Bedugul Bali, Sebuah Pura di Tengah Danau.



Selamat, siang atau malam. Semoga kita selalu selamat. h3h3 :)

Kali ini aku mau cerita tentang pengalaman field tripku, selepas melakukan perjalanan darat melewati Pulau Sumatra, Pulau Jawa, hingga Ke pulau Dewata, Bali. Banyak hal berkesan yang sudah sangat ingin aku ceritakan. Sebenarnya perjalananku di Bali tidak terlalu lama, hanya tiga hari aku berada di sana, tapi rasanya begitu banyak kenangan yang menyambar ketika diingat.

Selama berada di Bali aku menginap di Permata Kuta Hotel By Zeeti International, malam terakhir berada di Bali diisi dengan dinner bersama teman-teman di hotel tersebut. Meski rencana awalnya acara ini akan dilaksanakan di Pantai Kuta tapi karna beberapa alasan yang diajukan oleh pihak travel maka kami tak keluar hotel dimalam terakhir.

Acara makan malam yang mengenakan dresscode hitam dengan kerudung gold, memang memberikan kesan mewah kata orang-orang, tapi aku sendiri sebenarnya kurang menikmati acara formal seperti ini, karnanya aku lebih suka menceritakan perjalananku.


Selepas makan dan foto, masuk kamar. h3h3 :")


Salah satu tempat yang paling berkesan dan menjadi saran tempat yang wajib dikunjungi dariku ketika kalian berlibur ke Bali adalah Wisata Bedugul. Sebuah Pura yang terletak di tengah Danau Bratan, mungkin akan lebih indah ketika melihatnya saat matahari terbenam. Sayangnya, kedatanganku ke Bedugul disambut dengan rintik hujan. Tapi memang tetap saja sesuatu yang indah, keindahannya tak akan luntur sebab derai hujan, yang memaksa mahasiswa sepertiku yang harus hemat-hematnya, justru harus mengeluarkan pengeluaran untuk menyewa payung jika ingin berkeliling.



Suasana hujan, membuat Bedugul kian romantis apalagi jika ke tempat ini bersama pasangan halal. h3h3


Pura yang berada di wisata bedugul ini disebut sebagai Pura Ulun Danu Bratan. Dahulu sebenarnya digunakan sebagai tempat pemujaan kepada Tuhan. Dari foto tersebut, bisa kita lihat jelas langit yang gelap. Suasana yang dingin terlebih Wisata Bedugul ini terletak di ketinggian ± 1240 di atas permukaan laut.

Untuk harga masuk ke wisata ini, sebenarnya aku kurang paham karna biaya perjalanan sudah diatur oleh pihak travel. Tapi menurut warga setempat tidak lebih dari Rp. 20.000 untuk perorangnya. Wah murah banget yah, padahal tempat wisatanya keren banget. :(

Wisata ini juga cocok sebagai wisata keluarga, di sekitar wisata terdapat kebun raya eka karya, serta pasar buah dan sayuran tradisional. Juga berbagai penginapan dengan panorama pegunungan serta danau yang menakjubkan. Meski untuk perjalanan ke tempat ini, usahakan membawa pengemudi yang handal yaa, karna kanan dan kiri perjalanan adalah bukit dan jurang. 


Karna ketika aku berkunjung hujannya lumayan deras, so aku kurang bahan foto. Jadi ada bonus foto-foto dari teman-temanku yang berkunjung tapi beda hari.

 Danau Dratan Bedugul, tidak jauh dari area Danau ini juga terdapat Danau Bayan dan Danau Tamblingan.


Ketika cuaca sedang cerah, ramai sekali yah. 




 Gua, Gunung, dan Danau. Tak jauh selepas melewati Pura.

Dipinggir danau diberi pembatas, bisa digunakan untuk duduk bersantai sambil berfoto.







Untukmu yang sedang menatap lekat kata, penulis yang baik adalah seorang pembaca. Terimakasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat. 


Related Posts:

Sejarah Guru Bimbingan dan Konseling

Selamat pagi, siang, atau malam. Semoga kita selalu selamat. :)

Kali ini saya ingin menulis tentang sejarah Bimbingan dan Konseling nih. Seperti yang kita tau bahwa setiap hal terbentuk dari sejarah. Memiliki alasan ketika dilahirkan menjadi bagian dari hidup. Tak terkecuali sebuah profesi, tentu hadir atas dasar pemenuhan akan kebutuhan. Ide besar menjadi seorang dokter lahir karna seseorang menginginkan kesehatan atau sebab tak ingin mengalami rasa sakit sebab penyakit, menjadi guru adalah alasan agar lahir generasi yang cerdas dari proses belajar yang terarah, pemusik hadir untuk mengisi kepenatan beban pikiran. Begitu juga profesi sebagai seorang konselor, yang lahir sebab adanya kebutuhan, permasalahan yang tidak hanya berkenaan masalah fisik tapi juga psikis.

Konselor, praktisi konseling, guru BK, atau psikolog sekolah merupakan profesi yang tentu lahir dari sebuah sejarah. Kali pertama muncul istilah bimbingan dipelopori oleh Frank Parson yang selanjutnya dikenal sebagai Father of Guidance pada abad ke-20 di Amerika, dengan didirikannya Vocational Bureau tahun 1908.

Frank menekankan bahwa setiap individu berhak mendapatkan pertolongan agar mampu memahami serta mengenali kelemahan dan kekuatan dirinya. Namun orang yang pertama kali menerapkan suatu program bimbingan sistematis di sekolah umum yaitu Jesse B. Davis, seorang konselor kelas pada Central High School di Detroit, Michigan. Serta, konselor vokasional dan pendiidkan anak pada kelas XI. Davis juga merupakan seorang kepala sekolah di Grand Rapids, Michigan pada 1907 dan posisinya menjadi langkah baginya untuk menerapkan bimbingan konseling di sekolah. Hingga dilanjutkan oleh Frank Gooodwin pada tahun 1911 yang mengorganisasikan sistem program bimbingan dan konseling secara luas pada Cincinnati, Ohio School. Serta, Eli Weaver tahun 1980 mengorganisasikan bimbingan dan konseling di Kota besar New York dan meraih penghargaan nasional pada Boys High School of Brooklyn atas jasanya tersebut. Inilah usaha awal sehingga bimbingan dan konseling ditetapkan menjadi profesi.

Frank Parson yang disebut sebagai Father of Guidance, memiliki peran penting dalam perkembangan bimbingan dan konseling. Parson cenderung fokus pada pengembangan vokasional, mengembangkan sumber daya dan pelayanan pertumbuhan dan pengembangan manusia. Parson juga memberikan perhatian pada pemuda-pemuda untuk membantu mereka dari masa belajar ke dunia kerja.

