#KKN7

Senin, 29 Juli 2019.

Yeay, seminggu. Ini adalah ke-seminggu. Maksudku hari ketujuh dari 40 hari yang akan kami lalu, ya masih ketujuh. Dihari ketujuh ini bahkan sudah ada yang bertanya kapan kami selesai. Sebenarnya itu bukan pertanyaan yang tepat, mengingat begitu banyak program kerja yang belum banyak berjalan. 

Sebenarnya rutinitas mengajar mau tidak mau lebih menghabiskan banyak waktu, dan tentu saja tenaga. Terlebih mengajar anak TK, yang diminta untuk dudukpun sulit, berbeda dengan anak SD yang tinggal diberi tau saja. Untuk usia aktif seperti anak TK kita mesti memberi taunya dengan menggiring mereka duduk, atau berbicara dekat dan menggenggam jemari, menuntun mereka. Tak jarang ada yang menangis, membuat kelas kian gaduh. 

Seperti hari ini, TK menjadi pembuka hariku, mungkin hari-hari sebelumnya juga. Seperti biasa aku mengajar kelas 0 besar, dengan Gilang, Nizam, Qoyum, dan anak-anak kecil berjenis kelamin laki-laki yang menggemaskan. Gilang dengan wajah bulat hitam manis khas orang Jawa ditambah suaranya yang medok, sering menggelendot di belakangku ketika mengajar. Nizampun tak ingin kalah, sesekali berlari-larian tuk sekedar mengejar di mana posisi dudukku. 

Katanya, mereka selalu membicarakan mahasiswa KKN dengan sebutan ada guru baru, aku mengetahuinya dari salah satu guru TK yang kerap memerhatikan percakapan mereka. Sejujurnya aku kurang pandai berinteraksi dengan anak kecil, yang aku tau hanya menyanyi, menggambar, dan games, tapi games tidak terlalu ku kuasai untuk anak usia balita seperti mereka.

Maka, ku ajak mereka bernyanyi, bertepuk-tepuk tangan, lalu menggambar, hanya itu yang terpikir dibenakku untuk membuat kericuhan kelas mereda. Di samping anak-anak yang antusias, dilain sisi aku merasakan kantuk yang amat, hehe. Aku ngantuk-an gayes :")

Jadi ketika pulang dari TK tujuanku tak lain kecuali tidur. Ketika bangun ku tonton beberapa video "Menjadi Manusia" beberapa tayangan cerdas yang layak didengarkan, yah cukup didengar. Videonya berisi tentang sudut pandang seseorang, semisal video Lisa Samadikun  berjudul "Apakah kau sudah bahagia?" 

Mengisahkan perjalanan hidupnya, terkesan membosankan diawal tapi ternyata semua kisahnya ada korelasinya, seorang penari balet yang jatuh sakit karna tak menari lagi selama 9 bulan dengan alasan sibuk kerja. Yaps, passion, hobi, atau ketertarikan pada suatu hal menurutku adalah terapi bagi seseorang. Lisa juga menyembuhkan dirinya dengan menari, atas arahan dokter hebat yang mengarahkannya. Datangi kembali tempatmu biasa latihan menari, rasakan suasana di sana, karna setiap hembusan napas yang ditarik, adalah sebuah obat. Maka dalam waktu 3 bulan, badannya yang lumpuh setengah mulai pulih. 

Perspektif lain adalah bercerita tentang seseorang yang mengaku dirinya agnostik, ia percaya konsep ketuhanan tapi tidak percaya konsep beragama. 

"Terlalu banyak kebencian di dunia ini yang berkembang atas dasar agama" salah satu kalimat yang ia sampaikan disela ia bercerita. Bagiku ia terkesan cerdas, bahkan banyak yang berkomentar ia lebih terkesan deisme dibanding agnostik. Deisme adalah kerpercayaan filosofis yang menyatakan bahwa Tuhan ada sebagai suatu sebab pertama yang tidak bersebab, yang bertanggung jawab atas penciptaan mansuia, tetapi kemudian tidak ikut campur dengan dunia yang diciptakan-Nya. 

Bahkan ketika usia sekolah menengah ia sempat menjadi seorang atheis, ia juga memercayai salah satu teori seorang filsuf besar, Aristoteles yang mengemukakan bahwa tidak ada suatu hal yang nyata kecuali hal itu bisa dibuktikan secara empiris, artinya bisa dilihat dari panca indera. Tuhan memang tidak dapat dibuktikan melalui panca indera, namun pada pada akhirnya ia mengenal salah seorang filsuf Amerika yang mengatakan bahwa dari semua hal yang bisa dibuktikan secara empirik, ada satu hal yang tidak bisa dibuktikan yaitu afeksi, hubungan. Diafeksi inilah kita bisa merasakan cinta, kasih sayang, cinta, itulah yang membuatnya mulai memercayai konsep Tuhan. Dan menurutnya Tuhan itu bisa dibuktikan melalui teori tentang kekelan energi, bahwa tidak mungkin energi itu tiba-tiba ada dari ketiadaan atau dari yang sudah ada sesuatu lalu tiba-tiba hilang, kecuali berubah bentuk. Itulah letak kekuasan Tuhan menurutnya.

Namun ketertarikanku mendengarkan mereka berceloteh dalam video-video tersebut terhenti ketika Pak Kaur dan beberapa pemuda desa datang, menawarkan tema diskusi forex trading dan saham. Sejujurnya, awalnya aku tak benar-benar memahami, di jam 10 malam memaksaku mengirim pesan pada salah satu tutorku dalam berbisnis, seorang ustadz dan dosen ekonomi di kampusku. 

Diskusi kami berfokus pada hukum islam forex trading, dan jawaban ustadzku adalah haram kecuali dalam hal forex foreign exchange, pertukaran mata uang. Untuk forex yang naik turun, ustadzku mengatakan, menurut beliau belum boleh karna objek jualannya adalah uang yang bisa mengakibatkan bangkrut dan kolaps dunia. 

Namun sebelum diskusi kami melebar, Pak Kaur mengajak kami bertemu dengan seorang pak Forex Trading, Pak Agus yang tak lain adalah seorang pemain lama diForex, menjelma bak dosen yang memberikan kuliah umum. Aku hanya mengangguk-angguk memahami permainan grafik, sejujurnya aku tak terlalu tertarik, entah kenapa. Ku menangkap sisi lain selain mengajarkan, dan aku disela kebosananku menyimak aku memilih berbicara pelan-pelan melalui ponselku dengan Arkam, My Indians Friend. 

Ini hari ketujuh, meski begitu belajar bersama Pak Agus adalah suatu pengalaman yang belum pernah ku dapatkan. 

Related Posts:

0 Response to "#KKN7"

Post a Comment