Cerita Pendek: "Buku Harian Reyna"


Nyaring suara kami beradu dengan desau angin, berlomba-lomba bernyanyi paling keras seraya bergandengan di bawah pohon mangga tua yang hidup di sudut kanan lapangan sekolah dasar semasa itu. Sudah 20 tahun lalu, rasanya menyenangkan mengingat masa kecil di ruang kerja tuk menghilangkan penat.

Aku belum lama bekerja di tempat ini, rasanya orang-orang mulai memperhatikan tingkahku yang selalu menghadapkan diri pada kaca yang tembus keluar. Seperti pagi ini, tepat ketika aku sampai hujan langsung menyentuh kaca ruang kerjaku.

Aku memesan segelas cokelat hangat, menatap sesuatu di antara derai hujan. Aku mulai menyentuh bekunya udara melalui kaca, dingin sekali rasanya. Dari sini aku bisa leluasa melihat pemandangan. Ada koridor yang panjang, anak-anak kecil berlari tak peduli kilat yang menyambar, beberapa bunga yang ikhlas tertimpa hujan dan juga kenangan.

Aku melihat diriku di sana, melepas sepatu usangku dan menaruhnya sembarangan, berlari di antara gemercik hujan. Dari jauh dua sahabat kecilku mengikuti jejak langkahku yang membekas di tanah terisi hujan.

Belum lama ini sahabatku Romi melakukan hal yang sama seperti saat kami kecil dulu menarik lenganku dari ruang ini begitu saja, waktu itu romi datang tanpa permisi.

“Ayok... “ katanya dengan lirih

“Ke mana?” aku mengernyitkan dahi

“Sebentar saja” ia menyeretku tanpa memberi penjelasan

“Aku ambil payung dulu” kataku, seraya melepas genggamannya

“Tak usah” aku merelakan ia menggenggamku dan membuatku menyentuh air

“Rom, kamu gila yaa.” aku sempat ingin lari dari hadapannya ketika air semakin menyerap dalam tubuhku

“Vel, taukah? Aku bisa menciptakan cerita yang lebih hebat dibandingkan masa kecil kita.” Romi mendongakkan  wajahnya ke atas, menikmati hujan tanpa peduli aku yang ingin segera lari.

“Vel, aku mencintaimu seperti bumi yang selalu menanti hujan turun.” ia kembali menatapku seraya menggenggam erat tanganku. Aku sempat tak mampu berkutik dengan apa yang ia lakukan namun aku segera sadar dan melepas genggamannya.

“Rom, aku tak bisa.” aku berlari kecil meninggalkannya

“Vel, aku mencintaimu...” ia mengatakan lagi dengan lantang, untung saja sekolah sudah bubar. Anak-anak sudah pulang satu jam yang lalu hingga aku tak harus peduli deretan pasang mata yang akan mengintai di antara ruang. Hingga bisa saja reputasiku hancur di tempat kerja jika melihat pendidiknya hujan-hujanan bersama seorang laki-laki seperti sinetron-sinetron Indonesia.

**

Segelas cokelat hangat tiba tak begitu lama. Aku menggenggamnya, seraya ingin menatap kenanganku di luar sana lagi. Ah, tapi aku ingat. Bahwa aku ada jam mengajar, yaa aku adalah seorang guru di tempat aku bersekolah semasa SD dulu. Aku adalah seorang guru Bahasa Indonesia. Aku segera bangkit dan mengambil bahan tuk mengajar, berjalan santai di antara koridor yang ramai dengan celoteh riang. Mendekati pintu kelas semua murid berlari-lari mendahuluiku dan mencium tangan.

Selepas mengajar anak-anak lucu di kelas 2, aku kembali pada ruang kantor. Sudah waktunya untuk pulang, aku takkan berlama-lama hanya hendak mengambil tas dan kunci mobil. Baru saja langkahku tiba di ambang pintu, seseorang menatap dengan senyum khas di wajahnya bertengger di atas meja kerjaku.

“Vel, kamu tak pernah membiarkan aku tuk tahu kabarmu sedikitpun. Vel, aku tak ingin kehilangan siapapun lagi” ia mendekat ke arahku.

“Aku sibuk rom, kau tahu itukan.” Kilahku, lalu aku melaluinya begitu saja bergegas ke arah tasku.