National Vocational Guidance Association (NVGA) tahun 1913 merupakan organisasi profesi awal perkembangan gerakan bimbingan. Pada tahun 1952, NVGA bergabung dengan American Personnel and Guidance Association (APGA).

Sedangkan, sejarah bimbingan dan konseling di Indonesia tentu tidak terlepas dari negara asalnya, Amerika. Pada tahun 60-an ketika banyaknya pakar pendidikan Indonesia yang telah menyelesaikan studinya kembali ke Indonesia, tidak dapat dipungkiri bahwa dasar-dasar pemikiran Amerika telah dibawa, terutama mengenai pandangan bahwa anak didik memiliki potensi untuk berkembang secara  optimal. Meski pada hakikatnya, kegiatan bimbingan telah berkaitan erat dalam kehidupan dan perjuangan bangsa.

Sejak tahun 1975 bimbingan dan konseling di Indonesia telah mulai diperuntukkan bagi sekolah-sekolah, hal ini bertujuan agar peserta didik dapat berkembang secara optimal. Nah, jadi itulah awal mula kenapa adanya guru bimbingan dan konseling, yang meskipun ranah keilmuannya sama dengan psikolog tapi tetap memiliki peran yang berbeda. 

Dari sejarahnya pula dapat kita simpulkan, guru BK bukan polisi sekolah seperti stigma masyarakat kebanyakan. :)

Untukmu yang sedang menatap lekat kata, penulis yang baik adalah seorang pembaca. Terimakasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat. 

Related Posts:

#KKN34

Minggu, 25 Agustus 2019

Apa makna pukul 8 pagi bagi kalian? bagi sebagian orang tentu saja pukul 9 atau 10, hal itu telah terbukti oleh sejarah Indonesia. Meski sebagian orang mematahkan hal tersebut, dengan mencoba menaklukan dirinya sendiri memaknai pukul 8 pagi bukan malam apalagi sore yang tidak ada pukul 8.

Sebab sejarah belum membuktikan bahwa telah banyak orang Indonesia yang memaknai jam 8 pagi berada dipagi hari maka acara hari inipun tidak dimulai tepat dijam tersebut. Bergeser sejam, dan itu sudah hal yang hebat menurutku, setidaknya kami tidak memulainya jam 8 malam. 

Acara hari ini dibuka oleh ketua BPD Desa Wonokarto yang telah lanjut usia namun masih semangat bermanfaat bagi umat. Ia membuka acara kami dengan lafadz bassmallah, sebelumnya ada Fachri yang memberikan laporan tentang kegiatan yang kami selenggarakan. Ia adalah koord kelompok yang merangkap sebagai ketua pelaksana kegiatan gebyar TPA hari ini. 

Aku sudah bicara sejak acara belum dimulai dan akan bicara hingga acara selesai, aku mengomando acara hari ini sebagai MC seorang diri hingga siang hari dilanjutkan oleh Pak Nimin, RT fenomenal yang kerap menjadi MC seperti dikegiatan 17 Agustus kami minggu lalu. 

Pada penutupan acara aku bersama Pak Nimin mengisi acara berdua, mengumumkan juara perlombaan pada hari ini. Kami sudah membagi job masing-masing, setiap perlombaan yang kami mulai serentak adalah mewarnai, adzan, dan tartil. Lomba menyanyi kami sengaja tempatkan pada siang hari untuk memeriahkan acara. Setiap perlombaan kami tentukan penanggung jawab dan jurinya. 

Meski acara sempat terhambat karna beberapa peserta yang mengikuti ternyata tidak memenuhi persyaratan seperti kriteria usia. Hingga ketika hendak mengumumkan juara lomba adzan kami mesti merekap ulang karna pemenangnya melebihi batas usia yang kami tentukan. Hanya butuh waktu 5 menit waktu merevisi, Fachri dan Ferdi di meja juri segera mengembalikan kertas yang benar. 

Tujuan acara kami tidak hanya bicara masalah kompetisi, mengaktualisasikan potensi anak-anak, melatih mereka agar berani memperkenalkan diri di hadapan banyak orang. Di lain sisi kami juga tidak ingin acara ini membuat anak-anak mengejar juara, hingga mereka menghalalkan segala cara. Tidak ingin membenarkan beberapa orang tua yang menutupi usia anaknya sendiri hanya karna sebuah perlombaan kecil di Desa.

Menurut Freud, masa kecil adalah ayah bagi kehidupan seorang anak. Jangan sampai kita mengacaukan kehidupan anak-anak kita kelak yang harusnya baik-baik saja karna masa kecilnya yang kacau.


Related Posts:

#KKN33

Sabtu, 24 Agustus 2019

H-1 Gebyar TPA

Banyak hal yang terasa berat dilakukan sendiri tapi ringan dilakukan bersama. 

Selama KKN jika boleh ku akui aku diberi banyak kepercayaan. Mulai pertama kali diminta membuat poster, design sertifikat, serta hal-hal lain yang sebenarnya aku tidak bisa tapi selalu ku iyakan. Say yes to every challenge. Aku menanamkan itu dalam diri. Sebuah moto dari sebuah komunitas kepercayaan diri yang pernah aku ikuti.

Meski permasalahan emosi masih menjadi hal yang belum bisa ku atasi dengan baik. Aku kerap mengeluh, merasa kesal karna melihat orang lain lebih santai daripada aku. Melihat mereka berjalan terlalu lambat, dan aku tak sabar ingin berlari cepat. Akukah yang salah, atau mereka? Aku tidak ingin ada yang disalahkan, sebab setiap orang tentu punya pembelaan atas apa yang ia lakukan.

Aku mempersiapkan banyak hal untuk acara ini, tapi aku tau merekapun ikut mempersiapkannya meski mungkin aku tak tau. Seperti Fachri yang diam-diam mempersiapkan pidato pembukaan acara karna tidak terbiasa bicara di depan khalayak ramai, aku cukup mengapresiasi keinginannya untuk memulai. Juga Gilang yang belajar berdoa meski pada kegiatan ia digantikan oleh seorang ustadz pemiliki TPA Babul Jannah. Juga teman-temanku yang lain dengan tanggung jawabnya.

Maaf terkadang berpikiran picik, menganggap hanya aku dan beberapa orang saja yang lebih lelah. Maaf, aku memang seegois itu, aku tak bisa memaksa semua orang bekerja sesuai kapasitas diriku. Terbiasa mengejar sesuatu dengan langkah seribu, aku dan mereka berbeda, aku tau itu. 

