#KKN21


12 agustus 2019

Apalagi penyakit yang dialami penulis kecuali write blok. Malas memulai, entah apa yang mesti yang dituang dalam layar monitor. Itulah yang ku alami seminggu ini, hingga lebih dari 7 tulisan menumpuk begitu saja. Di samping kesibukan yang padat karna agenda KKN yang tak sedikit, dan beberapa orang yang tidak bisa diajak berkompromi hingga saling mengandalkan beberapa orang yang mau tak mau mengeluarkan lebih banyak tenaga. 

KKN yang ku jalani terasa kian padat, seperti halnya hari ini. Agenda kami padat, tinggal tersisa dua orang di rumah, Vio dan Cahya yang pada akhirnya dijemput oleh Pak Nimin untuk ikut takziyah. Aku dan Fachri pergi ke Kemenag Lampung Timur, mengajukan proposal pengadaan buku-buku yang belum ada konfirmasi sampai sekarang. 

Perjalanan yang hanya memakan waktu 1 jam, padahal kemarin-kemarin sempat ada yang mengatakan hingga 3 jam. Tidak sesuai ekspektasiku, kompleks pemda yang ramai, pusat kota. Realitanya adalah kebun singkong dan jenis tumbuhan ilalang lainnya. Bahkan di tengah perjalanan kami menjumpai sebuah danau cantik. Aku sempat merekamnya. 

Setelah mendekati Kemenag aku dan Fachri berhenti beberapa meter, mengingat file kami ada yang salah ketik. Dan di tempat ini tidak ada apapun termasuk tempat print. Maka kami putuskan untuk kembali lagi, menyusuri tiap lekuk sudut daerah Sukadana yang baru kali pertama ku singgahi. Hingga kian jauh jarak kami menjauh, tak ada satupun tempat print, warnet atau apalah yang bisa membantu kami. 

Ku putuskan untuk mengajaknya berhenti sejenak di pinggir jalan yang lengang. Kami duduk di trotoar, Alan sahabatku yang KKN  juga di kecamatan yang sama menghubungiku, mengatakan bahwa kami harus berhati-hati karna daerah yang kami sambangi rawan. Iya, rawan begal h3h3.

Tapi Fachri mengabaikannya, Alan bilang kami jangan bertanya pada siapapun. Fachri bilang kalau kami tidak bertanya, bagaimana pula kami sampai, sebab MAP kadang menipu. 

Setelah berbincang-bincang dengan Alan sejenak, kami memutuskan memeriksa kembali proposal kami. Dan hasilnyaa, criiiing... tampak tak ada kesalahan fatal di sana, dan Fachri menatapku marah. Mengatakan ejekannya seperti biasa. 

"Lan, kawan lu ini emang kosong" ia marah tapi tertawa-tawa, entahlah mungkin ia kesal tapi tak bisa marah karna aku wanita. 

Setelah menyadari proposal kami baik-baik saja, kami memutuskan kembali. Masuk ke dalam ruang Kemenag Lamtim, bertemu 3 ibu-ibu yang aku tidak tau bagiannya apa saja. Kesalnya, saat masuk ke dalam ruang aku tak melihat Fachri di belakang, dia berhenti tepat di depan ruangan dan membiarkanku masuk sendiri. Padahal selama perjalanan ia mengatakan akan berbicara tentang pengajuan proposal ini yang paling depan, ah kenyataannya. Aku tidak tau kata ejek yang tepat untuknya, biarkan saja dia memang menyebalkan. 

Selepas bicara dengan salah satu dari 3 ibu yang ku temui, aku keluar melihat Fachri yang nyengir bersandar di tembok, tidak menyadari kesalahannya. Tapi aku memang tak bisa marah, meski sudah niat, pasti hanya sebentar seperti yang sudah-sudah. Tidak hanya padanya, tapi kepada sebagian besar orang. Keseharianku berisik, aneh terasa ketika mendiamkan seseorang. 

Kami pulang dari Kemenag dengan arahan dari MAP yang membawa kami memutari Lampung Timur, hingga tak tau menau tiba di Kec. Sekampung. Entah sebuah kesalahan karna kejauhan, atau karna kebetulan di tempat tersebut ada lomba anak-anak TPA yang telah kami latih beberapa waktu terakhir. 

Aku mengajak Fachri melihat mereka berlomba, ada 4 jagoan yang ku kirim untuk mengikuti lomba tahfidz putra/i, tartil, dan pildacil. Mereka tampak hebat bagiku, usia mereka aku masih bermain congklak, meski mereka pulang tanpa piala dan hadiah. Akan ada kesempatan esok hari, ku katakan ke mereka sebelum berangkat pun bahwa kami tak mengharapkan mereka juara, kami menghargai usaha mereka, yang telah setiap hari datang ke posko untuk latihan bersama. 

Sebenarnya selepas dari Kemenag aku mengajak Fachri untuk mampir ke Posko Alan dan sudah mengatakan padanya, tapi karna yang kami temui adalah kecamtan terlebih dahulu maka kami membatalkan rencana kami. Hingga kembali sore hari, ikut menyelesaikan perlombaan, tapi Fachri tidak. Ia pulang lebih dulu, mengantar Indri yang sedang tidak enak badan.

Hampir 20 hari kami di sini, hari yang melelahkan, malam juga. Masih ada proposal dan poster yang mesti dikerjakan. Ini semua melelahkan, tapi di antara yang lelah masih ada yang berleha-leha.


Dalam sebuah kerja sama, pasti ada orang yang paling berat menanggung beban. Dan ada orang bangsat yang tidak mau terbebani. -Admin Yami 

Related Posts:

1 Response to "#KKN21"

  1. numpang promote ya min ^^
    Ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    ReplyDelete