“Vel, kita sudah dewasa.” Katanya

“Rom, nyatanya kau tak pernah bisa mengerti aku. Padahal kau yang paham mengapa aku begini.” aku pergi meninggalkannya begitu saja, yang beku di ruang kerjaku. Langkahnya tak berlari mengejarku, ia pasti mengerti bahwa mengejarku disaat seperti ini bukanlah pilihan yang tepat.

Aku sebenarnya mencintai Romi, sama seperti ia mencintaiku. Ia adalah cinta pertama bagiku, meski waktu itu aku terlalu kecil tuk memaknai sebuah rasa. Ia bahkan tak pernah mengecewakanku sedikit saja, selalu ada  dan menjagaku. Kami menghabiskan waktu bersama, bukan hanya ketika dewasa tapi sejak kami masih balita. Kami tumbuh bersama, tapi tak hanya berdua.

Rayna, adalah sahabat aku dan Romi. Wanita bermata sipit, dengan lesung pipi di sebelah kiri. Aku dan Rayna begitu berbeda, ia dan Romi sama extrovertnya. Merekalah yang selalu banyak bercerita ketika kami bersama lalu setelahnya selalu tertawa. Ia selalu tampak ceria, hingga aku dan Romi tak pernah menyadari ia menutupi segalanya. Tepat satu tahun lalu, ia menghembuskan napas terakhirnya. Aku hancur bukan main, bertahun-tahun bersahabat, bahkan ternyata aku tak mengenalnya sedikit saja.

Ia menderita complex regional pain syndrom, sebuah penyakit yang membuatnya merasakan sakit luar biasa. CRPS disebabkan oleh kerusakan sistem sarat pusat di otak, penyakit ini begitu menyikasi meski ia mencoba menyembunyikan dengan tawa garingnya, bersama perasaannya untuk Romi. Ah, aku harusnya sadar kenapa wajahnya selalu tersipu setiap kali Romi dekat dengannya. Aku menyesali tak pernah mengerti bahasa tubuhnya ketika aku bercerita tentang Romi sejak awal masa kuliah yang menginginkan aku menjadi kekasihnya.

Selepas ia dimakamkan, aku tersedu-sedu dalam kamarnya. Tak sengaja membaca sebuah catatan hariannya. Jadi ini teman curhatnya, sebuah kertas putih yang tak akan memberikannya tanggapan apapun selain menyimpan semua keluhnya dengan baik. Rayna, ternyata lebih memilih sebuah kertas dibandingkan diriku. Aku mengutuk diriku sendiri hari itu sembari membaca coretan tangannya.

Lembar Pertama Rayna.

Entah sejak kapan perasaan itu ada, aku tak pernah tau. Yang jelas adalah aku tak bisa memalingkan diri dari senyumnya.

Tuhan, apa aku berdosa ya mencintai sahabatku sendiri ?

Tuhan, tak bisakah aku mencintai yang lain saja ?

Aku tak pernah bisa menghentikan rindu yang kian menggebu, padahal kami baru saja bertemu. Aku mencintainya sedalam ini, melupakan satu hal terpenting dalam hidupku.

Tuhan, Romi adalah sahabatku dan aku mencintainya.

 

Lembar Kedua Rayna

Seperti biasa, kami berjanji tuk bertemu. Sesekali aku ingin pergi berdua dengan Romi saja. Tidak, tidak ada maksud menginginkan Veliza menghilang. Aku menyayangi Veliza juga, tapi perasaan ini tak bisa dilarang. Diam-diam aku ingin menggenggam tangannya, mengatakan sedalam apa aku mencintainya.

 

Lembar Ketiga Rayna

Diagnosa dokter tentang kesehatanku ternyata benar. Hari ini aku tak bisa apa-apa selain terbaring di atas kasur, lemah sekali rasanya. Veliza siang tadi datang, aku baru saja ingin menceritakan segalanya tentang penyakit ini dan perasaanku. Paling tidak sebelum aku mati, aku ingin ada yang tahu bahwa aku pernah jatuh hati. Namun semuanya ku urungkan, Veliza berbunga-bunga sekali, ternyata sebab mentari yang sama yang menerangiku selama ini.