Ku harap semua orang bisa saling memahami ketika orang lain merasa berat sendiri, di lain sisi ku berharap harapanku tak terjadi karna jika ia maka hidup tak akan ada seni.

Related Posts:

#KKN32

Jum'at, 23 Agustus 2019.

Setiap pelaksanaan KKN tentu memiliki program kerja, dan disetiap program kerja ada sebuah program unggulan. Dan gebyar TPA menjadi program unggulan kami, sebuah perlombaan untuk seluruh peserta didik di TPA/TPQ Se-Desa Wonokarto. Acaranya dua hari lagi, sebenarnya kami sudah mempersiapkan seminggu ini, mulai menyusun bagian masing-masing dan mempersiapkan keperluan satu-persatu.

H-2 dari acara, kami memutuskan untuk mulai mendekor. Aku sebagai seksi acara merangkap dekorasi dan MC, memimpin menghias panggung yang akan dipakai lomba. Beberapa hiasan yang kami buat dengan tangan sendiri, dibuat bersama seraya bercengkrama dan menertawakan banyak hal. 

Ketika siang menjelang, dekorasi kami hentikan. Bukan karna selesai, tapi beberapa aktivitas lain mesti dilanjutkan. Kami masih mengajar, menari juga masih latihan. Sebenarnya latihannya sudah selesai, namun aku meminta anak-anak untuk dibimbing kembali agar pentas ketika acara gebyar yang akan datang, membicarakan kostum dan merapikan gerakan.

Tari sigeh pengunten tak kami tampilkan lagi, hanya sekali ketika 17 Agustus. Biayanya cukup mahal untuk menyewa kostum, sedang Tari Badindin sendiri kami bisa mengkreasikan kostumnya. Hiasan di kepalapun mereka buat sendiri bersama Vio dan Cahya selaku pengajar Tari Badindin. 

Aku sendiri tak suka menari, bukan tak suka hanya tak pernah mempelajarinya. Aku juga merasa kesulitan bermain alat musik meski telah mencoba. Entah, mungkin usahaku kurang keras. Aku tidak pernah mau mempelajari keterampilan yang berkenaan dengan penampilan di atas panggung, aku malu. Untuk bicara apapun, aku akan mengiyakan. Tapi jika dibarengi dengan musik seperti menyanyi dan menari, itu bukanlah panggungku, itu milik yang lain. Seperti Vio, Cahya, Ayu Roza pelatih tari sigeh, atau anak-anak tari yang mereka didik.

Setiap orang punya panggungnya masing-masing, dan setiap kita tidak berhak membatasi apapun yang ingin mereka lakukan dipanggung itu sendiri. 

Related Posts:

#KKN31


Kamis, 22 Agustus 2019.


Jika boleh ku akui dosen pembimbing kami atau biasa disebut DPL pada kegiatan pengabdian ini memang lebih baik dibanding DPL teman-temanku yang lain. Ia kerap mendatangi kami ke posko meski jarak tempuh yang jauh, untuk menunaikan tanggung jawabnya. Beberapa DPL lain tidak pernah menunjukkan muka, hanya saja mereka meminta bimbingannya untuk mengatakan kepada L2PM bahwa mereka kerap mengunjungi posko, itu artinya kalian tau apa? 

IYA TEPAT SEKALI, makan gadji boeta. 

DPL kami datang hari ini, kunjungannya yang ke-empat kalau tidak salah. Bersama suami tercintanya yang juga menjadi DPL dikelompok lain. Ku lihat mereka adalah sosok yang berbanding terbalik. DPLku adalah seorang ibu yang serius, sedang suaminya adalah berkepribadian humoris, menjadi pemecah suasana ketika ibu DPL kami ke posko. 

Pagi tadi sebelum ia datang, kami mengerjakan baksos. Awalnya tidak ada kegiatan, namun mengetahui beliau akan datang tidak mungkin kami berdiam diri di posko dan tidur. Oke baiklah, hari ini memang penuh pencitraan.

Meski sebenarnya pencitraan di hadapan DPL kami tidaklah terlalu berpengaruh, beliau adalah psikolog. Mungkin memahami benar gerak-gerik kami ketika mengungkapkan suatu hal, meski ia bukanlah Tuhan yang tau segalanya. 

Bicara tentang psikolog, akupun dulu menginginkan jurusan ini. Maka ku banting stir tak terlalu jauh, masuk dalam prodi konseling yang mempelajari psikologi juga. Meski aku tau kenapa Tuhan membuatku tak masuk psikologi setelah ku jalani hari-hari sebagai mahasiswa konseling, alasannya sederhana. Tuhan tau segalanya.

Related Posts:

#KKN30

Rabu, 21 Agustus 2019

Dzawin Nur, seorang komika yang menjuarai Suci 4 pada urutan ketiga menemaniku menulis malam ini. Aktivitasnya diyoutube tentang pendakian, al komenu berupa talk show serta aktivitasnya yang tidak sedikit mengarah pada dakwah melalui humornya. 
Dibanding komika yang lain, aku memang lebih menyukainya. Lulusan pondok pesantren yang idealis, menyukai bertualang, dan kerap terlibat dalam aktivitas pendidikan di pedalaman. 

Aku menyukainya, mungkin karna dunia yang sedang ia jalani sekarang adalah yang aku impikan. Pendakian, education volunteer, dan bisa membuat orang lain tertawa riang. 

Aku suka membuat orang tertawa, maka ku mulai melalui diriku untuk tidak terlalu banyak menunjukkan kesedihanku di muka umum. Ya, memang benar bahwa banyak hal yang bisa dibagikan tapi tidak untuk rasa sedih. 

Seperti hari ini, jika dibilang sedih tentu saja ia. Bagaimana tidak, gigi kanan bawahku copot begitu saja tanpa memberikan kabar terlebih dahulu, ketika aku memakan soto lontong bersama ibu-ibu dipengajian, aku sedih karna ia copot tak mengenal kondisiku. 

Aku sudah 21 tahun, takkan tumbuh sudah gigiku yang copot hari ini. Meski aku menyadari satu hal bahwa ini  mungkin karna pola hidupku yang tak baik, mengonsumsi permen adalah hobiku yang belum juga hilang. Sebenarnya alasanku membawa permen ke manapun aku pergi tidak lain hanya karna sebagai pengalihan, aku bukan orang yang bisa diam, maka ketika ku sendirian ku sibukkan diri dengan permen-permen yang ku bawa. Dan sadar tidak sadar itu menjadi kebiasaan.

Aku juga kerap minum kopi, bukan untuk gaya-gayaan seolah menjadi anak indie dadakan. Keluargaku memang pecandu kopi, bahkan untuk perempuan-perempuan keluarga kami terbiasa minum kopi seraya bersenda gurau. Tapi belum lama ini aku mencoba berhenti, karna gigiku aku rasa semakin tidak sehat, ingin segera ku rawat entah dengan memakai kawat atau sekedar mengonsumsi makanan yang sehat. 


