Antologi Cerpen Naskah Tentang Hati : Cinta Diam-diam


Suara keyboard laptop yang tak sekencang mesin ketik mengalah pada riuh tawa dan kata, deretan meja dan kursi yang berhadapan, tumpukkan buku yang menjulang, ku duduk sendirian menatap ramai di pojok educafe ini. Tak dapat fokus sejak hadirnya alat musik yang disediakan, aku sudah sering ke tempat ini sejak pertama kali dibuka. Sejak suasana masih asyik-asyiknya tuk membenamkan diri pada lamunan.

Meski begitu setidaknya aku bisa menghindar dari semua orang atau bahkan sahabatku sendiri yang mengatakan hal sama. Bicara tentang bodohnya seorang mahasiswi berprestasi sepertiku, menyukai seseorang yang tidak ada kelebihannya. Mereka tidak pernah mengerti, bahwa cinta bukan soal nilai. Memang benar, dia bukan siapa-siapa sehingga tidak terlihat di fakultas kami, tidak tampan, tak ada satu hal pun yang dapat orang lain banggakan darinya. Tapi aku selalu senang bersamanya dengan sikap pendiamnya, melihat gaya bicaranya yang masih kental dengan logat daerah asalnya. Apa yang salah dari perasaan ini?

Aku memutuskan untuk menjalin hubungan diam-diam, sebuah komitmen yang diikrarkan hanya melalui pesan singkat tanpa ada saksi dan tamu undangan. Bagiku tak apa, selalu menyenangkan menatapnya di antara deretan wajah yang berjejer di atas kursi. Ikut tersenyum ketika ia tertawa bersama teman-temannya, terluka ketika dia dekat dengan yang lain. Ah, adakah cinta seperti itu dizaman seperti ini? Kenyataannya adalah aku dan ia, meski hubungan diam-diam ini bukanlah yang kami inginkan. Aku tidak pernah main-main dengan perasaanku, hingga mengabaikan banyak lelaki sebab hubungan diam-diam kami.

Deretan pesan tak henti-hentinya masuk dalam ponselku, ah siapa lagi kalau bukan Reni dan Tika sahabatku. Aku sedang menghindari mereka, mana ingin membalasnya. Aku hanya kesal, bukankah seorang sahabat harusnya saling mendukung atas kebahagiaan sahabatnya. Tapi mereka tidak melakukan hal yang sama, atau mungkin aku harus mempertimbangkan layak tidaknya predikat sahabat untuk mereka.

Reni bahkan setiap bertemu selalu mengungkit sisi buruk dari Rizal, pacar diam-diamku. Tika tidak melakukannya, meski iapun tak pernah mengatakan mendukung kedekatanku dan Rizal. Aku mulai jenuh mendengarkannya, kami satu jurusan dan bisa melihat gerak-gerik Rizal, aku bisa menilai sendiri.

“Coba tanyakan pada dirimu, apa yang membuatmu jatuh hati begitu dalam padanya?” Reni menatapku lekat

Aku diam mengingat, awal mula perasaan ini ada. Ospek hari pertama, tepat sebelum aku mengenal Reni dan Tika. Kami berbaris di lapangan kampus, aku sendirian hari itu dan tidak mengenal siapapun. Kakak senior yang tak lain adalah anak himpunan terus saja berteriak-teriak memaki kami bergiliran. Bajuku sudah basah oleh keringat dingin, aku juga tidak sarapan. Bukan karena tak ingat atau tak sempat, aku memang tak bisa sarapan pagi karena selalu sakit perut setelahnya. Tanpa sadar aku tersungkur ke tanah, tapi aku masih bisa mengingat dengan jelas bahwa Rizal di sana. Ia mendudukkanku di tempat yang teduh, memberiku minum dengan tersenyum hangat. Perasaan hadir sesederhana itu, apa yang salah dariku?

“Kamu terlalu banyak menonton FTV Dina, ayolah” Reni melanjutkan celotehnya setelah mendengar kalimatku.

“Dia juga menyukaiku, apa yang salah.”  Tatapku tak lagi seperti Dina biasanya, semua sudah terisi penuh oleh kekesalan yang ku tahan selama ini.

“Berhentilah Ren, itu tak akan merubah apapun” Aku berdiri melangkah.

“Din, kau berhak dapatkan yang lebih dari dia. Aku menyayangimu, aku dengar ia dekat dengan perempuan lain” Reni menahan langkahku.

“Aku juga menyayangimu Din, jika yang Reni sampaikan benar. Aku takut kamu terluka” Tika yang tak pernah bicarapun menimpali hari itu, hanya satu kalimat dan itu membuatku meneteskan air mata. Aku menghempaskan jemari Tika yang menahanku, mereka tidak pernah tau bahwa aku lebih baik terluka karna mencoba dibanding terluka karna tak pernah memilikinya.

Ini hari kedua aku mengabaikan mereka, biarlah saja. Aku harap mereka akan mengerti. Namun justru mereka tidak henti-hentinya menghubungiku, tika-tika-tika-tika-tika semua pesan dan panggilan darinya. Reni kemarin, hari ini tidak. Mungkin ia sedang merenung karna kalimat-kalimatnya setiap hari yang membuat sakit telinga juga hatiku. Ah, tapi tidak,lihatlah panggilan baru yang masuk Reni-Reni-Reni terus saja hingga ribuan detik berlalu.

“Iyaa” aku mengangkatnya malas

“Di mana kau?” Reni berteriak di sana

“Kamarku”

“Berisik sekali di kamarmu”

“Aku memutar musik”

“Kamu masih marah?”

“Tidak”

“Bohong”

“Tidak”

“Baiklah, aku sayang kamu Din. Rizal bukan yang terbaik untukmu, ingat itu”

Tutt---tuttt ... Ia memutus sambungan telpon kami dengan kalimat terakhir yang kalian tau bagaimana menyebalkannya. Aku merasa semakin kesal karnanya, bukankah aku pikir dia akan minta maaf karna menelponku berkali-kali. Maka ku putuskan untuk memesan satu porsi makan dan minum lagi, mungkin dapat mengurangi kekesalanku.

Lama sekali waitress menghidangkan pesanan, aku sudah kian kesal. Namun setelah 10 menit aku menunggu dengan berceloteh sendirian, makanan itu datang. Aku segera meraihnya tanpa ba-bi-bu bahkan sempat lupa berdoa namun segera ingat pada suapan kedua. Aku harap kekesalanku hilang dengan pergi ke tempat ini dan makan banyak. Namun kenyataaannya aku justru tambah kesal hingga rasanya jika tidak malu ingin teriak dan menangis. Jadi inilah alasan ia berceloteh hal buruk tentang Rizal setiap hari padaku, membuatku agar membencinya. Bertanya aku sedang di mana baru saja, tuk sekadar memastikan bahwa aku yang di kamar tidak akan melihat adegan mesra mereka berdua.

Reni dan Rizal, mengisi satu tempat duduk yang kosong di educafe ini seraya saling menggenggam jemari.


Related Posts:

0 Response to "Antologi Cerpen Naskah Tentang Hati : Cinta Diam-diam"

Post a Comment