Hem.. mengapa duniaku menjadi begitu pekat seketika ya.

 

Air mataku menganak tak hentinya, tak kuasa melanjutkan lembar demi lembarnya. Aku berlari keluar kamar Rayna, di ruang tamu masih ada keluarga Ray dan juga Romi. Niat awal tuk berpura-pura pulang karena lelahpun tak mampu ku sampaikan, selain berlari dari buku harian itu. Rayna, ternyata aku yang menyiksamu selama ini? Ray, apakah aku yang membuatmu mati secepat ini? Aku membentur-benturkan kepalaku pada stir mobil, ku kunci dari dalam. Sedang Romi mengetuk-ngetuk dari luar aku abaikan. Sejak saat itu, meskipun aku mencintai Romi begitu dalamnya. Semuanya ku biarkan berhenti, aku tak ingin menyakiti Rayna lebih jauh meski ia tak lagi di dunia ini.

Hari ini adalah jadwalku bertemu dengan Rayna, aku rindu sekali dengannya. Sejak ia pergi tak ada orang yang mampu menggantikan posisinya dihidupku. Tawa riangnya, senyum simpul di wajahnya, celoteh singkat yang membuatku tertawa hingga menangis. Rayna, mengapa kamu tak mengatakan saja, mengapa kamu membuatku berdosa begini. Ah, aku masih saja menyesali semuanya. Padahal mungkin Rayna sudah bahagia di sana.

Aku menghentikan mobilku setelah sampai di parkiran pemakaman, aku harus berjalan melewati beberapa kuburan. Tampak kuburan baru yang tanahnya masih basah, dikelilingi keluarga yang menangis menatap lekat nisan kuburan tersebut. Kita tak pernah tahu umur memang, mungkin saja aku bisa mati sebelum sampai ke rumah bertemu keluargaku. Kematian begitu meninggalkan luka, aku merasakan itu. Kepergian Rayna adalah luka terbaik yang aku rasakan selama hidupku. Setelah melewati jalan berliku yang menjadi rute pemakaman, tinggal beberapa langkah lagi aku akan bertemu Rayna. Ah, itu dia Rayna di sana tapi siapa yang sedang mengunjunginya.

“Romi.” Aku menghentikan aktivitasnya yang sedang berdoa.

“Jadi kamu yang selalu mendahuluiku bertemu Rayna, menaburkan bunga di atas kuburannya?” kalimatku justru dibalas senyum hangatnya.

“Vel, kamu baru pulang bekerja?” katanya

“Kamu tak menjawab kalimatku Rom.” Aku duduk di sebelahnya, menyentuh nisan Rayna.

“Hmm, Rayna. Aku datang, aku rindu sekali padamu. Sudah berapa lama ya kamu pergi, Ray tak ada yang sepertimu di sini. Yang bisa membuatku tertawa sambil menangis. Ray, aku rindu sekali, ah aku mengatakannya lagi.” Aku mengungkapkan kerinduanku, mengabaikan Romi di sampingku. Tak sadar air mataku menetes jatuh ke tanah.

“Rayna, Veliza marah padaku setelah kamu pergi. Ray, padahal aku juga rindu kamu. Tapi entah kenapa Veliza menyalahkanku ya.” Tiba-tiba Romi ikut berbicara pada Rayna.

“Romi kamu tidak harusnya bicara begitu pada Rayna.” Aku menanggapi.

“Kau liatkan Ray, bagaimana sikap Veliza padaku? Ia sama sekali tak berlaku baik padaku seperti yang kamu minta.” Aku langsung terperangah dengan kalimatnya, membiarkan ia melanjutkan.

“Kenapa?” ia justru menatapku.

“Kamu tidak percaya bukan Rayna memintaku begitu?” sambungnya.

“Kapan kau bicara dengan Rayna?” aku balik bertanya.

“Ini.” Ia memperlihatkan buku Rayna padaku, seketika aku hanya bisa diam. Buku yang sempat aku baca, buku yang membuat hatiku teriris dan merasa berdosa.