Related Posts:

#KKN29

Selasa, 20 Agustus 2019

H-1 genap 30 hari KKN, dan ini kali pertama aku ingin menceritakan hal baru yang tidak ku tulis ditulisan sebelumnya, mungkin aku pernah menyinggung sedikit, aku lupa. 

Malam ini kami mendapat undangan dari Masjid Al-Fattah, anak-anak terbaik Desa Wonokarto salah satunya berasal dari Masjid sekaligus memiliki TPA ini dengan nama yang sama TPA Al-Fattah. Perwakilan lomba yang sempat diadakan oleh KUA Sekampungpun dua orang kami kirimkan dari TPA ini. Membaca Al-Qur'an lebih baik dibanding yang lain membuat Alin dan Royyan berhak mewakili Desa. 

Undangan malam ini berupa pertunjukkan pentas seni, mulai dari sambung ayat hingga penampilan bela diri dari anak-anak yang lucu. Masih terkesan malu-malu, dan berulang kali melirik kami selaku tamu. 

Al-fattah sendiri merupakan kepunyaan LDII, bagi yang belum pernah mendengarnya, LDII merupakan salah satu organisasi massa islam yang banyak dianut oleh masyarakat Indonesia. Biasanya orang-orang LDII tidak mengizinkan orang diluar organisasi mereka untuk menginjak masjid dan rumah mereka, karna yang saya lihat mereka sangat mengutamakan kesucian. Meski terkadang beberapa di antara mereka terkesan berlebihan hingga membuat orang lain berpikir yang tidak-tidak. Seperti temanku sendiri yang pernah membantu mengangkat jemuran tetangganya yang LDII karna hendak hujan, tidak lama sipemiliknya mencuci lagi. Ya sebegitunya kadang, dan itulah yang kadang juga membuat orang diluar organisasi mereka kesal.

Berbeda dengan Al-fattah ini, mereka tidak seperti LDII kebanyakan atau entahlah jujur saja aku juga tidak terlalu paham tentang organisasi mereka. Mereka mengizinkan kami untuk bergabung di Masjid mereka, tidak menjaga jarak, dan bersosialisasi seperti masyarakat pada umumnya. Meski jelas saja beberapa hal mereka batasi, ada beberapa pertemuan sebelum kami datang yang tidak boleh kami ikuti. 

Jujur saja aku bukan tipe orang yang suka berkomentar akan suatu hal, tapi aku ingin belajar beropini. Terkadang sikap membatasi yang berlebihan suatu kelompoklah yang membuat mereka sendiri terasingkan. Seperti anak-anak lembaga dakwah di kampus yang sebagian besar berkerudung panjang, terlalu menutup diri bergaul untuk perempuan yang mengenakan kerudung biasa saja. 

Baiklah tidak semua, tapi setidaknya banyak. Aku memang sempat bergabung dan itu yang aku lihat. Barangkali yang membuat mereka jauh bukan karna orang-orang yang tidak berpakaian syar'i mengkotakan mereka, tapi mereka sendiri yang menganggap bahwa orang lain tidak sejalan dengan mereka. 

Itu hanya contoh, aku juga tidak suka membanding-bandingkan satu organisasi dengan organisasi lainnya. Setiap orang LDII ada yang baik dan buruk, orang Muhammadiyah juga, dan NU juga begitu. Jika kamu memilih suatu organisasi hakmu, tapi menyalahkan tanpa pernah masuk di dalamnya bukanlah bagianmu.

Masuklah dulu dalam organisasi dan kamu mengetahui apakah yang kamu pikir tentang organisasi itu benar atau tidaknya. 

Related Posts:

#KKN28

Senin, 19 Agustus 2019

Selepas agenda besar yang kami lakukan, kami harus kembali pada aktivitas rutin kami. Apalagi kalau bukan mengajar, TK, PAUD, SD, dipagi hari. Menari dan bimbingan belajar disiang hari, dan mengajar dua TPA di sore harinya. 

Kami membagi anggota untuk datang ke setiap sekolah, harus ada jadwal yang mengikat agar semua anggota merasa bertanggung jawab. Aku mendapat jadwal di TK ABA, bimbel, dan TPA Al-Aulad. Untuk TK ABA sendiri, hanya ada dua guru yang merupakan lulusan S1, sisanya lulusan SMA yang belajar dengan sendirinya. 

Suatu ketika aku berbicara mengenai hal ini dengan para guru di TK ABA, yang mengatakan bahwa gaji mereka tak seberapa. Tak lebih dari Rp. 300.000 dan itupun tidak dibayar perbulannya. Beberapa guru mengatakan bahwa tujuan mereka mengajar bukanlah karna uang, tapi karna berharap semua yang mereka lakukan menjadi amal bagi mereka kelak. Tak akan ada yang mau menggantikan posisi mereka, tak ada yang mau tau susahnya mereka mendidik, tapi sebagian besar orang tua menyerahkan tanggung jawabnya, tak menyadari bahwa merekalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. 

Jika bicara masalah pendidikan di Indonesia, kisah peliknya tentu saja perihal gaji guru honorer yang tak sepadan. Kenaikan menuju PNS yang memerlukan waktu berpuluh-puluh tahun, meski begitu tak pernah menyurutkan minat setiap tahunnya pendaftaran fakultas pendidikan yang kian melonjak. Entah karna salah jurusan atau apa, tapi bagiku harusnya itu menjadi kesadaran tersendiri melihat begitu sulitnya menjadi seorang pengajar. 

Ya, garis bawahi kata sulit menjadi pengajar, mendidik anak-anak yang tidak dibekali apapun oleh orang tuanya tapi dituntut untuk jadi yang terbaik. Meski begitu banyak guru yang tidak melihat itu semua sebagai masalah, mereka mengatakannya bahwa mereka ikhlas, seperti guru-guru di TK ABA. 

Padahal untukku sendiri, alasan tak ingin menjadi guru adalah materi. Iya, ku akui itulah alasanku. Bagaimana bisa ku menghidupi orang tuaku dengan uang RP. 300.000 selama satu bulan sedangkan untuk biaya gojek saja habis. Aku ingin mengabdi untuk negara, tapi bagaimana bisa aku mengorbankan kebahagiaan ibuku. Baiklah, katanya bahagia memang tak selalu bicara masalah uang. Tapi kenyataannya tidak demikian. Bagaimana aku bisa membuatnya pergi ke Makkah ketika untuk makan susah. 

