaman melihat yang lain pergi kesana-kemari bekerja, sedang yang lain justru merebahkan diri di tempat tidur seraya menggenggam ponselnya. 

Syukurnya, sebagian besar teman-temanku memang mengerti. Mengajakku kembali ke bidan segera, dan naasnya bidan di samping posko kami sedang tak ada meski kami sudah menunggu beberapa lama. Karna tak kuat kepala kian pening, aku memutuskan pulang. Terlelap beberapa menit di dalam kamar. Tiba-tiba Pak RT Nimin yang menjadi bapak kami di sini menampakkan wajahnya di jendela kamar, mengajakku berobat ke tempat lain. Padahal hari ini posko sedang ramai-ramainya karna ada kegiatan sosialisasi dari seluruh perangkat Desa, tapi aku tak mampu fokus ke sana. Pikiranku masih pada kepalaku sendiri. 

Aku berobat bersama Pak Nimin dan Mbak Lita, seorang gadis Jawi yang lembut perangainya. Ia adalah yang paling sederhana di antara semua temanku di posko ini, bukan hanya menurutku tapi menurut semuanya. Tak bisa marah, kerap membantu, dan bicara dengan nada yang terkesan hati-hati. Ternyata aku dibawa oleh Pak RT  dan Mbak Lita ke samping tower desa. Bukan untuk mencari sinyal, tapi di sini sedang ada acara Relawan Nusantara yang bekerja sama dengan tower dan dokter-dokter umum.

Seperti acara pada umumnya, mengantri adalah hal yang mesti dilakukan. Pertama, kami mesti menyetorkan KTP, dan aku tak membawanya. Baiknya, Pak RT meminta izin untukku menggunakan KTP Mbak Lita untuk berobat kami berdua. Ya, Mbak Litapun mengalami sakit yang sama denganku tapi ia tak mengeluh sedikitpun. Masih melaksanakan program-program kami dengan baik.

Sebelum bertemu dokter yang telah mengobati banyaknya warga di Desa Wonokarto ini, namaku dan Mbak Lita dipanggil oleh petugas yang mencatat data kami.

"Mbak Lita dan Mbak Rahayu, tgl lahirnya sama?" katanya, aku dan Mbak Lita saling lirik, sepertinya memang terjadi kesalahan, bahkan sebelum kami beberapa warga salah tulis nama yang hasilnya kebingunan ketika dipanggil gilirannya. Seperti misalnya Ibu Martinah bisa menjadi bisa Martono, itulah yang terjadi.

"Mbak Lita 31 januari?" beliau mengangguk, sedangkan aku memasang wajah tanya.
"Mbak Rahayu juga?" pun aku mengangguk juga, kemudian kami saling lirik. Memastikan kebetulan yang terjadi.

"Loh, kamu tgl 31 januari juga?" Mbak Lita melerai kebingungan tatap mata kami yang beradu
"Iya Mbak, Mbak juga?" iya mengangguk halus, kemudian tertawa bersamaku. Kebetulan yang ajaib bagiku, ditahun yang sama pula kami lahir. Mbak Lita benar-benar resmi menjadi kakakku, lebih tua 3 jam dariku. Bahkan warga yang sedang ikut mengantripun ikut tertawa-tawa mengatakan bahwa kami kembar, saudara yang dipertemukan sebab Kuliah Kerja Nyata.


Selepas berobat, aku istirahat total. Tak melakukan apapun, tak pergi tuk menjalankan satu program pun. Sedang Mbak Lita melanjutkan aktivitas seperti biasanya, dia memang tampak hebat di mataku dan teman-teman lainnya. Bahkan malam harinya ia masih sempat mengerok tak kurang dari 5 orang karena memang sebagian dari kami sakit. Hebat bukan? orang sakit yang membuat orang lian sehat. Sudah ku bilang, dia memang hebat.


Hari kesepuluh, terimakasih Mbak Lita sudah menjadi figur yang baik untuk kami.

Related Posts:

0 Response to "#KKN10"

Post a Comment