“Kau harus baca sendiri Vel, kau tak harusnya menjauhiku. Vel, perasaan itu fitrah dan ini bukan salah kita. Kamu dan aku bukanlah Tuhan yang bisa mengatur semua sesuai kehendak kita. Jika saja aku tahu Rayna mencintaiku, aku tak akan membiarkan di antara kalian terluka. Aku akan memilih menahan, seperti yang Rayna lakukan. Karena sahabat lebih penting, bukan?” Ia menatapku lekat.

“Bacalah, kau perlu menyelesaikan apa yang kau mulai.” Ia menyerahkan buku harian Rayna padaku.

Tanganku gemetar tak karuan ketika memulai membuka buku itu lagi, tuk kedua kalinya. Ku sentuh lembut, kata bertuliskan RAYNA pada sampulnya.

Lembar ke empat Rayna

Jika aku punya waktu banyak, mungkin persahabatan aku, veliz dan Romi akan rusak ya. Sebab aku tak bisa menahan semuanya lagi. Perasaanku pada Romi tiap harinya kian tumbuh meski perhatiannya jauh lebih banyak untuk Veliza. Aku sakit, bukan hanya tubuhku tapi hatiku. Tapi Tuhan itu selalu maha adil, itu mengapa aku harus pergi.

Lembar ke lima Rayna

Penyakitku sudah kian parah, tak ada satu orangpun yang tau kecuali dokter yang menanganiku. Aku ingin bilang, tapi tak ingin menyusahkan. Tapi itu tak mungkin, kalau keluargaku dan sahabatku tau pasti mereka akan sibuk denganku. Menghabiskan waktunya untuk merawat orang sakit sepertiku, ah aku tak ingin membuat mereka susah.

Aku percaya, jika memang yang terbaik adalah hidup maka aku akan bisa bersama mereka dalam waktu yang lama

Lembar ke enam Rayna

Aku bosan sekali bertemu dokter, ah ia sudah tua. Jika saja dokternya muda dan tampan, mungkin aku bisa lupa bukan hanya pada rasa sakit di tubuhku tapi juga di hatiku. Dokter bilang umurku tak lama lagi, ini waktu yang tepat sepertinya mengungkapkan segala.

Lembar ke tujuh Rayna

Untuk ayah dan ibu, aku minta maaf belum sempat merealisasikan mimpi-mimpi kalian. Aku belum bisa berbakti dengan baik. Juga untuk Veliza dan Romi, kalian adalah teman terbaikku selama hidup. Entah berapa lama lagi aku bisa menulis, yang jelas ini adalah kesempatan berharga bagiku.

Kemarin sore, ketika kita bersama-sama pergi ke toko buku aku ingin bicara tapi perpustakaan bukanlah tempat yang tepat bukan. Kita dilarang bicara di sana, selepas pulang dari sana aku pikir aku punya kesempatan ketika kita makan, aku ingin mengungkapkan semuanya. Aku sudah menyiapkan diri untuk mengatakan bahwa aku menyukai Romi dan minta maaf pada Veli bahwa aku menghianati perasaannya. Aku ingin bilang, aku sakit dan tak bisa bersama kalian lagi. Aku ingin bilang aku lelah dengan semua ini.

Tapi saat aku sadar kembali, kenapa aku justru ada di rumah sakit ini. Melihat kalian berdua duduk hingga tertidur menungguiku di samping kanan dan kiriku. Ini membuatku semakin terluka, tuk pergi selamanya. Aku sayang kalian, aku tak akan bilang apapun lagi. Yang aku ingin adalah Veli dan Romi bersama, menjadi sepasang kekasih sebab dulu pernah menjadi sahabat. Bukan hanya berdua, tapi denganku juga. Aku ingin suatu ketika kalian menatap langit-langit yang ditenggelamkan senja lalu mengatakan ...

“Rayna, sedang tersenyum di sana melihat kita bahagia.”

Badanku lemas sekali selepas membaca buku harian Rayna, aku tersungkur di atas nisannya. Ku biarkan diri menangis sejadi-jadinya. Sedang Romi membiarkanku, tak lama ia mengelus kepalaku.

“Vel, kau lihat di ujung langit sana. Ada senja, Rayna sedang tersenyum. Kamu tak bahagia melihatnya?” ia membuatku mengangkat kepala, menghapus segala air mata lalu ikut tersenyum melihat senyumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 


Related Posts:

0 Response to "Cerita Pendek: "Buku Harian Reyna""

Post a Comment