Aku tak ingin jadi guru, memang karna itu. Tapi mungkin aku bisa membuat sekolahku sendiri ketika sukses nanti, dan menggaji para guru dengan layak agar mereka juga membuat orang tuanya pergi ke Makkah bersama orang tuaku. 

Related Posts:

#KKN27

Minggu, 18 Agustus 2019

Sisa-sisa perayaan HUT RI masih membekas dibenak kami masing-masing, pegal-pegal masih terasa dipundak, dan gelak tawa warga masih terbayang di pelupuk mata. Tidak hanya itu, sampah-sampah masih berserakkan di Lapangan. 

Itu artinya pagi kami adalah bakti sosial. Mengembalikan kondisi Lapangan seperti semula bersama seluruh panitia. Kami meminjamnya dengan resmi melalui surat, kami harus mengembalikannya dengan benar, tak ingin momen 17-an membuat salah satu pihak merasa dirugikan. 

Sebelum berangkat, Pak Arief yang mengomando kami mengarahkan untuk membawa air panas dan kopi. Aku dan Sherly tidak ikut berangkat bersama yang lain, memasak air panas yang bahkan hingga mereka selesai bakti sosial Lapangan masih belum matang. 

Api dari tabung gas yang hendak habis menghambat segalanya, padahal kopi dan gelas sudah kami sediakan dengan rapi gagal dibawa ke Lapangan karna mereka lebih dulu pulang. 

Tak ada yang bisa disalahkan, aku juga tidak mau karna yang paling berhak disalahkan adalah tabung gas dan baiklah aku baru saja menyalahkannya. Tapi kenyataaannya memang begitu, kita kerap menjadikan orang lain sebagai penjahat atas kegagalan yang kita lakukan. Kita kerap merasa menjadi korban atas kesalahan kita sendiri, dalam banyak kasus. 

Gas tabung yang hanya bisa diam, mungkin juga tak ingin disalahkan. Orang yang hanya diam saja ketika dihakimi, berlaku tidak perduli, mungkin ia begitu tersiksa tapi hanya menyimpannya dalam hati. 

Mungkin, yang layak disalahkan adalah kesalahan itu sendiri agar tidak lagi diulangi.

Related Posts:

#KKN26


SDM UNGGUL 
INDONESIA MAJU

Dirgahayu Republik Indonesia ke-74

Tidak bisa dipungkiri, setidak-tidak cintanya seseorang terhadap Indonesia, 17 Agustus selalu jadi momen penting yang ditunggu-tunggu. Makan kerupuk yang digantung, loncat-loncat di atas karung tentu jadi perlombaan yang sangat ingin diikuti bukan? 

Perlombaan yang hanya bisa diikuti setahun sekali, rasanya sangat jika mesti terlewatkan. Seperti di Lapangan SDN 1 Wonokarto hari ini. Kami menggelar sebuah perayaan sederhana, melibatkan 5 Dusun dari Desa ini. 

Perlombaan yang kami sediakan untuk semua usia. Mulai dari bapak-bapak dengan panjat pinang, tarik tambang, dan bola daster. Ibu-ibu dengan perlombaan estafet sarung, membuat ketupat, dan joged balon. Serta anak-anak dengan balap karung, ambil koin, dan makan kerupuk.

Semua biaya penyelenggaraan ini ditanggung oleh pemuda Desa yang tergabung dalam grup keroncong. Sebuah grup yang khas dengan lagu-lagu yang berasal dari portugis, diperkenalkan oleh pelaut dan budak kapal niaga sejak abad ke-16. Dari daratan India, Malaka adalah tempat pertama kali musik ini masuk dan dimainkan oleh para budak di Maluku hingga menyebar ke seluuh pelosok negeri. Keroncong yang sudah sangat jarang menurut para anggotanya membuat grup ini menjadi satu-satunya di daerah ini. 

Menurut Mas Yogi, salah satu anggota yang memainkan ukulele meski memiliki suara yang menurut Pak Arief selaku tetua grup musik keroncong ini lebih bagus dari vokalisnya. Ia mengatakan bahwa musik keroncong itu musik yang paling enak didengarkan, namun memainkannya tidak mudah. Seorang pemain harus benar-benar memahami alat yang ia pegang, seperti halnya ia. Ia memainkan ukulele meski lebih cocok menjadi vokalis karna tidak ada pemain lain yang bisa memainkannya. 

Acara hari ini berjalan seindah alunan musik keroncong itu sendiri. Yang menarik perhatianku juga ada satu orang anak kecil bernama Putra, dengan semangat mengikuti semua perlombaan dan lucunya tak pernah memperhatikan ketika namanya dipanggil hingga berulang kali kembali kepadaku menanyakan padaku kapan gilirannya. Namun cerita Putra hari ini berakhir bahagia, ia memenangkan juara ketiga lomba mengambil koin di semangka. 

Hari ini begitu terik, mukaku langsung menjadi dua warna. Belang, karna kerudung yang melekat tanpa niqab. Hari ini MC nya adalah Pak Nimin, MC paling fenomenal Se-Wonokarto. Aku sesekali membantunya menjelaskan perlombaan. Kami memulai perayaan HUT RI dengan senam bersama, lalu melanjutkannya dengan perlombaan ibu-ibu. 

Beberapa anak kecil tampak berlarian dan mengerumungi pedagang, menanti waktu giliran berlomba. Ibu-ibunya juga ada yang berlarian, menahan anaknya agar tidak jajan terus-terusan. Akupun ikut berlarian, memastikan seluruh perlombaan berjalan. 



HUT RI Ke-74, sepertinya kerupuk yang menggantung pada tali perlombaan terlihat enak.

Related Posts:

#KKN25

Jumat, 16 Agustus 2019

Orang miskin tetap miskin, orang kaya makin kaya. 
Ungkapan tersebut selaras dengan yang kerja ya kerja, yang santai ya santai saja. 

Meski aku tidak ingin bilang hanya aku dan beberapa orang lainnya saja yang bekerja paling berat, tentu saja tidak. Semua orang punya porsinya, tapi kadang porsinya tidak rata. h3h3

Hari-hari yang padat sudah biasa kami jalani, maksudku aku. Karna dalam tulisan ini, aku adalah orang pertama, aku tidak tau apa yang mereka rasa dan aku tak ingin mengira-ngira, jadi maka ku jelaskan berdasarkan apa yang ku rasa saja. 

Pagi ini aku dan Mbak Ayu Roza, satu-satunya anggota KKN kami yang sudah menikah dan sedang mengandung anak yang kelak akan lahir dengan begitu lucu mungkin seperti aku. Aku dan Mbak Ayu pergi ke pasar, meski sedang hamil 5 bulan, Mbak Ayu memang tak pernah membatasi diri. Ia bahkan lebih aktif dari beberapa orang di antara kami yang belum mengandung anak sehari atau dua hari. 

Tujuan kami adalah menggiling daging untuk membuat bakso beserta membeli bahan-bahan yang lain seperti bihun. Kami berkeliling mencari penggilingan daging yang ternyata ada di ujung pasar dari tempat kami parkir, Hari-hari lebaran, menggiling daging juga menjadi lebih mahal karna ramai, sisa-sisa daging kurban yang entah mau diapakan sebagian besar dibuat bakso oleh orang-orang, termasuk kami karna kami juga orang. 

Selepas menggiling, aku telah berjanji pada anggota kami untuk mendokumentasikan karnaval TK ABA. Tidak enak rasanya tidak mengiring mereka, dari jauh ku lihat mereka bersorak-sorak riang, ada Fano, Gilang, dan anak-anak TK ABA yang terhalang ibu-ibunya yang ikut berdandan begitu meriah. 

Aku saling melempar senyum dengan para guru, ada Bu Wiwi di sana. Rumahnya di sebelah posko kami, sangat perhatian dan sering memantau kami dari jendela kamarnya. Bahkan suatu malam ketika mati lampu, ia mengirimkan lilin padahal sudah jam 1 malam karna takut kami tak bisa tidur padahal saat itu kami tidak ada yang bangun karna lampu mati. 

Seperti sebuah perjuangan yang panjang tidak semuanya berbuah hasil yang diinginkan. Foto yang ku ambil begitu banyak, tapi yang bagus hanya beberapa saja. 

Aku dan Mbak Ayu pulang dengan harapan bisa membuat bakso dengan bentuk yang ku inginkan, perjalanan yang tidak jauh namun terasa lama karna jalan yang lumayan tidak bagus. Perutku terasa dikocok rasanya, dan baru saja sampai aku mesti kembali ke Kecamatan tempat karnaval tadi dilaksanakan untuk mengurus beberapa keperluan HUT RI esok hari.

Hah baiklah, yang miskin tetaplah miskin, yang kaya makin kaya. 

Related Posts:

#KKN24


Kamis, 15 Agustus 2019


Bu Kades, memang paling enak mengghibahmelalui lisan atau tulisan. Rasanya sama saja. Tapi memang pembahasanku hari ini masih tentang dia. Apalagi kalau tidak dibukakan pintu ketika bertamu, tidak disuruh masuk, apalagi disuguhkan sesuatu. 

Pagi buta, selepas semalam dinasehati Pak Arif untuk tetap datang ke rumahnya meminta TTD Pak Kades, dan bertemu Ibu Lurah menjelaskan kenapa ia memaki-maki kami kemarin. Kami diminta merendah, tapi bicara keras ketika ia sudah bicara yang tidak-tidak. Itulah pesan Pak Arif, yang lebih layak disebut induk semang bagi kami selama di sini. Orang yang berperan dalam mendanai acara 17 Agustus bersama rekan-rekannya, serta menjadi orang tua kami dalam masa pengabdian ini. 

Kami tak menemukan Pak Kades, hanya ada istrinya yang hanya mengatakan akan ke Pasar, membiarkan kami di teras rumahnya. Bahkan hingga ia pulang kembali kami masih di sana, bukan untuk menunggunya dari Pasar, tapi menunggu Pak Kades yang ternyata sedang berada di Kandang Sapi. Membersihkan kotoran dengan sapu lidi meminta kami kembali ke rumahnya yang tak ada siapa-siapa. 

H-1 17 Agustus, acara puncak yang telah kami susun beberapa hari ini bersama pemuda Desa. Mari kita berpindah tema dan lupakan Bu Lurah. Kami membungkus kado yang akan menjadi hadiah untuk perlombaan yang diadakan esok, kemarin Mbak Lita dan 3 orang lainnya membeli barang-barang ini. Harganya tidak mahal, tapi bagi warga Desa yang terpenting adalah besar tidaknya barang. 

Hari ini juga wajahku menjadi gosong karna dua kali bolak-balik Desa lain menemui Pak Amir penjual kerupuk. Kerupuk yang akan kami gunakan untuk perlombaan tentunya ternyata tak bisa ditemui di sana, bahkan Pak Amirnya juga tak ada. Beliau sedang rewang ke rumah tetangganya yang sedang punya hajat. Rewang, adalah bantu-bantu. Pun aku baru tau di sini. h3h3

Maka Ferdiana yang sedang pulang kampung lah yang kami tugaskan mencari kerupuk sembari kembali ke Posko. Di sini tak ada, sebuah Desa yang bahkan kerupuk saja sulit ditemui. Banyak kegiatan-kegiatan kecil yang kami lakukan, selain mengisi kesibukan juga melupakan Bu Lurah yang tadi pagi masih berbicara dengan nada tinggi. 

Baiklah Bu Lurah lagi. Ini hari ke-24 semoga Bu Lurah suatu hari bisa membedakan antara memberi info dan memaki. :)

Related Posts:

#KKN23


Rabu, 14 Agustus 2019

Sudah beberapa kali saya menemuinya, sudah beberapa kali juga kami tidak mendapatkan hasil apa-apa. Dan ini kali pertama saya dimaki-maki orang selepas 20 hari lebih tinggal di sini. Siapa orangnya? tentu saja orang yang saya sulit temui. Hmm, sebenarnya bukan dia yang hendak saya temui, tapi suaminya. Tapi, perempuan setengah baya ini selalu ikut campur dalam pekerjaan suaminya. Kalian ingat cerita tentang miskomunikasi suami-istri yang pernah ku tulis? Iya, aku sedang membicarakan mereka. 

Pagi ini selepas mendatangi rumahnya yang tak ingin kami datangi untuk meminta izin perayaan 17 agustus, tak ada senyum yang bisa kami sapa hingga membuat kami pulang kembali ke Posko tanpa menghasilkan apapun, padahal yang kami minta bukanlah hal berat seperti UANG, kami hanya minta tanda tangan persetujuan tuk sekedar menghargai kades Desa ini, serta berupa undangan agar beliau membuka acaranya. Dana lebih dari 5jt disponsori oleh musik keroncong di sini, beliau selalu kades tidak sama sekali. 

Tak mengeluarkan biaya, tak memberi kami waktu untuk bertemu, dan naasnya selepas pulang dari rumahnya, ibu kades istri dari bapak kades mendatangi kami di Posko. Seperti yang sudah ku bilang, ia ingin memaki-maki kami, dan sialnya yang di depan wajahnya adalah aku. Maka jadilah aku dimaki-maki tanpa diberi waktu bicara, selepas dia selesai dengan kalimatnya, ku hantam ia dengan sebuah kalimat yang membuatnya semakin naik darah, pergi dari posko kami sembari mengatakan akan membuat perayaan 17 agustus pada tgl 18 seorang diri.

Kalian tau, sebenarnya masalahnya sederhana. Bu kades yang datang itu tidak tau bahwa kami sudah menyodorkan surat izin beserta proposal kegiatan kepada Pak Kades. Jelasnya ia tidak setuju kegiatan diadakan pada hari H 17 agustus, dikarnakan tgl tersebut ia upacara. Kemarahannya beralasan sebab ia tidak bisa datang, dan ia ingin dari anak-anak KKN mengiringnya ke Kecamatan, sederhana bukan? masih bisa dikomunikasikan. Tapi sayangnya ia tidak cakap dalam berargumentasi, tak mampu membedakan memberi info, saran, dan memaki. 

Tetangga di sebelah kanan Posko kamipun, Bu Wiwi. Mengintip di balik kamarnya, lalu siang harinya bertanya kenapa Ibu Lurah marah-marah di Posko kami. Ah, lihatlah bahkan orang lain melihatnya demikian, sedang Ibu Lurah selepas itu mengatakan hanya memberi info ketika banyak pihak yang terlibat membela kami. 2019, apakah cara memberi info orang zaman sekarang seperti itu?


Baiklah abaikan Bu Lurah yang membuatku kesal, agenda hari ini adalah menyebar pamflet 17 agustus. Aku yang mendesainnya, untuk kali pertama tentunya. Tidak seperti editor kebanyakan, menggunakan aplikasi yang terkenal. Aku hanya menggunakan photogrid untuk mengedit, nanti ku jelaskan. Untuk gambar, bisa aku pamerkan. 

5 Dusun di Desa ini ku kelilingi bersama Pak RT yang berboncengan dengan Sherly, serta dengan Cahya yang memboncengku. Menemui satu-persatu warga yang kami temui, lalu basa-basi memberi tau tulisan yang seharusnya bisa mereka baca tapi masih bertanya, KERTASSS APANICCCCCCC.

Menyebar pamflet melelahkan, ah tidak. Lebih melelahkan dimaki-maki tanpa alasan, apalagi belum sempat melupakan raut wajah Bu Kades, anak-anak kesayangannya yang mengaku Youtuber dari entah Dusun berapa menyambangi kami. Tanpa alasan jelas, padahal sudah aku ingatkan melalui pembicaraan ditelpon yang kami lakukan bahwa di Posko tak ada orang, dan ia mengiyakan kalimatku,

Tapi bodohnya mereka tetap datang ke Posko, lebih dari 15 orang. Untuk apa? entah tidak tau, hanya untuk memberi tau bahwa mereka Youtuber, itu saja. Meminta kami menjadi figuran, seperti hormat pada bendera, atau mengeruk tanah, menjadi guntingan kunci, atau kertas minyak untuk dilipat jadi bendera. 
Hoy, hari ke-23. Aku tidak tau mesti berkata apa. 

Related Posts:

#KKN22

Selasa, 13 Agustus 2019

Rutinitas seperti mengajar tidak terasa seperti program kerja, karna mengajar adalah program kerja yang kami kerjakan setiap hari. Tidak seperti sosialisasi parenting skill, gebyar TPA, serta program lainnya. Mengajar adalah kegiatan rutin yang hanya mengenal libur seminggu maksimal dua hari. 

Dari lelahnnya mengajar, menghadapi anak-anak kecil yang menggemaskan, aku ingin mengenalkan satu anak yang menurutku paling lucu. Bukan berarti yang lain tidak lucu, hanya saja yang ini benar-benar lucu. 

Namanya Gilang, bersekolah di TK ABA, selalu maju ketika diminta. Gilang selalu bicara dengan medok khas orang Djawa. Ia kerap menyandarkan badannya yang ndut ketika aku duduk. Gilang tidak ikut bimbel karna rumahnya dengan posko lumayan jauh, hingga hanya bisa ku temui ia ketika mengajar di TK ABA atau TPA Al-Aulad. 

Gilang sangat berprestasi, itu yang aku sukai. Ia selalu semangat mengerjakan apapun, hal ini terbukti beberapa kali ia memenangkan lomba dan mengikutinya padahal hanya satu bulan selama aku berada di sana. Seperti lomba kolase, balap karung, dan menjadi salah satu peserta teraktif ketika acara gebyar. Gilang juga ikut lomba mewarnai, meski ia tidak memenangkannya. 

Dalam karnaval TK ABA Se-kecamatanpun ia tampil lucu dengan baju padangnya, melihat Gilang membuatku semakin ingin cepat menikah dan memiliki anak. Meski aku hanya melihat mudahnya dalam mendidik seorang anak, tidak mengingat bagaimana sulitnya mengabaikan hal lain demi tumbuh kembang anak itu sendiri. 

Entah, bicara perihal memiliki anak aku saja belum tau akan menikah pada usia berapa. Mungkin selepas S1 ini, atau mungkin selepas S2 nanti, aku hanya menunggu orang yang tepat datang. Tak ingin menjadi hubungan tanpa tujuan. 

Abaikan soal satu paragraf tadi. Aku memang suka sekali anak kecil, apalagi anak kecil seperti Gilang. Ini bukan sekedar pengakuan kosong ya h3h3 tapi ini berdasarkan perkataan anggota KKN yang lain. Mereka bilang, aku cocok menjadi pengajar karna selalu membuat bimbel terasa menyenangkan. Bersemangat ketika bertemu anak-anak, dan selalu totalitas ketika mengajar mereka. 


Aku rasa demikian, aku sangat memang suka mengajar, meski aku tidak ingin jadi guru.

Related Posts:

#KKN21


12 agustus 2019

Apalagi penyakit yang dialami penulis kecuali write blok. Malas memulai, entah apa yang mesti yang dituang dalam layar monitor. Itulah yang ku alami seminggu ini, hingga lebih dari 7 tulisan menumpuk begitu saja. Di samping kesibukan yang padat karna agenda KKN yang tak sedikit, dan beberapa orang yang tidak bisa diajak berkompromi hingga saling mengandalkan beberapa orang yang mau tak mau mengeluarkan lebih banyak tenaga. 

KKN yang ku jalani terasa kian padat, seperti halnya hari ini. Agenda kami padat, tinggal tersisa dua orang di rumah, Vio dan Cahya yang pada akhirnya dijemput oleh Pak Nimin untuk ikut takziyah. Aku dan Fachri pergi ke Kemenag Lampung Timur, mengajukan proposal pengadaan buku-buku yang belum ada konfirmasi sampai sekarang. 

Perjalanan yang hanya memakan waktu 1 jam, padahal kemarin-kemarin sempat ada yang mengatakan hingga 3 jam. Tidak sesuai ekspektasiku, kompleks pemda yang ramai, pusat kota. Realitanya adalah kebun singkong dan jenis tumbuhan ilalang lainnya. Bahkan di tengah perjalanan kami menjumpai sebuah danau cantik. Aku sempat merekamnya. 

Setelah mendekati Kemenag aku dan Fachri berhenti beberapa meter, mengingat file kami ada yang salah ketik. Dan di tempat ini tidak ada apapun termasuk tempat print. Maka kami putuskan untuk kembali lagi, menyusuri tiap lekuk sudut daerah Sukadana yang baru kali pertama ku singgahi. Hingga kian jauh jarak kami menjauh, tak ada satupun tempat print, warnet atau apalah yang bisa membantu kami. 

Ku putuskan untuk mengajaknya berhenti sejenak di pinggir jalan yang lengang. Kami duduk di trotoar, Alan sahabatku yang KKN  juga di kecamatan yang sama menghubungiku, mengatakan bahwa kami harus berhati-hati karna daerah yang kami sambangi rawan. Iya, rawan begal h3h3.

Tapi Fachri mengabaikannya, Alan bilang kami jangan bertanya pada siapapun. Fachri bilang kalau kami tidak bertanya, bagaimana pula kami sampai, sebab MAP kadang menipu. 

Setelah berbincang-bincang dengan Alan sejenak, kami memutuskan memeriksa kembali proposal kami. Dan hasilnyaa, criiiing... tampak tak ada kesalahan fatal di sana, dan Fachri menatapku marah. Mengatakan ejekannya seperti biasa. 

"Lan, kawan lu ini emang kosong" ia marah tapi tertawa-tawa, entahlah mungkin ia kesal tapi tak bisa marah karna aku wanita. 

Setelah menyadari proposal kami baik-baik saja, kami memutuskan kembali. Masuk ke dalam ruang Kemenag Lamtim, bertemu 3 ibu-ibu yang aku tidak tau bagiannya apa saja. Kesalnya, saat masuk ke dalam ruang aku tak melihat Fachri di belakang, dia berhenti tepat di depan ruangan dan membiarkanku masuk sendiri. Padahal selama perjalanan ia mengatakan akan berbicara tentang pengajuan proposal ini yang paling depan, ah kenyataannya. Aku tidak tau kata ejek yang tepat untuknya, biarkan saja dia memang menyebalkan. 

Selepas bicara dengan salah satu dari 3 ibu yang ku temui, aku keluar melihat Fachri yang nyengir bersandar di tembok, tidak menyadari kesalahannya. Tapi aku memang tak bisa marah, meski sudah niat, pasti hanya sebentar seperti yang sudah-sudah. Tidak hanya padanya, tapi kepada sebagian besar orang. Keseharianku berisik, aneh terasa ketika mendiamkan seseorang. 

Kami pulang dari Kemenag dengan arahan dari MAP yang membawa kami memutari Lampung Timur, hingga tak tau menau tiba di Kec. Sekampung. Entah sebuah kesalahan karna kejauhan, atau karna kebetulan di tempat tersebut ada lomba anak-anak TPA yang telah kami latih beberapa waktu terakhir. 

Aku mengajak Fachri melihat mereka berlomba, ada 4 jagoan yang ku kirim untuk mengikuti lomba tahfidz putra/i, tartil, dan pildacil. Mereka tampak hebat bagiku, usia mereka aku masih bermain congklak, meski mereka pulang tanpa piala dan hadiah. Akan ada kesempatan esok hari, ku katakan ke mereka sebelum berangkat pun bahwa kami tak mengharapkan mereka juara, kami menghargai usaha mereka, yang telah setiap hari datang ke posko untuk latihan bersama. 

Sebenarnya selepas dari Kemenag aku mengajak Fachri untuk mampir ke Posko Alan dan sudah mengatakan padanya, tapi karna yang kami temui adalah kecamtan terlebih dahulu maka kami membatalkan rencana kami. Hingga kembali sore hari, ikut menyelesaikan perlombaan, tapi Fachri tidak. Ia pulang lebih dulu, mengantar Indri yang sedang tidak enak badan.

Hampir 20 hari kami di sini, hari yang melelahkan, malam juga. Masih ada proposal dan poster yang mesti dikerjakan. Ini semua melelahkan, tapi di antara yang lelah masih ada yang berleha-leha.


Dalam sebuah kerja sama, pasti ada orang yang paling berat menanggung beban. Dan ada orang bangsat yang tidak mau terbebani. -Admin Yami 

Related Posts:

#KKN20


Minggu, 11 Agustus 2019.

Eid Al-Adha Mubarak 1440 H 

Bagaimana lebaran idul adhanya? tentu menyenangkan bukan berkumpul dengan keluarga besar? Kesempatan yang sangat langka, makan ketupat, saling melempar tawa, tolong jangan tambahkan ghibah pada susunan acara pertemuan hari ini, untuk kali ini saja. Karna berkumpul bersama kerabat saja itu sudah menyenangkankan? setidaknya aku merasakan itu, terbukti selepas lebaran tanpa satupun keluarga di sini. Atau anggap sajalah KKN dan warga Desa di sini adalah keluarga baruku. Meski tetap saja tidak semenyenangkan di rumah. :)

Selepas sholat ied kami membagi dua tim, menyambangi masjid NU dan Muhammadiyah untuk membantu proses kurban. Ada 5 sapi yang dikurbankan di Masjid yang aku datangi, kami membantu kegiatan ibu-ibu, selepas itu langsung turun berbaur dengan bapak-bapak mengemasi daging.


Hey, aku gak suka ya kalian gak bantuin.

Ku pikir membantu kurban tidak melelahkan, ternyata lebih dari itu. Bonusnya adalah bau amis pada badanku, pagi hari hingga dzuhur menjelang semuanya baru selesai. Berulang kali aku berlalu lalang naik motor mengambil barang-barang yang tertinggal.

Hey, aku gak suka ya kalian gak sopan sama warga.

Di sela membantu aku juga mengobrol hal-hal tidak menentu dengan ibu-ibu, sekedar candaan yang tidak perlu untuk sekedar saling mengenal. Menghargai mereka bicara apapun sambil memakan tape ketan, ah favorit sekali. Apalagi buatan nenekku setiap lebaran.


Hey, ini hari lebaran. Kami punya banyak daging, yang malamnya membuat kami mengadakan acara dadakan bakar-bakar. :)


Related Posts: